Minggu, 28 Mei 2017

Mencintai Nulis Boleh, tapi Membenci Riset, Jangan!

Sumber: writing.com
Enaknya, kalau orang sedang menulis itu, menuliskan apa yang telah dirasakan dan punya pengalaman sebelumnya, terus memberi solusi atas pengalaman tersebut. Kalau lebih beruntung, bisa berkunjung ke tempat wisata, restoran, terus menuliskan hasil reportasenya. Gampang 'kan 

Tapi, tulisan yang punya keutamaan--alias tulisan-tulisan yang berkualitas, adalah karya yang dihasilkan setelah melewati tahapan-tahapan yang bernama riset. Artinya, kita dituntut untuk membaca artikel-artikel yang terhampar di berbagai sumber, yang berkaitan dengan itu. Berarti, nggak bakalan cukup kalau kita sekadar melahap bacaan, lalu ditulis ala kadarnya, bukan?

Ya, seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini. Tiada hari tanpa riset. Kalau cuma mengandalkan pengalaman, apa mungkin tulisan-tulisan saya akan lebih bermutu? Belum tentu! Bahkan, harus dilakukan oleh seorang penulis maupun blogger, meskipun yang diriset adalah hal-hal yang "dibenci". Misalnya saja, tentang Vlog, padahal saya jarang menonton video di laptop pribadiku, malah saya nonton Vlog di televisi. Biasa, menghemat kuota paket saya, hehe :D

Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan, tentu saja biar isi tulisan kita nggak "ngasal" (ah, kayak waktu mengerjakan ulangan di sekolah), dan kita tidak dianggap sebagai pribadi sok tahu, merasa pendapat kita yang paling benar. Selain itu, agar tulisan yang akan dipublikasikan nanti, bisa dipercaya oleh para pembacanya.

Makanya, kalau ingin jadi penulis yang baik, janganlah terlalu sombong dan membanggakan diri, apalagi sampai menolak untuk menerima saran dan kritikan dari pembacanya, meskipun dalam hal-hal kecil seperti materi dan penulisan yang kurang tepat. Bukankah lewat kesalahan dan kekurangan dalam menulis, kita justru ditempa menjadi penulis yang karya-karyanya "berkembang"?

Duuh, rasanya, demi mencapai kesempurnaan, saya harus lebih siap untuk menyiapkan materi, dan berhati-hati dalam menulis nih....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 14 Mei 2017

Mengedit Foto, Cara Terbaik Mempermanis Ilustrasi Tulisan

Selain menulis, salah satu aktivitas sering saya lakoni adalah mengedit foto. Yup, memang dari zaman SMA saya sudah menyukai kegiatan yang satu ini. Kalau dari awal-awal yang diedit adalah foto diriku sendiri dan teman-teman di sekolah, serta kartun hewan dan animasi muslimah, sekarang malah merembet ke hal-hal lain, dari buku-buku bahkan kegiatan reportase seperti makan-makan di KFC! :D

Soalnya, walaupun saya tidak berarti membenci menyisipkan foto apa adanya, namun kalau ngedit foto, hasil gambarnya akan lebih menarik dan nggak ngebosenin. Selain itu, tentu saja biar nggak memperlihatkan hal-hal yang melanggar aturan dan syari'at. Ya, seperti yang saya alami ketika menghadapi masalah menentukan ilustrasi foto untuk lomba blog, yang pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan collage biar ilustrasinya menarik dan bisa dipertegas lagi!

Salah satu ilustrasi tulisan untuk lomba blog

Nah, mengapa saya suka mengedit foto? Karena saya suka gambar, dan tentunya saya lebih menginginkan gambar jadi lebih berkesan untuk melengkapi sebuah tulisan. Kurasa, ada benarnya deh, jika dihubungkan dengan potensi kecerdasan, kecerdasanku di bidang visual-spasial lumayan, tapi nggak menonjol. Coba aja kalau punya kecerdasan visual lebih, selangkah lagi saya bisa berkarya di bidang desain visual dan grafis!

Oh ya, dalam mengedit foto, jika menggunakan apilkasi komputer, saya biasanya pakai Photoscape, kadang pakai  aplikasi bawaan dari Windows, Paint. Mengapa saya tak pakai Photoshop? Karena menurutku penggunaannya ribet, dan aplikasinya juga lumayan rumit!

Kalau di web, saya pernah pakai Muzy.com untuk mengedit kartun muslimah dan gambar berisikan ayat-ayat Qur'an, tapi semenjak jadi aplikasi di Android, saya malas menggunakannya. Kalau ngedit di hapeku, pasti berat kalau nginstal, hehe :D

Selain di Muzy.com, saya juga ngedit foto di photofacefun.com, pizap.com, dan masih banyak lagi aplikasi web yang saya lupa alamatnya apa. Dari sekian banyak foto-foto yang saya edit, salah satunya dibingkai dan disimpan di dalam kamarku, dan kebanyakan diantaranya tersimpan di hardisk lamaku, belum sempat dipindah ke laptop baruku. Jadi, dengan banyak foto-foto tersebut, 'kan jadi banyak varian untuk mempercantik isi tulisan!

Oleh karena itu, kalau belum terbiasa, yuk, edit foto-foto kalian, sesuka hatimu. Manfaatkan fasilitas edit foto yang telah tersedia. Tentu saja, foto yang bisa memberi manfaat untuk melengkapi artikel sekalian untuk memunculkan gagasan tulisanmu lewat gambar jepretan kamera tersebut, bukan sekadar foto-foto selfie lebay dan pamer diri kalian yang berlebihan, yang mungkin saja akan membawa bahaya bagi kehidupanmu kelak!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 12 Mei 2017

Mengapa Blogku Ada Dua dan Ditulis Terpisah?

 
Oke, saya tegaskan lagi, mengapa saya punya dua blog, bukan satu biar mudah diurusi? Atau jika ada pertanyaan yang ditujukan kepadaku, seperti ini:

"Kamu menulis di Kompasiana terus, kapan nulis di blog kamu sendiri?"

"Aduuuh, sepi bacanya, sebaiknya jangan buat blog sendiri!"

Hmmm, iya juga sih, tapi bagiku tentu ada alasan tertentu. Seperti yang saya tulis di awal-awal punya blog pribadi, saya memutuskan untuk membuat blog sendiri karena saya tinggal di daerah pedalaman yang tidak dikenal, hehe :D Kabupaten tempat tinggalku saja termasuk land lock, tak terhubung dengan laut, apalagi kota kecil dekat rumahku!

Memang, di mana-mana selalu ada ide tulisan yang terlintas di kepalaku. Inspirasinya, siapa yang tahu? Siapapun dan obyek apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Tapi karena alasan tema dan kualitas tulisan, makanya artikel-artikel saya, harus ditentukan, mana yang layak diunggah di Kompasiana atau di blog pribadiku. Terlebih lagi saya sudah memegang verifikasi biru, jadi saya tidak sembarangan lagi untuk menulis di platform blog sosial tersebut!

Oke, saya fokus ke tema. Memiliki dua hal yang berbeda antara passion dan bidang yang saya tekuni, belum lagi hal-hal lainnya yang dijelaskan untuk kalangan khusus, membuatku harus menulis artikel di dua blog yang tentunya terpisah. Mengapa demikian?

Sebab, blog pribadiku, yang beralamat dewiwiddie.blogspot.com ini lebih menyajikan hal-hal kedaerahan, keislaman, dan tentunya di dunia kepustakaan. Misalnya, bedah buku bersama penulis lokal, bazar buku murah, resensi buku (utamakan yang jarang ditulis) dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk akun blog kompasiana.com/dewiwiddie , awalnya dua tahun lalu saya belajar menulis di blog tersebut. Namun, saya slogan blognya berganti jadi Beyond Blogging, saya memutuskan untuk menulis yang "lebih serius" dan sangat berhati-hati. Makanya, saya berfokus pada passion saya, yaitu media dan psikologi. Kadang saya menulis puisi dan artikel tentang kehidupan sekolah.

Terus, jika saya ikutan lomba? Ya saya biasanya ikutan lomba jika ada tema yang bisa saya tulis. Kadang harus tayang di akun Kompasiana saya, kadang di blog pribadi. Bulan Maret lalu, saya mendapatkan undangan dari salah satu situs belanja online via e-mail. Dan, salah satu kententuannya, ya harus mem-posting tulisannya lewat blog pribadi. Alhamdulillah, untung saya lebih dulu punya!

Salah satu tulisan lomba yang ditayangkan di blog pribadi.


Ya, terlepas dari apapun itu, idealnya saya tetap untuk belajar menulis,  tak peduli di manapun blog yang saya punya. Belajar merangkaikan kata-kata untuk disampaikan kepada pembaca. Bukankah semakin berlatih akan semakin lancar untuk menulis. Jadi bukan soal punya atau tidak bakat menulis--karena bakat adalah anugerah tersendiri--namun bagaiamana untuk mengabadikan yang terbaik lewat karya (bagiku yang penting nggak melanggar syariat), dan ber-azzam untuk tetap berbagi ^_^

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

 

Kamis, 11 Mei 2017

Mengintip Bazar Buku Murah di Perpusda Metro

Sebenarnya,saat bazar buku yang diadakan di Perpusda Metro tersebut dibuka tanggal 8 Mei, saya malah terlalu fokus ke KFC untuk me-review menu terbaru untuk keperluan lomba blog. Jadi, ke Perpusda akhirnya terlupakan. Nyesel deh jadinya. Padahal jarak KFC ke Perpusda deket lho, nggak nyampe 100 meter, saya sudah sampai di sana!

Bersuyukurlah situs berita Jejamo.com memberitakan tentang event tersebut. Ya, sudah lama sekali bazar buku murah tak hadir di kota Metro. Di awal-awal tahun 2016 kalau nggak salah, sempat diadakan, namun setelah itu tak ada lagi para pedagang yang mau menjual buku-buku dengan harga murah. Apalagi ditambah ada kabar kalau Gramedia tidak mengadakan bazar bukunya di Bandar Lampung, melainkan di Pringsewu yang jauh dari rumahku. Yahhh...

Ya, saya baru tahu dari kemarin. Setelah tahu kabar tersebut, langsung saya bergegas ke Metro lagi! Di tengah perjalanan, saya sempat kepikiran, apakah bazar buku masih buka atau sudah tutup? Pasalnya, tak seperti bazar yang dulu-dulu, di bazar kali ini tak ada poster pemberitahuan yang dipasang di pohon-pohon atau tiang-tiang di pusat kota!

Dan, sesampainya di terminal kota, saya berjalan kaki menuju Perpusda. Ternyata, bazar bukunya masih buka! Saya lihat, ada beberapa pelajar yang sibuk memilh buku-bukunya. Ada juga mahasiswa, juga masyarakat umum yang mencarikan bahan bacaan untuk kehidupan mereka.

Di bazar buku kali ini, ada ratusan buku-buku yang beragam sesuai bidangnya. Mulai dari novel, keislaman, kesehatan, kamus, biografi, parenting, juga komik. Ada juga satu buku yang saya lihat, ditulis dalam bahasa Inggris (waah, buku bagus bagi yang suka tantangan baca buku asing, haha :D) Sayangnya, buku anak-anak malah ludes lebih dulu. Dan kata penjualnya, ya dari awal sudah diserbu, dan belum akan didatangkan kembali.


Ya, walaupun buku-buku lama, toh tak mengurangi antusias mereka untuk berburu buku murah. Karena, yang namanya buku pasti mengandung sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya, saya malah kesulitan mencari buku-buku berfaedah sesuai minatku, terlebih lagi buku-buku sebagai referensi dan inspirasi menulisku. Dan pada akhirnya saya membeli dua buku yang semoga aja akan berguna dihidupku kedepannya, aamiiin...

Oh ya, sama seperti bazar buku di Perpusda sebelumnya, kesemua buku-buku tersebut, dikelompokkan terus digantung harga bukunya pakai tali, dari atas tenda, seperti yang terlihat di foto-foto ini:

Tapi, ada yang berbeda dari segi penyelenggaraannnya. Jika penyelenggaraan bazar buku di Perpusda Metro adalah agency, kali ini penjual buku yang bernama Azril inilah yang akan menggelar bazar buku murahnya. Dan demi misinya untuk meningkatkan minat baca, beliau sampai berkeliling, berkunjung ke kota-kota di provinsi lain, lho!

Azril, sang penjual bazar buku di Perpusda
Saya tanya ke beliau, sampai kapan bazar buku ini dibuka? Beliau jawab bahwa bazar buku akan dibuka sampai sebulan ke depan. Jadi, jangan khawatir jika takut bazar buku akan tutup, ya!

Nah, jika kalian punya waktu luang, apalagi di hari libur seperti sekarang ini, ayo, ajak keluarga, sahabat, atau pasangan ke bazar buku di Perpusda! Diharapkan, semoga buku-buku murah yang dipamerkan akan mengantar negara kita menjadi lebih maju. Salam literasi!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi! ^_^

Kamis, 23 Maret 2017

Desi, “Malaikat Penolong” yang Menjelma Menjadi Sahabatku

Maret 23, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Aku dan sahabatku, Desi, saat hari Kartini tahun 2013/ dok @delizaliana dengan editan dari penulis

Hari-hari saat aku bersamamu sahabat
Telah lama waktu yang kita lewati bersama
Ku sadari, masa itu, masa-masa terindah
Dalam sukaku dalam dukaku, engkau selalu ada

(Sahabat – Ali Sastra)

Mendengar lagu nasyid di atas, membawaku pada kenangan bersama sahabat yang kusayangi. Tidak hanya di dalam memori benakku, aku juga berkali-kali memandang foto pernikahan sahabatku yang telah terbingkai, terpajang di dalam kamarku. Saking rindunya pada sahabatku, sampai terbawa ke alam mimpi, bertemu di sebuah angkot!

Duuh, sungguh, aku rindu berat padaku, wahai sahabatku....

Oh ya, sosok sahabat yang kurindukan, yang paling dikagumi seumur hidupku adalah dia yang selalu menemaniku di setiap langkahku, dalam suka dan dukaku. Dia jugalah yang berhasil membangkitkanku untuk terus bertahan menjalani kehidupan awal sekolah yang menurutku, kisah yang sangat menyakitkan, dan meloloskanku masuk jurusan yang telah kuimpikan sejak lama.

Desi, begitulah nama sahabatku. Dia adalah seorang wanita, dari desa di pinggiran kecamatan tempat kediamanku berada. Desa tersebut, yang dimana tempat sahabatku ini berasal, juga dilewati sebuah dam, dimana sungai-sungai besar mengalir dan menyalurkan irigasi, ke sawah-sawah para petani.

Aku telah mengenal sahabatku justru dimana kami ditakdirkan untuk menjadi teman sekelas, X.4. Sebenarnya, kami bertemu pertama kalinya saat kami sama-sama bersekolah di sebuah SMP Negeri, namun hanya sebatas obrolan saja. Di kelas sepuluh di sebuah SMA Negeri itulah, aku mulai mengenalnya lebih dalam, dan menjadi teman baginya. Dari sebuah sekolah jugalah, cerita persahabatan kami bermula.

TEMAN YANG BERHASIL MEMBANGKITKAN KEHIDUPAN AWAL SEKOLAHKU

Ingatkah saat ku terpuruk di sini,
Kaulah yang selalu di sisiku
Terima kasih telah menjadi bagian yang berarti 'tuk persahabatan kiiitaaa....

Potongan lirik nasyid di atas, mengingatkanku dengan suatu peristiwa di hidupku. Saat itu, bulan November tahun 2011, saat itulah diriku memiliki akun Facebook untuk pertama kalinya. Aku mulai menambah teman-teman yang pernah kutemui semasa sekolah, juga eksis lewat status-status yang ku tulis. Namun, apa daya, di bulan yang sama, aku justru ditimpa takdir yang buruk. Saat itu aku dipaksa duduk belakang, terlebih lagi sendirian. Aku pun langsung menangis, lalu menumpakan perasaanku di Facebook. Akibatnya bisa ditebak, aku dimusuhi hampir semua teman sekelas!

Tapi, tidak demikian dengan sahabatku, Desi. Dia memang dikirimkan Tuhan untuk menjadi “malaikat penolong” untukku. Seingatku, dia mengirimkan pesan singkat di handphone-ku, untuk menyemangati diriku yang sedang terpuruk.  Setelah masalahku berlalu, akhirnya diriku duduk, sebangku dengannya!

Tidak hanya itu, berkat keberadaannya, aku bisa bertahan dari kehidupan kelas sepuluh yang bagiku, bagaikan di dalam neraka. Bagaimana tidak, di kelas itu, ada sekelompok siswi yang membuatku takut, karena mereka mengejek diriku dan menyakitiku, bahkan tidak suka akan keberadaanku. Akhirnya, saat kenaikan kelas, aku bisa terbebas dari ujian hidup yang tidak menyenangkan itu, dan aku bisa masuk ke kelas yang kuidamkan, jurusan IPA!

RAGAKU DI IPA 3, TAPI HATIKU DI IPA 1

Di tahun kedua dimana aku bersekolah, aku mendapati Desi tidak bersamaku lagi dalam satu kelas. Memang, dia telah berkumpul dengan teman-teman barunya, di XI IPA 1. Sedangkan, diriku, dan teman-teman lainnya, merintis sebuah komunitas baru, XI IPA 3, dimana kami adalah generasi perdananya.

Akan tetapi, walaupun diriku telah dikelilingi oleh teman-teman sekelasku, tetap saja, kebaikan sahabatku tidak akan tergantikan dalam hidupku. Bersyukur, aku dipertemukan dengan mereka yang baik, walaupun mereka sebenarnya tidak begitu akrab denganku.

Karena itulah, sewaktu aku aktif di organiasi KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), aku mengajak Desi dan seorang teman lainnya di IPA 1, membentuk sebuah kelompok tersendiri. Di balik keakraban kami bertiga, kami sebenarnya memiliki ambisi tersendiri: mengumpulkan piagam, sebagai tiket untuk melanjutkan kuliah!

Maka, kami pun memutar otak untuk mewujudkan impian kami, di antaranya, mengikuti lomba inovasi teknologi dan karya ilmiah di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan sampai lomba yang diselenggarakan oleh LIPI pun kami meniatkan diri untuk ikut serta. Beruntung, kekurangan diriku dalam presentasi, ditutupi oleh kedua sahabatku yang memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik. Bahkan, keterampilan berpikir yang sering aku lakukan, mencari ide untuk karya ilmiah kami, tidak disangka bisa bermanfaat bagiku di masa depan; berguna saat aku menulis kreatif di platform blog!

Tidak hanya saat berada dalam organisasi KIR, di kehidupan sekolah pun kami bertiga berteman akrab. Bahkan, kami sering mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, di rumah kerabat Desi. Ya, hatiku memang dekat dengan IPA 1 ketimbang kelasku sendiri. Sampai kenaikan kelas pun, ketika aku keluar kelas dan mengambil suatu dokumen, diriku sedang bersama dengan kedua temanku di kelas tersebut, bukan teman-teman sekelasku.

KELAS TINGKAT AKHIR, BERKUMPUL JADI SATU KELUARGA

Bersama teman-teman kelas XII IPA 1/ dok. Dupasat dengan editan dari penulis

Ketika kami naik ke kelas XII dan bertemu dengan hari pertama sekolah, kami diacak dan menempati kelas yang telah disediakan. Alhamdulillah, aku dipertemukan lagi dengan Desi di kelas XII IPA 1! Terlebih lagi, aku diterima oleh teman-teman sekelasku yang baik hati, diperlakukan layaknya anggota, menjadi satu keluarga besar!

Pada saat itu pula, kami berdua bersama teman di kelas sebelah, melanjutkan proyek lama yang sedang kami rintis sewaktu kelas XI; mengikuti lomba karya ilmiah. Sayangnya, kami hanya mendapatkan sedikit piagam penghargaan, dan karya kami belum lolos ke babak selanjutnya. Bandingkan, ketika diriku bersama tiga teman lain, dimana kami meraih juara 1 lomba karya ilmiah se-Kabupaten berlambang tugu Pepadun dan Kopiah Emas itu!

Tahun 2014, karena kami lebih fokus ke UN dan persiapan untuk melanjutkan kuliah, akhirnya kegiatan penelitian kami harus berakhir. Walaupun demikian, hubungan pertemanan kami tidak memudar begitu saja. Sebaliknya, aku dan Desi bisa berbahagia bersama teman-teman lainnya dalam satu kelas, tentunya dengan beragam cerita yang tidak bisa dijelaskan satu per satu.

MENGAPA DIRIKU BEGITU MENYAYANGI SAHABATKU?

Sebagai seorang introvert, menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain tidaklah mudah, karena si innie sulit untuk berbaur dengan orang lain secara akrab. Ketika dia berhasil menemukan teman yang cocok, dia akan bersikap setia kepada temannya, seumur hidup!

Begitu pun ketika aku berhasil menemukan sahabat sejatiku, Desi. Melihat sikap sahabatku yang satu ini, sudah pasti membuat hatiku luluh, dan menjadi teman akrab untuk selamanya. Mengapa diriku begitu menyayanginya?

1. Selalu Tersenyum, Kalem, dan Ramah
Ketika bertemu dengan orang lain, dia selalu menyebarkan senyuman pada semua orang. Tidak hanya itu, dia juga bersiap kalem dan ramah. Pantas, dia mempunyai banyak teman, bahkan sahabat. Pastinya, dia selalu bahagia karena banyak teman yang menyertainya, dan tidak akan kesepian.

2. Rela Berkorban
Sahabatku yang satu ini bukanlah tipe yang egois. Sebaliknya, dia rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Ya, seperti yang aku lihat, ketika Desi membatalkan niatnya untuk kuliah dan lebih memilih bekerja di Tanoh Menggalo itu. Dia berpikir ke depannya, tentang nasib ketiga adiknya yang masih bersekolah, sehingga di masa depan mereka tidak bernasib seperti dirinya. Nah, keputusan yang diambilnya itulah yang sempat membuatku menangis. Tapi, aku yakin, Tuhan telah memberi jalan yang terbaik untuknya.

3. Bersedia Menyemangati Ketika Sedang Terpuruk, dan Saling Berbagi
Desi memang sahabat yang aku banggakan. Bagaimana tidak, jarang teman yang mengerti keadaanku, suka maupun duka. Di saat aku terjatuh dan sedih, dia selalu menyemangatiku, seperti yang telah saya jelaskan dalam kisah awal sekolahku di atas. Bahkan, ketika aku curhat tentang sesuatu, dia selalu memberi solusi. Termasuk, ketika aku mengeluh tentang ketiadaan inspirasi untuk menulis di blog setelah melihat inovasi barunya, dia selalu menasihatiku: "Sudahlah sobat... pelan-pelan... jangan sedih..."

Tapi, bukan berarti aku selalu memanfaatkan dia, kok. Kami punya kepentingannya sendiri-sendiri. Bahkan, ketika Desi harus mempelajari keterampilan komputer untuk pekerjaannya yang sekarang, dia pernah meminta bantuanku, yang akhirnya aku memberi solusi. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan, bukan?

4. Selalu Memaafkan Jika Temannya Melakukan Kesalahan
Jika seseorang melakukan kesalahan, sahabat yang baik tidaklah memutuskan persahabatan itu, bahkan selalu membukakan pintu maaf untuknya. Ya, seperti itulah Desi. Kadang, walaupun aku berkata sembarangan ketika berbicara hal-hal tertentu, dia tidaklah marah. Justru dia memaafkanku ketika aku melakukan kesalahan saat berbicara. Duuuh, betapa indahnya sikap yang seperti itu!

5. Mengajak pada Keimanan dan Kebaikan
Satu hal yang membuatku semakin mengagumi Desi adalah dia memang sahabat yang mengajakku dalam kebaikan dan keimanan pada Allah. Buktinya, saat teman-teman sekelas kami memilih pulang, Desi justru mengajakku masuk ke masjid sekolah, mengikuti ekskul ROHIS.

Dan tidak hanya itu, dia juga mengirimkan pesan singkat padaku yang berisi jadwal kajian di Asrama Haji, Pesantren, yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan. Apalagi kalau dia sekarang menjalankan ibadah sunnah, termasuk puasa Senin-Kamis. Subhanallaaah, aku tambah senang sekali bersahabat dengannya, persahabatan dalam iman. Kapan ya, aku bisa seperti dia, sehingga diriku menjadi muslimah seutuhnya ?

Semoga kita kelak dipertemukan dalam surgaNya ya sayaaaang.... :)

BUKU, HADIAH YANG PANTAS UNTUK SAHABATKU TERSAYANG

Akhir tahun 2016 lalu, aku mendapatkan kabar gembira. Ya, apalagi kalau bukan sahabatku tercinta, Desi akan menikah pada awal tahun ini! Sungguh, diriku terbawa perasaan, dan aku menyiapkan kado istimewa untuknya, yaitu buku-buku panduan pernikahan dan menyusui, yang telah aku berikan saat resepsi pernikahan. Semoga pernikahanmu selalu abadi ya, Des!

Bersama mempelai perempuan, Desi/ dok.pribadi Desi, dengan editan dari penulis

Memang, aku lihat, saat bersekolah, sahabatku suka membaca buku. Buku yang dibacanya, hanyalah novel yang harganya puluhan ribu, penerbit lokal pula. Sayangnya, dia memang tidak banyak memiliki banyak buku, maklum saja buku harganya mahal. Apalagi sejak dia bekerja di luar kota, malah tidak ada toko buku yang tersedia di sana!

Karena itulah, aku berpikir agar aku bisa mendapatkan dana untuk bisa memenuhi kebutuhanku dan berbagi, termasuk memberi hadiah buku yang bermanfaat bagi kehidupannya. Caranya, ya ikutan kompetisi blog yang sedang kujalani ini. Semoga, apa yang kulakukan ini bisa membuat kehidupan sahabatku menjadi berarti, merasakan manfaat dari membaca sebagaimana yang telah aku buktikan ketika berakrab-akraban dengan buku. Dan dengan bekal ilmu itulah, aku harap rumah tangganya menjadi langgeng dan bahagia, dan tidak bernasib buruk, seperti pernikahan pasangan lain yang harus berakhir hanya karena kurangnya pengetahuan!

***

Suatu hari, aku sesekali merenungi kenanganku bersama sahabatku. Bayangkan, jika Desi tidak sekelas denganku waktu kelas sepuluh, diriku tidak akan bisa bertahan di SMA yang memiliki gedung sekolah yang cukup melingkar panjang itu. Aku tidak bisa berlatih berpikir kreatif sewaktu masih aktif di KIR, dan ujung-ujungnya, aku gagal di dunia blogging; gagal melahirkan tulisan-tulisan yang berkualitas.

Ya, sebagai penutup dan tanda terima dariku, saya kutip reff terakhir dari lirik lagu Ali Sastra, Sahabat, dengan sedikit perubahan lirik olehku (aku mohon maaf dan izinnya ya, Kang Ali...)

Sahabatku tercinta....
terimalah kadoku,
hadirmu selalu memberi bahagiaaaa....
Semoga abadi persahabatan kitaaaa....
Semoga abadi persahabatan kitaaaa....
(*)

*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog "cerita hepi elevenia".

Senin, 20 Maret 2017

The Family of Dupasat (XII IPA 1)

Maret 20, 2017 Nahariyha Dewiwiddie


Teman-teman Dupasat di SMAN 1 PUNGGUR Lamteng/dok. Dupasat dengan edit seperlunya

XII IPA 1, yang juga disebut Dupasat, memang bukan kelas unggulan, kumpulan siswa-siswi yang cerdas di atas rata-rata. Tapi, soal kekompakannya, jangan ditanya! Bagiku, di kelas itulah saya diterima dan diperlakukan layaknya anggota keluarga dengan baik, bukan sekadar karena ada sahabat setiaku yang baik hati. Faktor itulah yang membuatku sangat bahagia.

Teman-temanku memang sangat baik, meskipun ada hal-hal yang membuat mereka kurang akrab denganku. Mungkin saya orangnya serius ya. Di kelas ini pulalah, saya diajarkan untuk saling berbagi, contohnya saat istirahat tiba dan kami membawa bekal ke sekolah, mereka dengan senang hati menukar menu makanan dan saling mencicipi. Gara-gara hal itu, saya tahu rasanya makan kacang koro, sayur pakis, dan berbagai macam makanan yang tidak saya sebutkan satu per satu.

Saat kami berada di dalam kelas, nonton bareng film maupun dokumenter rasanya seruuuu banget! Begitupun ketika kami merasakan lelah, sehingga tiduran di ruang kosong di belakang bangku kelas. Kebersamaan kami, para alumni IPA 1 tak berhenti hanya di dalam kelas, di luar kelas pun kami tetap kompak, tak terpisahkan satu anggota pun.

Saya teringat, saat kelas kami keluar sebagai juara lomba kebersihan kelas. (Wakil) ketua kelas menawarkan beberapa pilihan yang akhirnya, kami berpesta, makan-makan di rumah wali kelas! Lagi, saya pun merasa dilibatkan di dalamnya, kebagian tempat untuk bonceng motor, karena jarak sekolah ke rumah wali kelas yang cukup jauh. 

Dan tahukah kalian, wali kelasku itu seorang guru Matematika, mata pelajaran yang sering menjadi momok bagi kami. Di samping itu, beliau juga seorang guru agama Kristen di sekolahku, ya meskipun di kelas kami yang berjumlah 29 siswa itu, hampir semuanya muslim, dan hanya satu siswi yang beragama Katolik. Oiiii, betapa indahnya kebersamaan itu!

Selain bersilaturahmi ke rumah wali kelas, kami juga berkelana ke beberapa rumah guru lainnya. Bahkan, sebelum kami masuk ke rumah guru Fisika, kami sempat mencicip jambu biji yang memang tumbuh dari pohon, di depan rumah. Memang, walaupun kami kadang bandel, toh kami tidak melupakan guru-guru yang mengajarkan kami ilmu yang bermanfaat.

Ya, tidak hanya teman-teman yang merasakan hawa kebersamaan itu. Saya sendiri merasa terbayang dengan kata-kata teman sekelas yang menjadi penyemangat dalam setiap langkahku, karena saya menyadari kalimat mereka yang dibisikkan padaku benar adanya. Bagaimana tidak, saat duduk bersama teman sebangku, dia pernah mengatakan padaku, bahwa diriku punya kelebihan di bidang bahasa. Begitu pula ketika saya baca dokumen Cerita di Akhir Sekolah yang menggambarkan diriku sebagai pribadi yang unik, baik, dan berwawasan luas.

Dua kalimat itulah yang mengantarku cukup sukses di dunia kepenulisan—dunia blogging lebih tepatnya—meskipun saya merasa belum apa-apanya dibanding blogger yang cukup piawai menulis dengan sangat mendalam, apalagi yang sering menang lomba blog! Pemikirannya yang cukup unik, berwawasan (karena saya rajin baca), serta kemampuan menyusun beragam diksi itulah yang membuat tulisan saya cukup diterima baik oleh para pembaca, ya walaupun diriku merasa belum puas atas hasil tulisanku itu. 

Hmmm, benar juga ya, kata-kata adalah sebuah doa! 

Setelah lebih dari 2 tahun berpisah, saya masih berpikir, bagaimana kabar teman-temanku sekarang ini. Ya, mereka telah berpencar ke mana-mana. Dan yang kuliah di universitas, kebanyakan dari mereka memilih menjadi guru. Ada juga yang kuliah perbankan, ekonomi Islam, dan jurusan pertanian. Banyak dari mereka yang bekerja di luar kota, bahkan ada yang sampai di Pulau Jawa. Dan, saya sendiri adalah satu-satunya alumni Dupasat yang suka ngeblog—menulis di dua blog (Kompasiana dan blog pribadi), di samping merangkap jadi mahasiswi Perpustakaan.

Oke, sekian dulu ceritaku bersama mereka, The Family of Dupasat. Lain kali, kalau lagi kangen-kangenan, jangan lupa, buka album kenangan!

Senin, 14 November 2016

Memilih Kuliah Ilmu Perpustakaan, Menyatukan Jati Diriku

November 14, 2016 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: LinkedIn

Apapun kegiatan yang dilakukan terasa alami, tergantung bakat yang dimiliki -- myQuote

Banyak orang yang ketika menjalani studi, merasakan kehampaan dan ketidaknyamanan, bahkan merasa tersesat. Itu semua karena mereka berpikir instan, memilih jurusan semaunya. Akibatnya, pelajaran yang mereka terima itu tidak nyambung, gagal paham, bahkan bisa menyeret mereka pada status DO (drop out).

Kenapa ya, semuanya bisa terjadi? Faktanya, ketika mereka menjalani studi yang berbeda dengan bakat, semudah apapun materinya, tidak akan bisa dipahami dengan baik. Logikanya, jika kita berani melawan Tuhan, akan kalah telak dihadapanNya. Begitu juga dengan melawan kodrat bawaan diri yang berupa talenta. So pasti, sifat bawaan yang terdapat dalam benak akan menolaknya!

Itulah yang dirasakan betul oleh saya, dan pada akhirnya, saya kembali ke fitrah. Itulah salah satu konsep pada agama yang saya yakini. Tapi, bukan itu yang saya maksud. Ini berkenaan dengan proses pencarian jati diri saya; berkaitan dengan bakat dan minat. Di KBBI juga begitu, fitrah bisa diartikan "bakat, pembawaan". Dan, akhirnya saya telah menemukan passion-ku yang sebenarnya: dunia buku, kepustakaan, membaca, juga menulis. Tanpa ragu lagi, saya memutuskan untuk kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan!

Saat saya duduk di bangku sekolah, saya seringkali kehilangan arah. Tak jelas minatku seperti apa. Inginnya sih di bidang sains. Makanya, waktu SMP saya ikut ekskul Biologi, dan di SMA saya bergabung di kelompok KIR dan masuk jurusan IPA. Tapi, entahlah, rasanya saya menjalaninya dengan bermuka dua: di satu sisi merasa semangat tapi di dalam hati kurang ada kecocokan. Pantas saja, nilai matematika-ku sering mendapat nilai jelek... :'(

Dan setelah tamat SMA, saya menceburkan diri di dunia menulis, belajar merangkai kata-kata. Kemudian saya mendapatkan pencerahan ketika saya menghadiri bedah buku bersama Dominic Brian. Oke, dari pelajaran itu, saya ambil kesimpulan: tidak akan memilih jurusan kuliah kecuali sesuai bakat dan minatku!

Gara-gara hal itu, saya dipaksa untuk kembali di dunia membaca setelah saya membaca pernyataan bahwa jika ingin lancar menulis, harus banyak-banyak membaca. Oleh karena itulah, saya beranikan diri membeli banyak buku untuk dibaca, ditambah dengan motivasi minat baca yang terus meningkat dengan banyak baca artikel tentang dunia membaca di Internet. Lalu, dengan bahan bacaan dari buku itulah, saya akhirnya membuat banyak artikel yang bermutu.

Puncaknya lagi, setelah saya membaca buku I Love Monday, saya didorong untuk mencari potensi yang terdapat dalam diriku. Setelah menemukan potensi kecerdasanku, saya membaca kegiatan pustakawan di salah satu sekolah negeri di Metro lewat blog, juga website-nya. Dan tahukah kalian, bahwa perjumpaan pertama saya dengan kedua laman ini gara-gara tersesat di mesin pencarian tentang Gramedia Metro!

Saya sadar, mencoba untuk melawan kodrat bawaanku rasanya mustahil. Dan pada akhirnya, saya diarahkan untuk menemukan potensi alami dan jati diriku yang sebenarnya. Membayangkan masa kecilku yang suka dan akrab dengan buku dan pergi ke perpustakaan sekolah, bahkan sampai menemukan permasalahan akan kurangnya buku di perpustakaan SMA. Saya merasakan ketertarikan akan buku begitu kuat walaupun saya sudah memasuki masa dewasa. Saya pun akhirnya mengetahui, bahwa sebetulnya bakatku bukan di bidang sains, melainkan berada di ranah linguistik; berhubungan dengan bacaan.

Bayangkan, jika orang tua tidak mengizinkanku untuk membeli banyak buku, saya merasa hidupku terombang-ambing dan tak tahu arah. Bisa jadi saya akan nekad bekerja di luar kota, atau berdagang buku di tempat terpencil.

Saya juga terinspirasi dari tokoh-tokoh yang begitu suka membaca dan ingin menyebarkan virus membaca, sebut saja duta baca Najwa Shihab, Tantowi Yahya, juga Andy Noya yang suka membagikan buku ke penonton di studio Kick Andy. Ditambah pustakawan Sugeng Hariyono, pemilik Motor Pustaka di Lampung Selatan, dan Luckty Giyan Sukarno, pustakawati di Smanda Metro. Saya ingin seperti mereka....

Makanya, saya putuskan mengambil kuliah (kembali) di jurusan Ilmu Perpustakaan yang antimainstream itu. Bukan hanya karena peluang karier yang besar, tapi sekaligus bisa melampiaskan hasrat dan jati diri yang terdalam. Tapi, karena saya tinggal di pedalaman daerah dan jauh dari ibukota provinsi, tak ada pilihan lagi, selain belajar di Universitas Terbuka. Dan insyaAllah, tahun 2017 nanti, akan memulai kehidupan baruku sebagai seorang mahasiswi.

Semoga kalian bisa terinspirasi dan saya bisa meraih cita-citaku.... :)

Senin, 08 Agustus 2016

Tips Membeli Gadget

Agustus 08, 2016 Nahariyha Dewiwiddie
sumber gambar: jalantikus.com
Sekarang, kita hidup pada zaman modern nan canggih, penuh dengan ‘keajaiban’ teknologi. Pastinya kita sebagai kaum muda tidak terlepas dari yang namanya gadget. Ya! Barang ajaib yang satu ini pastinya menjadi barang wajib untuk dibawa kemana-mana saat berpergian. Jadi pas bengong dan tidak ada kegiatan di perjalanan, fitur-fitur di gadget pastinya akan memanjakan kita. 
                   
Oiya, hal pertama yang harus diperhatikan, sebelum memutuskan untuk memiliki sebuah gadget, baik tablet, smartphone, atau hp ‘sebangsa’ Blackberry, saya mau tanya, kamu mau membeli gadget untuk apa? Berselfie ria, chatting dengan gebetan atau sahabat karib, mempermudah kamu dalam ibadah, membaca e-book terutama buku pelajaran dan kuliah, menulis dan berbagi di blog, atau jangan-jangan... untuk berbuat kejahatan? Silahkan kembali pada dirimu sendiri. Karena sesungguhnya penggunaan gadget itu tergantung niat orangnya, bak pisau bermata dua. Oleh karena itu, luruskan niatmu mau membeli gadgetnya, jangan luruskan niat saat kamu mau beribadah saja! 

Kedua, kenali fitur mana saja yang hendak kamu inginkan. Ada pemutar musik, pembaca e-book, akses Internet, kamera, dan sebagainya. Sesuaikanlah dengan apa yang kamu niatkan. 

Ketiga, setelah meniatkan dan mengenali fitur yang terdapat pada gadget, siapkan anggaran yang dibutuhkan. Jangan paksa beli gadget canggih merek ternama yang harganya fantasis sedangkan kondisi ekonomi ortunya lagi pas-pasan. Lebih baik tahan dulu atau berusahalah mencari uang untuk membeli gadget dengan caranya sendiri, yang penting pada jalan yang halal ya! 

Keempat, Setelah membeli gadget yang kamu inginkan, siapkan ‘bekal’ berupa pulsa yang cukup. Bagi-bagilah pulsa itu untuk hal-hal yang penting seperti telpon, sms-an, atau internet. Namanya aja gadget, ya tidak terlepas yang namanya Internet. Nah, setelah berlangganan paket Internet, alangkah baiknya untuk menggunakannya sesuai kebutuhan. Awas jangan boros kuota! Kalau kuotanya boros cepat habis, nanti beli pulsa lagi, tambah duit lagi.... mending uangnya itu untuk hal yang lain saja! 

Yang terakhir, kalaupun mau kemana-mana bawa gadget seperti ke sekolah, kampus, dan di tempat umum, gunakanlah untuk hal yang bermanfaat saja, jangan untuk berbuat hal yang negatif. Kalaupun untuk bermain game yang akan melepas kesuntukan di sekolah/kampus, ada waktunya, jangan bermain game pas mendengarkan pelajaran dari guru/dosen. Sayang banget kan beli gadget mahal, eh malah disita! Itulah tips yang saya berikan jika kamu ingin mempunyai gadget. Sekali lagi, ini tergantung kamu loh, mau beli atau gak. Kalau memang gak niat punya gadget, ya jangan beli! Bukankah uang kamu itu pemberian ortu kita, kecuali kalau kamu memang punya pekerjaan sendiri dan penghasilan sendiri. Akhir kata, yukk pakai teknologi secara positif! 

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

*Reposting from Kompasiana


Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini