Rabu, 07 Agustus 2019

Kita, yang (Tidak) Melupakan Kearifan Leluhur

Agustus 07, 2019 Nahariyha Dewiwiddie

“Bapak Proklamator kita, Bung Karno, pernah berpesan dengan kata yang tegas: JAS MERAH! Yup, kita, jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”

Namun, apakah sejarah yang kita ketahui selama ini cuma didapatkan dari pengajaran oleh guru-guru maupun lewat tulisan berjilid? Ya, sebenarnya sejarah itu lebih luas. Ditambah lagi, diramu dengan kearifan luhur dari para pendahulu di masa silam—yang kini mencoba untuk membumikan kembali lewat berbagai cara. 

Ya, bisa dilihat sendiri, keadaan bangsa kita seperti apa pada era digital ini. Kekinian, emang sih, tapi saya lihat Indonesia lagi kehilangan arah dan sebagian jati dirinya yang mestinya, menguatkan diri menjadi bangsa yang beradab dan punya kekhasan di dunia, seperti zaman nenek moyang dahulu.
Nah, apa harus balik lagi lewat catatan lama, lalu berpikir ke belakang? *ehem*

***

Dahulu kala, di kepulauan Nusantara yang indahnya bagaikan nirwana, datanglah segerombolan orang dalam jumlah besar, yang merupakan leluhur awal bangsa kita. Mereka, sudah mengembangkan kebudayaan dan teknologi yang bermacam-macam, dan seiring berjalannya waktu, mereka telah melahirkan mahakarya yang amat agung pada zamannya. Sebut saja Candi Borobudur, Keris, dan Kapal Jung yang sanggup belajar sampai belahan dunia yang jauh, sampai sebatas permainan tradisional penuh makna yang dimainkan anak-anak pada masa lalu.

Tapi, pencapaian hebat leluhur kita tak terbatas sampai di situ. Sampai dalam kehidupan sehari-hari pun, nenek moyang orang Indonesia mengajarkan nilai-nilai luhur—yang untungnya, diselamatkan melalui ideologi dan dasar negara yang jadi pegangan kita, Pancasila. Dan lagi, mereka mengajarkan sesuatu dengan mengibaratkan sebagai manusia sebagai simbol, ya biar bisa memperlakukan dengan baik. Ingat istilah “ibu bumi” atau “ibu pertiwi” ‘kan? Nah, maksudnya biar kita lebih merawat bumi dan seisinya, dengan semestinya.

Dengan seabrek kebudayaan dan nilai dari leluhur  Tanah Air kita pada masa lampau yang sebegitu tingginya, diriku baru sadar, nenek moyang kita memang JENIUS. 

Dan saking tingginya budaya kita—yang membentuk jati diri, akhirnya negara mengabadikan hal itu lewat simbol dan lambang yang dipergunakan sampai saat ini. Bendera merah putih yang merupakan warisan Majapahit, lambang negara Garuda yang terpengaruh budaya India lewat kerajaan kuno Hindu-Buddha di Nusantara, dan tentu saja, mata uang kita, Rupiah.

Tapi....

Apa itu bisa mengembalikan semua kearifan leluhur yang tumbuh di bumi Nusantara, pada masa kini?

Ternyata, itu belum semuanya yang berhasil bertahan!

Hmmm, diriku teringat, kala pemerintah berulang kali berpesan pada kita semua: “Lestarikan budaya bangsa, biar tidak punah”. Dan akhirnya, ada  banyak orang yang  mengembangkan kekayaan budaya lewat kebaya modern, fashion batik, minuman tradisional kekinian, dan lain sebagainya. Lalu, masih ada generasi muda yang belajar tari-tarian, musik tradisional untuk berbagai kegiatan.

Tapi, kita harus sadar, bangsa kita ini belum apa-apanya! Bahkan, kita harusnya belajar lebih banyak lagi dari kearifan nenek moyang kita dan mau menggalinya lebih dalam, biar kita nggak sok pintar dan jagoan di hadapan leluhur yang mewariskan kearifan itu. 

Nah, bisa dibuktikan sendiri, peristiwa gempa bumi 6,9 SR yang terjadi di Banten awal Agustus lalu, memberi pelajaran, bahwa kita harus kembali ke kearifan pendahulu kita. Mereka sejak dulu paham kok, kepulauan Nusantara ini rawan gempa. Makanya, mereka membangun rumah adat –di berbagai daerah yang bermacam-macam bentuknya—yang memang dirancang ramah dengan alam dan tahan gempa, dengan konstruksi yang canggih pada zamannya.

Tapi, bagi anak muda kekinian, hal-hal semacam itu ‘kan dah kuno banget!

Nah, itu masalahnya! Kita ini masih saja dihinggapi oleh sisa-sisa kolonial; bermental inlander. Dulunya, kolonial Belanda mendoktrin pribumi sebagai warga kelas bawah dan layak menjadi budak mereka, sehingga berdampak pada keturunannya: kita menganggap dari luar itu lebih baik, lebih hebat, tapi, itu belum tentu sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, bukan?

Karena itulah, mumpung dalam bulan Kemerdekaan RI ke-74, kita harus merdeka dari hal-hal yang merusak jati diri bangsa kita. Walaupun kita belajar hal-hal yang baik dari luar, jangan lupa, kembali apa yang diajarkan pendahulu kita, termasuk di dunia pendidikan. Dulu, Ki Hadjar Dewantara punya metode pembelajaran yang menyenangkan, yang cocok untuk kita, tapi sayangnya nggak dimanfaatkan oleh bangsa sendiri dan sistem pendidikan berjalan tanpa arah. Memprihatinkan.

Dan, nenek moyang telah mengajarkan pada kita, apa yang datang dari luar, mereka memilah, mana yang terbaik dan cocok dengan budaya mereka. Nah, harusnya yang hidup di era teknologi, harus belajar apa yang dilakukan leluhur kita; memilah budaya asing dan menyaringnya sesuai kultur kita. apalagi soal hoaks, harusnya harus lebih cerdas lagi, memilah informasi yang ada, mana yang benar, mana yang merupakan kabar bohong, ya 'kan?

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!


Senin, 31 Desember 2018

Asian Games 2018: Cinta Kampung Halaman dan Pengakuanku akan Energy of Asia

Desember 31, 2018 Nahariyha Dewiwiddie


Semenjak tahu kabar bahwa kota Palembang jadi tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta, aku bermimpi dalam empat tahun mendatang, akan menyaksikan pertandingannya di kota kelahiranku sendiri!
Dan sekarang, kalau diingat-ingat lagi, rasanya mimpiku itu benar-benar menjadi nyata, ya. Alhamdulillah.

Awal mulanya, aku baru benar-benar merasakan kebanggaan jadi tuan rumah justru pas jadi tuan rumah SEA Games 2011 di mana Palembang ditunjuk jadi tuan rumah. Kenapa nggak saat jadi tuan rumah Piala Asia 2007 dan Asian Beach Games 2008? Aku mah apa atuh, aku waktu itu nggak begitu mengerti sama dunia olahraga, apalagi pas perhelatan ABG itu yang ku lihat sekilias saja.

Dan semenjak tahu itu, hatiku pasti bangganya setengah mati. Seneng? Pastinya dong yaaah, kota kelahiranku jadi sorotan internasional. Bahkan, aku sempat berlebaran dan mengunjungi Palembang yang cuma sebentar itu, dan langsung melihat suasana Palembang yang beda dari biasanya. Ada baliho khas SEA Games, bendera negara-negara Asia Tenggara plus Timor Leste, sama countdown juga, wooow, tampaknya mulai bersiap menerima tamu-tamu se-ASEAN.

Sayangnya, melihat jadwalnya, 11 November 2011, so pasti aku nggak bisa hadir ke sana. Maksud hati ingin nonton, ya apa daya, aku ‘kan masih sekolah! Ya, impianku harus ditunda dulu, dan mungkin cuma bisa melihatnya lewat layar kaca.

Tiga tahun kemudian....

Tiba-tiba, ada berita nih, Vietnam selaku tuan rumah asli Asian Games ke-18, mundur, waaah Indonesia langsung tancap gas dan gerak cepat buat lobi-lobi sama OCA, bahwa Indonesia sanggup menyelenggarakannya. Bayangin, itu ‘kan udah lama banget, 50 tahun lebih!

DKI Jakarta, melalui gubernur saat itu, Basuki Tjahaja Purnama, ingin membawa Asian Games ke ibukota dengan semangat Bung Karno berupa merenovasi kompleks GBK yang amat kuno dan jadul  yang membuatnya “terlahir kembali”. Sedangkan, Sumsel dengan gubernurnya saat itu  Alex Noerdin—hmmm udah tahu ambisiusnya beliau seperti apa—bercita-cita ingin Palembang jadi tuan rumah Asian Games tahun 2018.

Tahun 2018, yang bener? Ya walaupun sebenarnya sih digeser dan direncanain digelar pada 2019, setahun sebelum Olimpiade Tokyo 2020.

Dannn... ahaaa! Gayung bersambut! Setelah rapat dan pertimbangan ini-itu, akhirnya ditetapkannya Jakarta-Palembang jadi kota tuan rumah pengganti. Jadwal pelaksanaannya dikembalikan ke tahun 2018 karena biasalah, 2019 ‘kan ada Pilpres, kalo dilaksanain bareng bareng malah ribet. Lalu, mengapa ya harus dua kota? Karena waktu persiapannya tinggal 4 tahun, cukup sempit untuk ukuran persiapan multievent besar!

Duuuh, kalo denger kayak gitu, itu seakan menghidupkan harapanku yang tertunda. Langsung aku membayangkan, bermimpi, datang ke Palembang, nonton pertandingan, beli merchandise di Jakabaring Sport City. Duuh, pokoknya, jadi pengalaman tak terlupakan dan dikenang seumur hidup!

Tahun demi tahun berlalu... akhirnya!

Sampailah di tahun 2017, tepatnya setelah countdown one year before 2018 Asian Games. Inilah saatnya untuk mempertegas apa yang kuimpikan sejak lama. Bahkan, saking kepengennya jadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia—ya lah, momen langka gitu loh—aku sampai memejamkan mata, membayangkan, terus aku ucapkan: “tahun depan, aku akan menyaksikan pertandingan Asian Games di kampung halamanku sendiri!”

Tak hanya itu saja, sebelum memasuki tahun 2018, aku menuliskan impianku pada tahun berikutnya, salah satunya menonton perhelatan Asian Games secara langsung di Jakabaring Sport City (JSC). Kenapa ya bukan di Jakarta? Aku emang enggak niat nonton pesta olahraga se-Asia ke ibukota termasuk upacara pembukaan, udah tau biayanya mahal. Aku harus realistis aja deh.

Dan akhirnya tahun 2018 sampai juga ya.

Dari tahun kemaren sampe tahun 2018 aku lagi getol-getolnya ikut lomba nulis kesana kemari, meskipun yang berhasil menang Cuma satu. Termasuk pas Januari aku sedang berjuang ikut lomba tentang kreativitas gitu loh. Tentunya, buat ongkos pas nonton Asian Games. Ya lah, masak harus bergantung sama orang tua?

Sempat ragu dan bingung masa depanku gimana? Ya. Tapi, kala kami ke Palembang karna urusan keluarga, aku melihat suasana Asian Games yang semakin terasa lewat baliho-branding segala macam menghiasi kota Pempek,  akhirnya aku merasa “jatuh cinta” lagi. Semuanya berubah dan diingatkan tentang mimpi-mimpiku untuk jadi bagian momen bersejarah, jadi penonton aja sudah cukup bagiku. Huh, semakin bersemangat—  dan saking bergairahnya diriku bahkan sampai kukabarkan lewat komentar radio—untuk  mengejar impianku, menjadi satu dari dua ratusan juta rakyat Indonesia yang jadi saksi sejarah multievent empat tahunan ini.

Puncaknya, kala pak Presiden Jokowi memerintahkan untuk promosi Asian Games di seluruh Indonesia, bukan hanya Jakarta-Palembang doang, berbagai lembaga pemerintahan langsung tancap gas, pasang spanduk-baliho dan lain-lain. Tuh bisa dilihat pas aku liat spanduk-spanduk, bukan hanya di daerahku, waktu lebaran di Jawa juga ditemukan promosi beginian—sampe-sampe jadi bahan buat lomba selfie. Tapi kalo ngelihat baliho-baliho Asian Games dari pemerintah—taruhlah TNI/POLRI, aku tambah nyesekkk karena sama saja mengingatkanku akan kampung halaman!


Hingga, tiba saatnya, hari paling mendebarkan.

Tanggal 30 Juni 2018, panitia Asian Games, INASGOC meluncurkan pembelian tiket secara online. Duuuh, langsung cemas deh aku. Pengen beli secepatnya takut kehabisan, di sisi lain aku belum menemukan teman buat nonton. Kalo sampe gagal nonton langsung, aku nangis bombay, syediiiiih. Melewatkan momen langka di kampung halaman merupakan kerugian terbesarku, nggak lengkap jadinya kenangan-kenanganku di kota Palembang!

Akhirnya, dengan napsu aku beli tiket di Ki*stix, bayar, terus terima e-mail tiket. Aku pilih cabor dayung  yang dilombakan di JSC soalnya adem banget danau birunya, hehehe. Setelah menuntaskan pembelian tiket, bukan berarti udah selesai, ya. Aku masih terus berjuang gimana caranya untuk dapatkan dana untuk berlibur pas Asian Games di Palembang.

Oh ya, aku baru ingat, pas sebelum tiba hari raya Idul Fitri, ‘kan lagi getol-getolnya tuh Kemenkominfo gelar lomba tentang Asian Games. Setelah aku akhirnya lempar handuk buat ikut lomba nulis mengingat waktunya sempit menuju pembukaan, aku tak mau menyerah. Langsung deh meluncur buat ikut lomba foto selfie yang akhirnya gagal menang, dan aku juga ikutan lomba blogging; menulis surat terbuka untuk para atlet yang berlomba di pesta olahraga se-Asia, tentunya dengan rasa cinta dan lagi-lagi, mengait-ngaitkan pada kampung halamanku, Palembang yang jadi salah satu dari dua kota tuan rumah Asian Games  #cieee.

Dan tak hanya itu, aku juga ikutan foto maskot lagi jalan-jalan ke suatu tempat alias #GoesToMascot, bikin caption kayak cerita (pasti beraroma galau ni yee) dengan boneka Atung yang syukurlah aku udah punya duluan (yang akhirnya ku-kasihkan ke keponakan). Sempat berfoto di Taman Merdeka kota Metro, tapi enggak puas. Akhirnya aku ingat, spot instagramable itu di Tugu Kopiah Emas Gunung Sugih. Eurekaaa! Akhirnya aku bisa mewujudkan impianku berkunjung ke sana!

Nah... semakin mendekat ke bukan Agustus 2018, hatiku semakin gelisah.

Ya gimana gak gelisah, udah ikutan lomba kesana-kemari, tapi belum ada kepastian hadiahnya nyampe atau enggak. Walaupun lomba foto #GoesToMascot alhamdulillah aku termasuk di antara sepuluh pemenang gelombang pertama, tetap aja aku gelisah, aku butuh duit secepatnya buat liburan ke Palembang saat Asian Games dan sekalian berlebaran haji di sana.

Memang sih, Torch Relay Asian Games 2018 juga melewati Lampung, tapi ‘kan rutenya dari Lampung Tengah langsung ke Lampung Selatan. Ya udah, berarti lewat jalan lintas tengah yang dengan kata lain, kampungku enggak dilewati. Ya masa bodo’. Aku lebih mementingkan impianku sendiri, dan Cuma bisa menyaksikannya lewat media sosial dan mungkin, layar kaca.

Dan akhirnya, hari-hari bersejarah pun tiba, 18 Agustus 2018.

Dari jam ke jam menuju detik-detik upacara pembukaan yang dimulai pukul 7 malam itu, rasanya dag dig dug serrrr.  Dan tau nggak kenapa aku merasa merasa penasaran dengan acara pembukaan itu? Bukan karena faktor creative director-nya, Wishnutama yang terkenal magis itu, ya. Tapi, panggungnya gilanya keterlaluan, berbentuk gunung berapi super tinggi, air terjun, dan berhiaskan tanaman dan bunga-bunga yang menonjolkan kesan alami. Ini yang aku suka. Pokoknya, faktor itu yang membuatku merasa nggak sabar lagi buat nonton  pertunjukannya!

Pukul 19.00 WIB, dengan hanya ditemani es sirop rasa jeruk sebagai teman nontonku, upacara pembukaan pun dimulai.

Dimulai dari film yang ceritanya Presiden Joko Widodo lagi mengendarain motor gede menuju stadion GBK dengan melintasi kemacetan ibukota yang caranya ekstrim banget, lalu tarian Ratoe Jaroe yang polanya emang antimainstream. Belum lagi pertunjukkan inti yang sengaja diletakkan setelah melalui rangkaian protokol, segmen bumi yang tak lain adalah versi ringkas dari segmen “Harmoni Nusantara” pada peringatan 100 tahun Hari kebangkitan Nasional meski ada beberapa perbedaannya, juga prosesi penyalaan api yang dimasukkan dalam salah satu segmen kreatif yang nuansanya serba merah.  Sama saja, tata upacaranya  “keluar pakem” dari opening mulitievent 4 tahunan sebelum-sebelumnya, yang biasanya dimulai pertunjukkan inti lebih dulu, ya.

Dan bikin aku merasa tak terduga, pas prosesi penyalaan kaldron api itu, yang kukira harus ke luar. Ternyata cukup dari dalam aja, dinyalain ke gunung yang akhirnya tersambung ke kaldron utama. Dalam hatiku bilang begini: “Olalaaaaah!”  Emang kreatif nian, nggak ngebosenin, dan gila meeen.

Sehari Setelah Upacara Pembukaan....

Habis itu, langsung disuguhin pertandingan-pertandingan yang disiarkan di televisi. Ada taekwondo yang meraih emas pertama, wushu, dan masih banyak lagi. Tapi, hatiku tambah nyesek dan tambah kangen juga sama kota kelahiran kala ada juga pertandingan dari Palembang disiarkan juga. Cabor voli pantai misalnya.

Karena itu, aku sempat minta izin ke Papa untuk nonton ke sana, tapi awalnya nggak dibolehin, sediiih banget yaak, aku berjuang sekuat tenaga, sampe persiapan pakaian udah kulakukan, tekadku udah bulat untuk nonton pertandingan Asian Games. Namun, akhirnya diizinkan juga. Yeaaay!
Akhirnya berangkatlah kami ke Palembang, lewat jalur yang biasa aku lalui mas pulang kampung plus melewati tol Palindra (Palembang-Indralaya) untuk pertama kali. Nyess, waktunya pun lebih singkat ternyata. Lalu, sesampainya di rumah kosan sepupu mama, ada salah seorang sepupu lain yang duduk di bangku SMK ternyata udah nonton pertandingan sepakbola putri sama teman-teman sekelasnya! Huuuh, jadi iri!

Setelah beristirahat sebentar, aku, mama, dan sepupu mama pun bersiap ke Jakabaring Sport City, tempat yang telah kuidam-idamkan sejak lama. Ya, kami bertiga memang belum pernah kesana. Apalagi sepupu mama lagi libur kerja menyambut hari raya Kurban jadi aku merasa nyaman buat nonton bareng, asyiiiik!

Nyampai di loket, aku pun langsung berani nanya ke para sukarelawan (volunteer) yang subhanallah, ramah sekali. Celaka, aku pun belum sempat nge-print tiket itu, dan rupanya pertandingan cabor dayung udah mulai, hangus deh jadinya. Sebagai gantinya, kami bisa nonton pertandingan voli pantai pada pagi dan siang itu, antara atlet putra Indonesia VS Oman, Indonesia VS Palestina (yang membuatku terkagum akan persahabatannya lewat tukar syal), dan Indonesia VS Kahzastan untuk atlet putri yang sebelum masuk harus diperiksa dulu barang bawaannya. Seru juga sih, pengalaman baru.


Rupanya, emang terasa beda kalau nonton langsung dengan hanya lewat tipi. Kami bisa dengar sorak-sorai, menyerukan nama Indonesia ketika para atlet kita lagi bertanding, terus, aku lihat para kru dari IGBS yang notabene orang asing mengambil gambar. Ya kayak di broadcast televisi aja. Plusnya lagi, aku bisa banyak menemukan orang-orang asing di kompleks JSC. Ada orang Jepang, bahkan ketika official Thailand lagi lewat, berbicara dengan bahasa Inggris dan mau duduk, aku yang duduk di samping kameramen “mempersilakan” sembari tersenyum kecil.

Selebihnya suasana sebenarnya hampir sama sih dengan nonton pertandingan di kampung-kampung, tapi ‘kan berlevel internasional, hehehe.

Tentunya, aku tak mau ketinggalan, bawa souvenir, oleh-oleh. Sayangnya, emang kami dasarnya tak bisa fokus, kami naik bus kesana kemari, nemu festival di belakang stadion Gelora Sriwijaya, berjalan jauh keliling JSC, sampai akhirnya nemu toko merchandise resmi di depan stadion Jakabaring dan langsung berburu oleh-oleh di sana. Duuuh....  betapa bodohnya aku ini!

Rabu, 22 Agustus 2018.

Hari itu adalah momen yang langka banget buatku karena biasanya kami cukup berlebaran haji di rumah saja. Pagi itu, kami beramai-ramai shalat Id di Masjid Agung Palembang, suatu keinginan dari dulu yang baru kesampaian tahun ini. Biasa, masjid agung di ibukota provinsi pasti bakal dihadiri gubernurnya ‘kan? Nah, baru kali ini aku berkesempatan yang tak terlupakan: dengerin sambutan dari Gubernur Sumsel saat itu, Pak Alex Noerdin. Ya bagaimana tidak, ini adalah pengalaman pertama dan terakhirku bisa mendengar beliau yang berambisi membangun daerahnya, karena sebentar lagi akan lengser dan diganti gubernur yang baru.

Setelah itu kami pulang, dan aku—ya seperti biasa—cek perolehan medali, siapa pemenangnya dari atlet kita, dan begitulah seterusnya sampai penutupan. Terkadang aku juga menuliskan fenomena dari gegap gempita Asian Games. Nah, waktu menjelang penutupan, langit di kampungku mendung menggelap, dan terjadilah hujan deras. Rupanya di Jakarta juga sama; hujan membasahi kompleks Gelora Bung Karno dan sampai tiba upacara penutupan dimulai, hujan masih mengguyur walau kederasannya berkurang menjadi rintik-rintik.

***

Pagi setelah malam penutupan, suasana berubah jadi sepi. Ya, sepi di hatiku. Nggak ada ceritanya—dalam pengakuan netijen—streaming di kelas, ditampilin proyektor, nonton di smartphone, pulang awal demi nonton atlet yang bertanding, stalking medsos dan media online, kumpul di pinggir jalan demi lihat balapan sepeda, bahkan sampai rame-rame datang ke venue—kayak aku dan keluarga.

Akhirnya, impianku terwujud juga, alhamdulillah, kuakui gelombang energi Asia  telah kurasakan dalam diriku, begitu nyata. Beneran deh, enggak bohong! Seperti yang dikatakan Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah dalam pidatonya saat penutupan Asian Games 2018, “Kalian telah mewujudkan mimpi Asia, energi Asia, menjadi kenyataan”. Dan aku pun mengamininya.

Terima kasih atas kenangan terindah yang kudapatkan tahun 2018, dan baru tahun ini aku melihat motto event sebenua yang benar-benar diterjemahkan menjadi semangat yang nyata. Aku takkan melupakannya, dan bakal menjadi memori seumur hidup (karena tak tahu kapan Indonesia jadi tuan rumah lagi), jadi catatan sejarah yang akan kuceritakan pada anak cucuku kelak.



Selasa, 12 Juni 2018

(Kutunggu Perjuangan Kalian, Menjadi Saksi di Kota Palembang!) Dukung Bersama Asian Games 2018



Halo atlet-altet Indonesia yang kubanggakan!

Apa kabar hari ini? Mudah-mudahan, kalian baik-baik saja, bukan?

Oh ya, bentar lagi kita semua akan menyambut hari raya Idul Fitri, ‘kan? Yeaaay, aku juga begitu. Lebih gembira lagi, tahun ini aku akan mudik ke pulau Jawa; ke kampung halaman papa dan rumah kerabat dari mama. Tapi....

Kurasa, kalian tak bisa melakukan hal yang sama denganku. Bahkan, kalian harus mengorbankan diri untuk tidak berkumpul dengan keluarga. Eitts, bukan karena tidak mau atau egois. Namun, ini semua kalian dilakukan demi NAMA BANGSA!

Aku tahu, tepat pada hari Lebaran, kalian harus bertandang ke luar negeri untuk mengikuti lomba atletik. Bahkan, sebagian dari kalian pada waktu tertentu harus rela mengikuti latihan-latihan dan perlombaan baik, baik di negeri sendiri maupun sebagai tamu di negeri orang. Ya begitulah kehidupan kalian sebagai atlet yang harus dihadapi. Namun, di balik itu, yakinlah suatu saat akan dibayar dengan hasil terbaik yaitu medali emas. Percayalah, kalian pasti bisa!

***

Hmmm, kalau soal perjuangan kalian dalam meraih gelar juara, aku jadi teringat pada masa kecilku. Entah kenapa, aku malah (lumayan) suka dengan dunia olahraga. Dunia yang tak semua rakyat negeri ini menaruh hati padanya, malah berpaling pada politik yang lebih menawan.

Kurasa, aku terbawa arus dari papa yang suka dunia bola dan juga pernah jadi atlet catur dan mewakili pekan olahraga se-provinsi. Tapi, aku melihat dunia olahraga ini, lebih dari itu. Ia adalah sejenis sihir yang ampuh dalam menumbuhkan rasa nasionalisme di hatiku, selain keberagaman yang mengalir dalam diri dan kujumpai di sekitarku.

Ah, kalau kalian tahu, aku yang baru lulus SD sepuluh tahun yang lalu, sudah terkena demam “Thomas and Uber Cup 2008” yang kala itu dihelat di Jakarta. Aku jadi tergirang dengan menyaksikan perjuangan pendahulu kalian di televisi, lalu membawaku ikut bermain bulutangkis dengan teman-teman sepermainan di halaman semen dalam lingkungan pabrik dimana dulu keluargaku pernah tinggal di sana. Seru deh pokoknya!

Nah, ceritaku tentang hal ini tak cukup sampai di sini. Setiap ada Indonesia Open, aku hampir tak ketinggalan menontonnya, apalagi kalau bukan permainan apik dari Taufik Hidayat, wooow.... Dan, tak hanya itu, pada final Olimpiade tahun 2016 lalu aku bahkan rela begadang sampai melewati pukul 12 tengah malam, demi melihat penampilan terbaik Owi/Butet yang mampu melibas lawan sampai bisa merebut medali yang bisa mempertautkan tradisi emas yang  sempat terputus pada empat tahun sebelumnya.

Oh ya, apakah aku hanya menyaksikan perjuangan kalian pada cabang olahraga bulutangkis? Tidak! Aku juga menyaksikan timnas bertanding pada dunia sepakbola.

Hah, sepakbola? Enggak salah nih, padahal kamu ‘kan perempuan, masa’ olahraga laki-laki kamu suka?

Lagi, dan lagi, rasa nasionalisme yang ditawarkan olahraga mampu meruntuhkan tembok pemisah yang dibangun oleh faktor apa pun, termasuk gender. Ya, tidak salah lagi. Demi kebesaran nama bangsa dan negara kita tercinta. Pastinya, rasa kebangsaan akan tanah air tempat saya lahir dan dibesarkan ini, semakin terbuncah kala para supporter bulutangkis meneriakkan yel-yel “IN-DO-NE-SIA”, serta para pecinta timnas yang menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku” untuk membangkitkan semangat juang para atlet-atlet yang berjuang demi nama negeri ini. Dahsyaaaat!

Lalu, setelah itu kabar perjuangan kalian akan tersebar di mana-mana. Aku pun tak mau ketinggalan. Aku merasa dibuntuti oleh berita tentang All England, Indonesia Open, Thomas & Uber Cup, Piala Sudirman, Kejuaraan Dunia, Timnas Indonesia, Asian Games dan Olimpiade, yang kesemuanya ini mendorongku untuk “mencuri” berita-berita itu. Upps, bukan mencuri  kabar secara ilegal ya, hahaha. Tapi, aku ingin tahu secepatnya, hasil yang kalian dapatkan, apakah kalian menang membanggakan, atau justru terima kekalahan dengan kelapangan batin.

***

Duhai para atlet-atletku yang sedang berjuang merebut mimpi,

Sekarang, waktu demi waktu telah berlalu. Tak terasa tahun 2018 ini telah tiba dan melewati hampir separuhnya. Namun, tahun ini ada yang istimewa, deh. Ya, bagaimana tidak wahai para atletku, kami akan menggelar pesta untuk menjamu atlet-atlet terbaik se-Asia, termasuk kalian di rumah sendiri. Ya apalagi, kalau bukan Asian Games 2018!

Tapi, apakah kami membayangkan jamuan itu seperti makan-makan di suatu tempat? Bukan itu! Melainkan, kami akan menyuguhkan kalian dan para tamu dalam bentuk pertandingan. Ya, pertandingan olahraga! Di sinilah mereka akan unjuk kebolehan dan kemampuan terbaik, siapa yang berhak, dan layak diberikan hadiah tertinggi berupa medali emas!

Kalian pun sama, wahai atlet-atlet Indonesiaku. Tapi, persaingan yang makin ketat janganlah sampai optimisme kalian terbang melayang. Aku yakin, dengan perjuangan yang lebih jujur dan sportif, latihan yang lebih keras, dan “meminjam” kekuatan Tuhan lewat lantunan doa, kalian pasti bisa, pasti bisa! Sehingga, target 10 besar perolehan medali dari seluruh Asia, tak hanya sebatas gambaran di ruang ingatan kalian.

***

Wahai atlet-atlet yang disayangi Ibu Pertiwi,

Asian Games 2018 kian mendekat dan mendekat. Kalian sudah mempersiapkan amunisi untuk berjuang membela nama bangsa. Ya, di “medan perang” olahraga sesungguhnya, di mana dua kota tuan rumah pilihan telah disiapkan untuk menjadi saksinya, Jakarta dan Palembang.

Hmmm, menyebut nama kota terakhir ini membuatku terbawa perasaan, duhai atlet-atletku. Ya, bagaimana tidak, soalnya Palembang adalah kota kelahiranku yang telah memberikan banyak kenangan dan suasana khasnya tak akan bisa tergantikan dalam hatiku. Pokoknya, menyaksikan Asian Games 2018 di kampung halaman sendiri adalah salah satu impianku yang harus diwujudkan!

Makanya, aku bertekad untuk datang dan #dukungbersama masyarakat lain yang datang dan berada di kota Pempek untuk menyaksikan perjuangan kalian untuk mengharumkan negeri kita, pada pertandingan olahraga terbesar se-Benua Asia ini. Walaupun di bumi Sriwijaya ini, adalah kota tuan rumah pendukung dan kurang lebih ada 13 cabang olahraga yang digelar.

Kalian tahu, mengapa aku tetap bertekad untuk wajib hadir sekaligus mudik di tanah kelahiranku saat games times, yang akan dibuka pada 18 Agustus nanti?

Semua ini, karena cinta.

Rasa-rasanya, perhelatan Asian Games di kota Palembang telah berhasil merayuku untuk kembali pulang. Kembali karena cinta. Cinta pada kampung halaman yang terikat dalam hatiku, dan juga pada kalian yang butuh suntikan semangat dari kami yang hadir di venue pertandingan, agar kalian—seperti yang kuharapkan—bisa mendulang medali emas lebih banyak lagi, wahai atlet-atlet kebanggaanku.

Oke, demi rasa cinta pada kota kelahiran dan negeri sendiri, kutunggu perjuangan kalian saat waktu pertandingan tiba, menjadi saksi Asian Games di kota Palembang!

Muaaachh! 

Salam cinta,
Nahariyha Dewiwiddie

Rabu, 27 September 2017

Bedah Buku Perpusda Metro yang Menginspirasiku

September 27, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yaaa... sudah lama saya tidak menghadiri bedah buku!

Terakhir kali, yang paling berkesan, pas ada bazar buku Inilah Saatnya untuk Action bersama Dominic Brian, remaja pemecah rekor dunia bidang mengingat. Dan itupun diadakan di Palembang. Lha sekarang? Ingin meliput penulis lain, tapi mana bisa? Jauuuuuhhh....

Melihat agenda bazar buku yang terpampang di baliho, kesempatan nih untuk datang! Sempat mau mencatat, tapi akhirnya saya urungkan. Malu ah, saya ini warga luar, bukan orang Metro....

Tapi, saya kembali bertemu adik kelas SMP dan SMA yang tak lain adalah anggota FLP di meja regristrasi. Mendaftar. Namun, saya sendiri dan lagi lagi mewakili diri sendiri. Tak ada sahabat yang menemani. Dan, saya hanya bisa terdiam, mendengarkan apa yang dibahas keempat narasumber tersebut.

Nah, melihat warga Metro ingin menulis dan menapak prosesnya menjadi penulis, rasanya saya mbatin: "Alhamdulillah, saya lebih baik dari mereka". Ups, bukan saya berlagak sombong laiknya Iblis mengingkari sujudnya Nabi Adam, tapi saya merasa beruntung, selangkah lebih maju dari mereka.

Buktinya, di blog K saya, dengan mengantongi seratusan headline, centang biru, kurasa pembaca mengenaliku sebagai penulis yang menelurkan karya hebat. Ah, sebenarnya ini diriku belum apa-apanya, belum benar-benar sempurna, masih harus ditingkatkan lagi.

Tapi, kalau dibandingkan dengan ketiga narasumber tersebut, yang sukses menembus media cetak dan menerbitkan buku, aku mah apa atuh, siapa saya ini? Rasanya, saya belum pantas untuk melangkah lebih jauh seperti mereka, apalagi kalau dibandingin dengan penulis best-seller Erica Febriani, duuh saya bukanlah siapa-siapa....

Tapi, menurut salah satu narasumber, cara terbaik untuk menulis adalah bergabung di komunitas. Komunitas? Kurasa tidak pernah, mustahil bagiku yang introvert dan tak punya banyak relasi. Namun, saya beruntung berada dalam platform blog, dikelola oleh perusahaan ternama dan punya nama, yang terkenal dengan harian KOMPAS itu. Karena mengutamakan kualitas dan hal-hal positif, pantas saya harus berkarya, memberi tulisan yang terbaik dong...

Lalu, ada tips lainnya. Penulis memang harus membaca, tentunya. Kemudian, narasumber yang berjilbab mengatakan bahwa menulis tergantung mood. Yup, saya memang setuju. Tapi, kadang-kadang, saya harus mengalahkan rasa malas tersebut karena tergoda akan target. Kalau tidak, saya menyesal jadinya, melewatkan waktu tanpa tulisan terbaikku.

Ya, begitulah kira-kira hasil informasinya. Pokoknya, saya harus bersemangat menulis lagi dan lagi, walau hanya seorang diri. Bukankah yang membuatku lebih bahagia?

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 24 September 2017

Bertemu Bazar Buku Gramedia di Perpusda Metro

September 24, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yeayy.... ada bazar buku Gramedia lagi di Metro!

Ketika saya ke Perpusda lagi, ada barang-barang yang digelar di bawah tenda, terus ditata rapi seperti pada gambar di atas. Rupanya, bazar buku yang diadakan Gramedia baru dibuka kemarin. Ya, wajar kalau pengunjungnya enggak terlalu rame.

Lalu saya berdiskusi sama kasir Gramedia-nya, kalau bazar buku ini sengaja digelar di Perpusda. Menurutku, alasan Gramedia menggelar bazar bukunya adalah: Pertama, toko Gramedianya kecil, area parkirnya enggak terlalu luas, berdempet dengan toko-toko lain, pokoknya lebih kecil dari toko Gramedia Palembang Atmo.

Kedua, karena tempatnya strategis, banyak pengunjungnya, sehingga bisa memudahkan. Lagi pula, saat ini adalah waktu dimana Hari Kunjung Perpustakaan digalakkan, bukan?


Oh ya, bazar buku yang diadakan Gramedia ini, tentu saja menjual ratusan buku yang beraneka ragam. Ada kuliner, fiksi, teknologi, agama, motivasi, dan sebagainya. Ada buku-buku yang ditaruh dalam rak, ada juga yang terhampar di atas meja. Tapi, sebagian di antaranya sudah pernah saya lihat waktu ke gedung Gramedia Metro.


Tapi, bedanya, buku-buku yang dijual di Gramedia Metro pada meja Special Price dengan bazar bukunya, ya di Bazar buku, tentu buku-buku yang ditampilkan akan lebih banyak. Tapi, saya tetap saja bingung, mau milih buku yang mana, apalagi buku-buku kesehatan, psikologi dan agama. Habis, harganya lumayan mahal, ada yang lima belas ribu, ada yang tiga puluh ribuan, ada yang empat puluh ribu lebih, pokoknya kalau beli buku, silakan lihat stiker harga di belakang buku ya!


Namun, setelah pikir-pikir, saya putuskan tidak membeli buku kesehatan. Soalnya ada buku serupa yang lebih bermutu, yang kapan-kapan akan beli di situs daring walaupun harganya lebih mahal. Lalu, saya kepincut sama buku Ustadz Backpacker. Ya gimana tidak, sebagai penyuka traveling, pasti saya ingin baca, karena toh ada nuansa agama. Sayangnya, harganya lumayan mahal, lagi pula ada buku bacaan yang belum tuntas dan uangnya pas kalau dibeli. Ya udah deh, lain kali.


Ya, walaupun jadwal bazarnya buka lebih awal, berdasarkan jadwal, bazar buku akan berlangsung sampai 29 September 2017. Kalau tanya langsung sama petugas bazarnya, saya enggak sempat waktu itu!

Duuh, rasanya saya ingin ikutan acara Hari Kunjung Perpustakaan, biar warna-warni dan semarak saat ke perpustakaan. Tapi, harus dihemat dulu deh, bawa bekal dan harus sarapan dari rumah. InsyaAllah kalau bisa mendukung, saya ke sana lagi!

Ayoooo, kalau belum sempat, yuk ramaikan acaranya!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 23 September 2017

Refleksiku: Pencapaian 100 Headline dan Kue Bulan

September 23, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Seperti perjalanan besar yang memakan waktu cukup panjang, pasti suatu saat akan berhenti, lalu beristirahat sebentar. Begitu pun dengan menulis, aku akan berhenti, dan merefleksi apa yang ku perbuat, dan kucapai selama ini.

Minggu lalu, sewaktu saya ke kota, kembali lagi singgah ke supermarket terbesar dan terkenal di kota itu. Di sana, terpajanglah berbagai macam kue bulan yang sangat penting bagi warga Tionghoa.

Kue bulan? Itu lho, kue yang biasa disajikan pas Festival Musim Gugur. Walaupun kue tersebut bikin saya tertarik, tapi bukan karena ingin ikut-ikutan merayakannya, ya!

Sayangnya, karena harganya lumayan mahal, per buahnya seharga Rp 20.000, ya udah deh, terpaksa ditunda dulu.

Dari situlah, justru muncullah sebuah janji dari hati saya, kalau jumlah artikel yang dinilai headline di blog Kompasiana-ku genap 100, saya akan dibelikan hadiah untuk diri sendiri; Kue Bulan!

Tentu, bagaimana tidak, hadiah tersebut justru memacuku untuk semangat menulis dan menulis lagi; memberi yang terbaik. Alhamdulillah, kini artikel headline-ku di K ini sudah genap seratus ("nyusul" Bang Bo yang lebih dulu meraih jumlah serupa), berkat artikelku tentang rasa malu. Jumlah yang tidak mudah untuk meraihnya, apalagi diriku yang notabenenya anak rumahan!

Lagi pula, blogger K yang meraih jumlah ratusan headline, masih sangat sedikit, 'kan?

Yang paling menggembirakan lagi, artikelku ini akhirnya terpilih untuk ikut masuk ke aliran berita yang ditampilkan Kompas.com waktu itu (bersama dengan artikel lain dari Pak Bamset), bukan di kolom Kompasiana! Duuh... senangnyaaa!


Nah, atas pencapaian itu, hari ini akhirnya janjiku untuk menikmati kue bulan akhirnya terwujud juga. Waktu di meja kasir, kasir yang tak lain adalah teman SMP-ku bertanya "Kamu beli kue Cina ya? Buat apa?"

Terus saya jawab: Enggak, saya memang suka kue, kok.

Oke, lanjut....

Ya, bukan perkara gampang untuk meraih "artikel yang terbaik, dari yang terbaik", yang berhak menduduki bagian paling atas dari platform blog milik KG ini. Di balik itu, tersimpan segala perjuanganku untuk bisa meraihnya. Mulai dari riset, perenungan, dan banyak membaca, tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman. Bahkan, ada juga artikel headline yang didapatkan justru dari luar rumah, dan melibatkan percakapan bersama teman!

Terus, waktu menulis. Pernah saya menulis salah satu artikel yang butuh waktu lebih dari sehari, lalu hasilnya nyaris sempurna dibanding artikel-artikel yang muncul setelahnya. Dari situlah saya dapat pelajaran, kalau ingin menulis sempurna, harus pelan-pelan, jangan nulis cepat kayak kejar tayang!

Lalu, tantangan saya saat menulis itu, melawan rasa malas. Setiap saya belajar materi untuk menulis kadang rasanya malaaaas sekali, dan ujung-ujungnya baca informasi lain. Tapi, kadang informasi tersebut, alhamdulillah-nya bisa kepake juga. Kadang pula, saya sampai lupa cari info lain, yang ternyata sangat penting saat nulis. Itulah yang saya sesalkan.

Tapi, kadang-kadang sebenarnya "rasa malas" itu, sambil baca-baca materinya, karena takutnya saya enggak siap saat menulis, bukan?

Terus, kalau teringat pembaca setia, alias fans tulisanku? Boro-boro ingat, kenal aja enggak. Teman-temanku juga tidak banyak yang tahu saya itu sebenarnya menulis. Ah, biarkan saja. Menceburkan diri ke dunia kepenulisanku yang sunyi memang enak bagiku yang suka menyendiri.

Yang penting, saya ingat motivasi terbesarku untuk terus menulis, seperti yang pernah saya tuliskan di artikel ini.

Mungkin, selain di artikel ini, mungkin saya akan berencana untuk instropeksi diri besar-besaran terkait dengan belajar menulis, lalu perbaikan ke depannya baagaimana....

***

Ternyata, dari kegiatan menulis, saya jadi tersadar, akan pentingnya belajar, lalu menerapkan ilmunya agar tak terbuang sia-sia. Kemudian memacu diri untuk rajin membaca, itu pasti. Dan yang pasti, menyelamatkan diriku dari kegiatan dan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Nah, habis pencapaian 100 headline ini, saya putuskan akan berjalan; mengalir apa adanya saat diriku meneruskan dunia menulis. Mungkin, saya akan menerapkan metode 'pelepasan' saat posting tulisan ala Gobind Vashdev.

Dan, tentu saja saya akan menulis dengan pelan-pelan, siap akan materinya, dan (berusaha) dengan cara yang jujur dan tampil sempurna, serta mempertahankan tema kepenulisan saya, walaupun saya tidak lagi menulis hal-hal yang dianggap makruh dan haram dalam pandangan keyakinanku; pokoknya harus diperketat lagi deh!

Satu lagi, tahun depan, akan disediakan bulan khusus untuk mem-posting artikel hasil perjalananku ke Palembang saat Asian Games, tepatnya pada bulan Agustus. Dan saya memang sedang merencanakan impianku ini, insyaAllah saya akan menyaksikannya di sana! Do'ain ya, pembaca....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Anak rumahan yang kadang rindu plesiran & jalan-jalan

Sabtu, 02 September 2017

Andai UT Membuka Jurusan Psikologi...

September 02, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: http://alumni-ut.com

Pada hari sebelumnya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Kurban bagi yang merayakannya! Semoga, pada awal bulan ini (kalau ikut penanggalan masehi), kita bisa mewujudkan rela berkorban dalam kehidupan, dan ber-azzam untuk saling berbagi. Aamiiin....

Oke, sudahin dulu ya, pembukanya.

Kali ini, saya menulis tentang keluhanku dan kegalauanku selama ini. Ingin menempuh pendidikan tinggi sesuai jurusan yang disukai, eh malah terkendala izin orang tua. Pasalnya, mereka itu orangnya protektif; nggak rela putrinya kuliah di luar kota dan menginginkan kuliah di lokasi yang dekat saja.

Tapi, sekarang aja, mikirin kuliah dan baca modulnya aja sudah malas, enggak semangat lagi. Bukannya tidak bodoh, sih (karena kemampuanku cukup bagus meskipun kalah dengan yang jenius), tapi hatiku merasa tidak bersenyawa dengan jurusan yang kutekuni sekarang. Modul-modul kuliah yang pernah kupelajari, sedikit sekali yang nyangkut di otak, walaupun sudah berulang-kali mendalaminya.

Apa saya harus menyerah saja dan lebih baik cari pekerjaan? Hei! zaman sekarang ini, mana mau menerimaku yang hanya lulusan SMA?

Ya udah deh.... aku terusin nulis, lalu rajin ikutan lomba blog...

***

Ya, meskipun Ilmu Perpustakaan yang saya ambil memang sesuai dengan kepribadianku, dan ada unsur bidang media, dan saya juga berminat di bidang tersebut, tetap saja masih kalah dengan bidang lainnya.

Jujur, saya memang sudah lama tertarik dan menggemari hal-hal yang bisa memotivasi dan pengembangan diri, yang kesemuanya bermuara pada psikologi. Masalahnya, jurusan psikologi hanya ada di kota-kota besar, dan mustahil saya bisa kuliah di sana.

Jadi, maafkan aku ya, jika memang tak seberuntung orang lain yang begitu "klik" urusan kuliah dan restu ortunya....

Terus, saya pun kemudian berpikir, mungkin enggak, UT membuka jurusan Psikologi?

Jurusan Sosiologi aja bisa, masak Psikologi nggak bisa "menyesuaikan diri" dengan gaya belajar yang mandiri? Tapi, hmmm... kayaknya harus dipikir-pikir ulang, deh. Soalnya, bidang itu memang berhubungan dengan manusia, yang dituntut untuk interaksi, dan praktik-praktik sosial lainnya.

Waktu saya baca di Hipwee, jurusan sosiologi memang banyak yang ngasih tugas di lapangan; bertemu banyak orang. Nah, di jurusan psikologi, ya 11-12 lah. Belum lagi kalau disuruh kerjain statistika jilid 1 dan 2 yang ujung-ujungnya buat alat pengukuran psikologi dan disuruh "mempertahankannya", waaw lebih rumit lagi kalau diadaptasikan ke belajar mandiri!

Entahlah. Apa UT bisa menyesuaikan jurusan psikologi biar bisa pas untuk pembelajaran mahasiswa secara mandiri atau hanyalah sebuah hal yang mustahil, saya tidak tahu. Yang pasti, kebutuhan lulusan psikologi dewasa ini yang lama-kelamaan akan semakin banyak, dan celakanya lagi, tak semua daerah-daerah yang menyediakan Fakultas Psikologi di kampus!

Tarulah, Ilmu Perpustakaan yang memang urgent untuk dibutuhkan di dunia kerja. Tapi, itupun kebanyakan di kantor-kantor perpustakaan sekolah, kampus, maupun perusahaan saja. Lulusan psikologi, tentu lebih luas lagi. Kalau saya perkirakan nih, di daerah, adakah HRD yang berpendidikan psikologi. Masih jarang!

Dan, ketika saya melihat nama-nama tenaga medis yang bertugas di rumah sakit terdekat, yang ada hanyalah para dokter dan perawat. Tak ada satu pun psikolog di sana. Terus, kalau mau konsultasi masalah mental, ya dimana lagi?

Ya, itulah salah satu masukanku pada UT ke depannya--sebagai hadiah terindah untuk kampus terbuka pada hari Senin lusa, semoga pihak UT bisa mempertimbangkannya nanti. Apalagi, UT sudah punya rektor baru, bukan? Pasti akan membuat gebrakan demi gebrakan di era kepemimpinannya.

Hmmm, kalaupun tak terwujud nanti--dan memang jurusan ini yang terbaik bagiku meski saya tak terlalu menyukainya, semoga saya bisa diberikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan studiku, sembari merancang sebuah impian dan karier idaman yang bisa membantu hobi yang merupakan passion-ku, tahun depan....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 30 Agustus 2017

Pengumuman: Nahariyha Mundur dari Dunia Facebook!

Agustus 30, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Ya, sudah lama aku melakukan hal ini, dan akhirnya aku harus ku putuskan semuanya.

Akhir bulan ini, aku putuskan untuk hengkang dari dunia Facebook. Meninggalkan kenangan-kenangan yang telah kulalui bersamanya selama lebih dari lima tahun. Aku tahu, hal ini tidaklah mudah. Tapi, aku yakin, ini merupakan jalan yang terbaik untukku.

Terus, bagaimana dengan nasib teman-teman dan kerabatmu, apakah mereka akan rindu?

Mungkin ada yang rindu, tapi aku rasa tak akan rugi karena mereka telah melupakanku selepas SMA. Ya sudah, aku lupakan saja mereka!

Mungkin sewaktu SMA aku sudah melalui hari-hari bersama teman-teman, dan mereka mengabadikannya di media sosial Facebook. Tapi, selepas lulus SMA, kebersamaan kami di sekolah akhirnya berpisah.

Sejak saat itu, aku perlahan-lahan aku tak lagi aktif dan setia di Facebook, melainkan "berselingkuh" di dunia blogging. Apa pilihanku ini salah? Tidak, bahkan aku sangat menikmatinya! Malah, menurut teman sebangku pernah mengatakan, aku punya kelebihan di bidang bahasa, dan akhirnya diriku telah membuktikannya.

***
Setelah sekian lama terjun di dunia ngeblog, aku datang lagi ke Facebook. Awalnya, aku hanya ingin tahu apakah artikel-artikelku dari K ini di-share atau tidak. Akan tetapi, perlahan-lahan, diriku melihat apakah status-status facebook menjadi "lebih baik"? Hmmm, masih tidak berubah!

Ohh, aku ingat waktu SMA sering nulis status-status galau di FB. Namun, setelah menulis di blog umum, aku menyadari bahwa diriku mulai diajari menulis yang benar sampai etika bermedos itu bagaimana, sampai diajari literasi media segala. Dan itu benar, platform yang bernaung di perusahaan ternama dan berkualitas itu, mustahil mengajarkan hal-hal yang sembarangan!

Akhirnya, aku "didewasakan" di blog keroyokan ini, atas takdirNya yang menyeretku untuk menulis di sana. Sekaligus, membuatku jatuh cinta dengan bakat minatku saat ini. Bahkan, sampai menemukan, bidang apa yang selama ini menjadi perhatian lebih dariku untuk mempelajarinya lebih dalam, bahkan di bangku kuliah dan pekerjaan sekalipun.

Dan, hal ini tak ditemui di Facebook. Aku pernah menjadi korban peretasan dengan memasukkan foto-foto porno yang sangat kubenci. Belum lagi aku bergabung dengan banyak grup-grup tidak jelas itu, padahal aku tidak pernah klik untuk bergabung di sana. Ditambah, dengan banyak berita-berita hoax yang bertebaran di lini masa, apa aku tidak nyaman, coba?

Makanya, aku putuskan facebook ini untuk mengontak teman-temanku jika aku ingin bersilaturahmi. Tapi, itu pun tak bertahan lama. Terakhir, aku menggunakan akun ini untuk menghubungi seorang teman SD yang memilih mengabdi sebagai biarawati. Dan ya, ini memang pertemuan pamungkasku dengannya, yang dipertemukan lewat media sosial.

Akhirnya, aku rasa, akumulasi rasa sakit hati kepada teman karena tak dianggap sebagai teman sekolah, tidak nyaman karena porno dan hoax, dan status-status galau yang tak berfaedah, itulah yang membuat saya mengambil keputusan puncak; meninggalkan Facebook untuk selamanya!

Ya, memang tengah kurasakan sekarang.

Tapi, harus ku akui, kawan, aku bukan seorang Nahariyha Dewiwiddie yang tukang ngegalau seperti dulu. Namun, aku hanyalah manusia yang berusaha untuk bijak dan mengendalikan internet, di jalan manakah yang seharusnya ditempuh. Pertemuan di dunia maya telah usai, apakah di dunia nyata harus berakhir juga? Ya, mungkin saya terjadi.

Kini, aku harus ikhlas, untuk melupakan mereka yang tak lagi menganggapku bagian dari teman, walaupun statusnya sebagai teman di facebook. Mungkin ke depannya mereka akan kesulitan menghubungiku karena aku tak punya akun, dan ujung-ujungnya harus kirimkan e-mail.

Tak apa, malah sekarang aku lebih bebas karena aku bisa menikmati hidupku sendiri, dan bersahabat dengan orang yang "mengerti" aku, itu sudah cukup bagiku!

Maaf, aku harus meninggalkanmu, Facebook. Selamat tinggal....


Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini