Sabtu, 05 Agustus 2017

Akhirnya, Toko Buku Gramedia Hadir di Kota Metro!

Agustus 05, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Selamat datang di Toko Buku Gramedia yang kini hadir di Kota Metro, Lampung. Di sini, akan menjual berbagai macam barang-barang yang akan terbagi dalam tiga lantai. Yuk jelajahi, dan selamat berbelanja, Gramedia akan melayani Anda semua.

*kok pembukanya berlebihan banget ya?*

Setelah kami harus melalui waktu-waktu penantian dengan penuh kesabaran, akhirnya Toko Buku Gramedia resmi hadir di Kota Metro! Alhamdulillah. Harapan kami selaku warganet--yang berulang kali "menulis doa" di blog dan medsos--akhirnya terkabul juga. Yeaaay!

Ya, sudah lama kami mendambakan kehadiran itu. Sebelumnya, kami hanya bisa bermimpi, kapan toko buku terbesar dan terkenal hadir di kota kecil ini. Gramedia.... oh Gramedia, kapankah hadir di Metro, ya?

Pasalnya, jika mau membeli buku-buku berkualitas, ujung-ujungnya harus pergi ke Bandar Lampung yang dari sini memakan waktu perjalanan lebih dari satu jam. Dan, saya pun sudah pernah dua kali mampir di toko buku Gramedia Raden Intan. Ya sekaligus membuktikan ke papa saya bahwa ke Gramedia nggak melulu harus jauh-jauh ke Palembang sana *halah*

Rupanya, impian dan keluhan kami tentang kehadiran Gramedia di Metro, akhirnya "didengar" oleh pihak Gramedia Asri Media, sebagai pemilik toko buku ini. Seperti yang pernah saya ulas, kehadiran toko buku Gramedia di kota terbesar kedua di Lampung ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan buku berkualitas di Kota Metro. Dan, waktu pembukaan toko buku ini aja (15 Juli), sudah ramai pengunjung! Sayang, waktu itu saya nggak bisa ke sana, kondisiku belum pulih total!

Kami harap, Gramedia di Metro tak hanya sekadar singgah--seperti yang terjadi pada 2013, tapi bisa awet untuk selamanya. Aamiin...

***

Hari ini, setelah saya menghabiskan waktu membaca di Perpusda, saya langsung berjalan kaki melintasi jalan Ahmad Yani, kota Metro. Dalam batin, diriku berkata: "Semoga Gramedia buka ya!", dan akhirnya Gramedia benar-benar buka. Namun, saya tidak langsung mampir ke sana, karena harus makan siang terlebih dahulu di salah satu restoran. Habis itu, saya langsung mampir ke Gramedia.

Waktu pertama kalinya saya masuk ke tokonya, sambutan pegawai Gramedia yang ramah itu langsung menyapa saya dari dekat. Di lantai pertama, terjual tas dan alat-alat tulis, berserta dengan boneka-boneka dan peralatan edukatif lainnya.



Oh ya, di lantai pertama ini, meja kasir juga ada lho! Jadi, kalau udah puas belanja buku dan alat-alat lainnya, mau nggak mau ya harus turun ke lantai pertama buat bayar, kalau tidak ingin dianggap pencuri. Hehe :D

Oke, lanjut ke lantai kedua. Di lantai ini, terjual buku-buku tes CPNS dan buku tes-tes lainnya, buku fiksi yang memikat hati, kamus dan cerita-cerita anak.



Dan, sampailah di lantai terakhir, yang menjual buku-buku agama, kesehatan dan pengembangan diri (waah, bagian favoritku nih!). Ditambah, ada yang menjual kitab sucinya lho! Ya, walaupun masih ada yang jual buku yang agak lama, secara umum, ya lebih lengkap ketimbang toko-toko buku sejenis di kota Metro ini.



Padahal, di Gramed Palembang Atmo, lantai dua dan tiganya terbalik susunan jenis bukunya, tapi, ya nggak papa lah!

FYI nih, di lantai dua dan tiga, terjual buku-buku lama dengan special price antara Rp 10.000 sampai 30.000. Mungkin, ini tujuannya, supaya banyak warga Metro dan sekitarnya yang tertarik datang ke Gramedia, dan tak perlu khawatir dengan harga buku yang ada. Salut deh!


Dan, dari kunjungan ini, saya bisa membawa pulang tiga buku dari rak special price ini, walaupun sebenarnya saya ingin membeli buku rekomendasi saudara jauhku. Tapi, karena hanya alasan harga, ya belinya harus mikir ulang. Masa bodo', yang penting bisa bermanfaat, titik!

Oke, biar kalian lebih penasaran lagi dan tertarik untuk ke Gramedia Metro, silakan kunjungi tokonya di Jalan Ahmad Yani, 15A Metro Timur, di seberang Bank Eka *kok saya yang promosi?*

Tapi, kalau urusan lokasinya, ya hadapannya nggak persis-persis amat, 'kan yaa!

Selamat Mengeksplorasi, pembaca! Success for you, Gramed!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 05 Juli 2017

Apa Kabar, Kondisi Jalan-jalan di Lampung Tengah?


Tak salah, saya memilih (calon) bupati Mustafa ketika Pilkada Serentak akhir 2015 lalu. Soalnya, sebelum pemilihan dilakukan, sempat ada kabar, sayup-sayup, atau entahlah apa namanya, yang menyarankan tidak memilih calon bupati tertentu. Sudah, saya milih yang lain saja.

Nah, alasan saya memilih Pak Mustafa karena beliau adalah wakil bupati yang mendampingi bupati sebelumnya, Pak Pairin, jadinya beliau sudah punya pengalaman. Oh ya, Pak Pairin sekarang sudah jadi walikota Metro, lho. Asal tahu aja, Metro dulunya adalah bagian dari Lampung Tengah, sebelum memisahkan diri pada tahun 1999, menjadi kotamadya sendiri.

Dan, kebijakan yang dibuat Pak Mustafa akhirnya ada yang terbukti, meskipun hanya dirasakan sebagian. Ya, namanya aja tindakan dari sebuah program pemerintahannya, perlu waktu. Ditambah lagi, luas Lampung Tengah, menjadi wilayah terluas no.3 di Lampung, (masih kalah sama Lampung Timur yang dulunya masih jadi bagian dari kabupaten ini). Pantesan, ya, mau ke kecamatan lain, kadang perlu waktu 1 jam lebih....

Ya sudahlah, mengurus kabupaten yang luasnyaaa minta ampun, memang sulit. Apalagi ditambah dengan berbagai permasalahan, salah satu yang paling banyak, tentu saja jalan-jalan yang rusak! Karena itulah, rencana Pak Bupati Mustafa untuk membangun jalan kampung beraspal, tentu diacungi jempol, tentunya dana yang digunakan, diserahkan kepada pihak desa masing-masing.

Alasannya, menurut Jejamo.com ya apalagi kalau bukan kemudahan, sehingga mobilitas dan roda perekonomian di Lampung Tengah, tidak terganggu.

Kalau udah ada kebijakan seperti itu, saya setuju. Yeay! Saya bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, berkunjung ke rumah teman-teman dan tempat lainnya tanpa terganggu dengan jalan yang kasar dan berbatu. Soalnya, selama ini, pengaspalan jalan kampung hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, itupun dihubungkan dengan desa lain sebagai jalur alternatif.

Dan, akhirnya, kerja nyata dari Pak Mustafa, diperlihatkan hasilnya.

Dalam tahap pertama, jalan-jalan dekat sekolah mendapat prioritas untuk diaspal terlebih dahulu. Termasuk melewati kediaman saya dan keluarga. Bentuknya, melingkar seperti huruf U. Satu lagi, jalan lurus di dekat masjid TK, TPA, dan sekolah dasar negeri, sampai batas dusun lain.

Ya, gitu aja pengaspalan di sini. Di jalan-jalan bagian lain, semoga aja bisa menyusul....

Memang pengaspalan jalan kampung di desaku terlambat, jika dibandingkan dengan dua desa tetangga yang sebagian jalannya sudah diaspal. Tapi, bukankah itu lebih baik, ketimbang tidak sama sekali?

Sekarang beralih ke jalan raya. Masih teringat di pikiran saya, zaman SMP, dimana jalan desa Totokaton menuju Nunggalrejo, Kecamatan Punggur kayak kubangan air, jadi harus ekstra berhati-hati. Setelah diperbaiki, memang jalan dilalui dengan lancar. Kalau sekarang, bagaimana? Fyuh, kembali seperti dulu: rusak menyerupai kubangan!

Karena itulah, permasalahan jalan raya harusnya tak bisa dipandang remeh. Pemerintah Lamteng hendaknya harus memperhatikan permasalahan ini, termasuk bahan baku yang diperlukan untuk perbaikan jalan. Pastikan, bahan perbaikan jalan yang digunakan adalah bahan yang berkualitas, supaya jalan raya lebih baik dan awet ke depannya.

Ya semoga saja semua kecamatan bisa diperlakukan dengan adil, biar hasilnya bisa merata, dan tak ada adegan salah satu kecamatan yang merasa dianaktirikan gara-gara kurang diperhatikan, sehingga pilih pisah dengan kabupaten yang menaunginya.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 09 Juni 2017

Menulis Artikel tentang Introvert, Jangan Takut!


Sumber: entrepreneur.com
Menulis artikel-artikel tentang introversi memang tak menjamin bisa jadi viral dalam waktu singkat. Iya lah, siapa yang mau baca artikel itu? Kebanyakan dari manusia di muka bumi ini memang ekstrovert, jadi mereka pasti merasa nyaman dengan sifat mereka, dan bahagia jika banyak orang yang selalu di sisinya, mengiringi setiap detik-detik kehidupan.

Namun, karena saya sendiri adalah seorang introvert, maka saya merasa perlu untuk menulis berbagai artikel tentang introversi, dalam berbagai sisi kehidupan. Hal-hal yang biasanya identik dengan ekstrovert, saya memberikan penjelasan agar yang introvert bisa dimengerti. Misalnya saja kopdar, vlog, dan aktivitas yang butuh tampil di muka umum dan pertemuan dengan banyak orang.

Oh ya, kalau mereka lihat artikel-artikel saya, pasti mereka menilai saya hanya berteori aja. Bo'ong ah kalo kayak gitu. Mana mungkin saya menulis kalau saya tidak merasakan pengalaman dan pembelajaran terlebih dahulu? Seandainya kalau artikel saya ditulis berpatokan dari referensi secara text book, pasti "rasa" dari tulisan saya nggak kayak biasanya. Kaku, dan terasa beda.

Cuma, saya kalau menulis, tak semua pengalaman dari pembelajaran saya tuliskan secara langsung, melainkan ditarik kesimpulan apa yang telah kualami, iyaa 'kan?

Nah, seperti yang sudah kujelaskan di beberapa artikel, karena pengalaman itulah, isi dari tulisan tak bisa dibilang "asal-asalan" dan meragukan. Terlebih, kalau sudah dipadukan dengan referensi ilmiah dari berbagai sumber, jadi isi tulisan tersebut akan semakin kuat dan berkualitas.

Oke, kembali lagi. Memang saya, akhir-akhir ini kok jadi getol menulis artikel soal introversi?

Ya, karena semua ini berawal dari kesalahpahaman.

Kesalahpahaman karena si introvert adalah pribadi yang tertutup, padahal itu kurang tepat sebenarnya. Sebenarnya, ini lebih kepada cara memperoleh energi mental dari lingkungan. Bisa sih bertahan di dalam dunia luar, namun bersifat terbatas. Setelah energinya terkuras, baru balik ke rumah untuk beristirahat, mengisi ulang energinya, bukan?

Ada anggapan-anggapan yang menyebutkan, si innies cenderung pemalu, pendiam. dan tidak pandai bersosialisasi. Memang benar, tapi tak semua orang cenderung seperti itu. Masih ada orang introvert yang mudah berteman dengan banyak orang, dan bisa percaya diri. Ya, semua ini, kembali lagi dengan kondisi pribadi masing-masing.

Tapi, secara umum, orang introvert kurang menyukai kegiatan yang butuh interaksi dengan banyak orang. Apalagi kalau disorot.... duuh, betapa tersiksanya! Makanya, saya menulis artikel-artikel yang biasa dilakukan oleh masyarakat, dan mengikuti perkembangan di era kekinian. Tapi, tentu dengan sisi lain dari seorang introvert.

Dan janganlah takut kalau menulis tentang hal itu, ya! Karena, saya yakin, masih ada orang senasib denganku yang butuh info itu, dalam berbagai sisi kehidupan. Sehingga, informasi tersebut bisa bermanfaat, dan kaum introvert bisa lebih bahagia serta tidak minder dengan temperamennya, bukan?

Dah, jangan khawatir lagi. Kaum introvert 'kan punya kelebihan nih, maka berkaryalah dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan bidang yang disukai, ok?

I'm introvert, and I'm proud of it!

Minggu, 04 Juni 2017

Resensi Buku School of Skills: Menjadi Penulis Konten yang "Ahsanu Amala"

Sewaktu saya berada di Palembang, tepatnya di toko buku Gramedia World, mama saya merekomendasikan untuk membeli buku yang pas untuk hobiku. Judulnya, "School of Skills: Menulis untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat".

Dan, ketika saya membaca buku--yang notabenenya adalah buku motivasi untuk berdakwah--diriku merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga, yang tentunya berguna saat mengarungi dunia kepenulisan di masa depan.

Salah satunya, kita diperintahkan, dalam limit waktu yang terbatas ini, untuk menulis yang ahsanu amala, bukan aktsaru amala, karena sesuatu yang berkualitas, tentu tulisannya akan "berdaya ledak tinggi!" (hal.57). Apalagi kita dituntut untuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
"Jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, niscaya engkau akan disibukkan dengan keburukan"

Nah, dalam menulis, tentunya tulisan yang kita hasilkan harus berilmiah, juga dipertanggungjawabkan secara ilahiyah. Pilihlah yang terbaik, dan pastikan, materi tulisan kita tidak melanggar syariat.
"Kita harus sangat berhati-hati jika tulisan kita menjadi inspirasi keburukan orang lain. Karena bisa menjadi dosa jariyah yang tak pernah berhenti. Ngeri. Astaghfirullah."

Lalu pesan dari Imam Syafi'i rahimahullah yang harus diingat ketika menuntut ilmu, baik agama maupun dunia, yang berjumlah enam perkara.
"Kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali enam perkara, yaitu kecerdasan, gemar belajar, bersungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru, dan perlu waktu lama" (hal.30)

Selanjutnya, saya tahu, pelajaran yang diambil dari kisah Sayyidah Nafisah (hal 21-22). Beliau adalah seorang wanita shalihah yang pandai memanfaatkan waktunya untuk meningkatkan keimanan, dan hal itulah yang mendorongnya untuk berdakwah di jalan Allah. Berkat kesungguhan dalam kebaikan, beliau diwafatkan dalam keadaan berpuasa, di bulan suci Ramadan pula! Subhanallaaah...

Kemudian, tentang membaca yang dibahas dalam bab "Paradigma Membaca". Sayangnya, banyak orang yang punya banyak koleksi buku, namun tak menghasilkan apa-apa selain uang. Jadi, kalau kita ingin kegiatan membaca kita berbuah karya, lihatlah Imam Syafi'i yang menjadikan buku sebagai pemantik ide menulisnya. Beliau masuk perpustakaan dan ketika keluar dari perpustakaan, beliau telah membuat karya baru, bukan copas skripsi!

Lalu, setelah itu, barulah kita mengolah ide menjadi sebuah tulisan. Di buku ini, Pak Shol menjelaskannya melalui filosofi "Menulis Selezat Memasak". Lima langkah tersebut antara lain:
1). Memiliki gagasan yang bersih, segar dan cemerlang
2). Mencari sumber yang bersih, halal dan segar
3). Mengolahnya dengan resep khas dan cerdas
4). Mencicipi dengan hati yang jernih dan lidah yang fasih
5). Menyajikannya dengan indah dan mulia.

Tentunya, kita menulis tentunya dijadikan sebagai tarbiyah diri sendiri, memaknai setiap peristiwa sebagai muhasabah diri.

Dan, masih banyak hal-hal lain yang tentunya, tak bisa kujelaskan semuanya.

Penasaran? Yuk, miliki bukunya, dan rasakan efek motivasi yang akan membakar semangat menulismu!

KETERANGAN BUKU:

Judul Buku: School of Skills
Penulis: Solikhin Abu Izzuddin
Penerbit: Pustaka Ikadi
Tahun Terbit: 2015
Jumlah halaman: 218 halaman


Minggu, 28 Mei 2017

Mencintai Nulis Boleh, tapi Membenci Riset, Jangan!

Sumber: writing.com
Enaknya, kalau orang sedang menulis itu, menuliskan apa yang telah dirasakan dan punya pengalaman sebelumnya, terus memberi solusi atas pengalaman tersebut. Kalau lebih beruntung, bisa berkunjung ke tempat wisata, restoran, terus menuliskan hasil reportasenya. Gampang 'kan 

Tapi, tulisan yang punya keutamaan--alias tulisan-tulisan yang berkualitas, adalah karya yang dihasilkan setelah melewati tahapan-tahapan yang bernama riset. Artinya, kita dituntut untuk membaca artikel-artikel yang terhampar di berbagai sumber, yang berkaitan dengan itu. Berarti, nggak bakalan cukup kalau kita sekadar melahap bacaan, lalu ditulis ala kadarnya, bukan?

Ya, seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini. Tiada hari tanpa riset. Kalau cuma mengandalkan pengalaman, apa mungkin tulisan-tulisan saya akan lebih bermutu? Belum tentu! Bahkan, harus dilakukan oleh seorang penulis maupun blogger, meskipun yang diriset adalah hal-hal yang "dibenci". Misalnya saja, tentang Vlog, padahal saya jarang menonton video di laptop pribadiku, malah saya nonton Vlog di televisi. Biasa, menghemat kuota paket saya, hehe :D

Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan, tentu saja biar isi tulisan kita nggak "ngasal" (ah, kayak waktu mengerjakan ulangan di sekolah), dan kita tidak dianggap sebagai pribadi sok tahu, merasa pendapat kita yang paling benar. Selain itu, agar tulisan yang akan dipublikasikan nanti, bisa dipercaya oleh para pembacanya.

Makanya, kalau ingin jadi penulis yang baik, janganlah terlalu sombong dan membanggakan diri, apalagi sampai menolak untuk menerima saran dan kritikan dari pembacanya, meskipun dalam hal-hal kecil seperti materi dan penulisan yang kurang tepat. Bukankah lewat kesalahan dan kekurangan dalam menulis, kita justru ditempa menjadi penulis yang karya-karyanya "berkembang"?

Duuh, rasanya, demi mencapai kesempurnaan, saya harus lebih siap untuk menyiapkan materi, dan berhati-hati dalam menulis nih....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 14 Mei 2017

Mengedit Foto, Cara Terbaik Mempermanis Ilustrasi Tulisan

Selain menulis, salah satu aktivitas sering saya lakoni adalah mengedit foto. Yup, memang dari zaman SMA saya sudah menyukai kegiatan yang satu ini. Kalau dari awal-awal yang diedit adalah foto diriku sendiri dan teman-teman di sekolah, serta kartun hewan dan animasi muslimah, sekarang malah merembet ke hal-hal lain, dari buku-buku bahkan kegiatan reportase seperti makan-makan di KFC! :D

Soalnya, walaupun saya tidak berarti membenci menyisipkan foto apa adanya, namun kalau ngedit foto, hasil gambarnya akan lebih menarik dan nggak ngebosenin. Selain itu, tentu saja biar nggak memperlihatkan hal-hal yang melanggar aturan dan syari'at. Ya, seperti yang saya alami ketika menghadapi masalah menentukan ilustrasi foto untuk lomba blog, yang pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan collage biar ilustrasinya menarik dan bisa dipertegas lagi!

Salah satu ilustrasi tulisan untuk lomba blog

Nah, mengapa saya suka mengedit foto? Karena saya suka gambar, dan tentunya saya lebih menginginkan gambar jadi lebih berkesan untuk melengkapi sebuah tulisan. Kurasa, ada benarnya deh, jika dihubungkan dengan potensi kecerdasan, kecerdasanku di bidang visual-spasial lumayan, tapi nggak menonjol. Coba aja kalau punya kecerdasan visual lebih, selangkah lagi saya bisa berkarya di bidang desain visual dan grafis!

Oh ya, dalam mengedit foto, jika menggunakan apilkasi komputer, saya biasanya pakai Photoscape, kadang pakai  aplikasi bawaan dari Windows, Paint. Mengapa saya tak pakai Photoshop? Karena menurutku penggunaannya ribet, dan aplikasinya juga lumayan rumit!

Kalau di web, saya pernah pakai Muzy.com untuk mengedit kartun muslimah dan gambar berisikan ayat-ayat Qur'an, tapi semenjak jadi aplikasi di Android, saya malas menggunakannya. Kalau ngedit di hapeku, pasti berat kalau nginstal, hehe :D

Selain di Muzy.com, saya juga ngedit foto di photofacefun.com, pizap.com, dan masih banyak lagi aplikasi web yang saya lupa alamatnya apa. Dari sekian banyak foto-foto yang saya edit, salah satunya dibingkai dan disimpan di dalam kamarku, dan kebanyakan diantaranya tersimpan di hardisk lamaku, belum sempat dipindah ke laptop baruku. Jadi, dengan banyak foto-foto tersebut, 'kan jadi banyak varian untuk mempercantik isi tulisan!

Oleh karena itu, kalau belum terbiasa, yuk, edit foto-foto kalian, sesuka hatimu. Manfaatkan fasilitas edit foto yang telah tersedia. Tentu saja, foto yang bisa memberi manfaat untuk melengkapi artikel sekalian untuk memunculkan gagasan tulisanmu lewat gambar jepretan kamera tersebut, bukan sekadar foto-foto selfie lebay dan pamer diri kalian yang berlebihan, yang mungkin saja akan membawa bahaya bagi kehidupanmu kelak!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 12 Mei 2017

Mengapa Blogku Ada Dua dan Ditulis Terpisah?

 
Oke, saya tegaskan lagi, mengapa saya punya dua blog, bukan satu biar mudah diurusi? Atau jika ada pertanyaan yang ditujukan kepadaku, seperti ini:

"Kamu menulis di Kompasiana terus, kapan nulis di blog kamu sendiri?"

"Aduuuh, sepi bacanya, sebaiknya jangan buat blog sendiri!"

Hmmm, iya juga sih, tapi bagiku tentu ada alasan tertentu. Seperti yang saya tulis di awal-awal punya blog pribadi, saya memutuskan untuk membuat blog sendiri karena saya tinggal di daerah pedalaman yang tidak dikenal, hehe :D Kabupaten tempat tinggalku saja termasuk land lock, tak terhubung dengan laut, apalagi kota kecil dekat rumahku!

Memang, di mana-mana selalu ada ide tulisan yang terlintas di kepalaku. Inspirasinya, siapa yang tahu? Siapapun dan obyek apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Tapi karena alasan tema dan kualitas tulisan, makanya artikel-artikel saya, harus ditentukan, mana yang layak diunggah di Kompasiana atau di blog pribadiku. Terlebih lagi saya sudah memegang verifikasi biru, jadi saya tidak sembarangan lagi untuk menulis di platform blog sosial tersebut!

Oke, saya fokus ke tema. Memiliki dua hal yang berbeda antara passion dan bidang yang saya tekuni, belum lagi hal-hal lainnya yang dijelaskan untuk kalangan khusus, membuatku harus menulis artikel di dua blog yang tentunya terpisah. Mengapa demikian?

Sebab, blog pribadiku, yang beralamat dewiwiddie.blogspot.com ini lebih menyajikan hal-hal kedaerahan, keislaman, dan tentunya di dunia kepustakaan. Misalnya, bedah buku bersama penulis lokal, bazar buku murah, resensi buku (utamakan yang jarang ditulis) dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk akun blog kompasiana.com/dewiwiddie , awalnya dua tahun lalu saya belajar menulis di blog tersebut. Namun, saya slogan blognya berganti jadi Beyond Blogging, saya memutuskan untuk menulis yang "lebih serius" dan sangat berhati-hati. Makanya, saya berfokus pada passion saya, yaitu media dan psikologi. Kadang saya menulis puisi dan artikel tentang kehidupan sekolah.

Terus, jika saya ikutan lomba? Ya saya biasanya ikutan lomba jika ada tema yang bisa saya tulis. Kadang harus tayang di akun Kompasiana saya, kadang di blog pribadi. Bulan Maret lalu, saya mendapatkan undangan dari salah satu situs belanja online via e-mail. Dan, salah satu kententuannya, ya harus mem-posting tulisannya lewat blog pribadi. Alhamdulillah, untung saya lebih dulu punya!

Salah satu tulisan lomba yang ditayangkan di blog pribadi.


Ya, terlepas dari apapun itu, idealnya saya tetap untuk belajar menulis,  tak peduli di manapun blog yang saya punya. Belajar merangkaikan kata-kata untuk disampaikan kepada pembaca. Bukankah semakin berlatih akan semakin lancar untuk menulis. Jadi bukan soal punya atau tidak bakat menulis--karena bakat adalah anugerah tersendiri--namun bagaiamana untuk mengabadikan yang terbaik lewat karya (bagiku yang penting nggak melanggar syariat), dan ber-azzam untuk tetap berbagi ^_^

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

 

Kamis, 11 Mei 2017

Mengintip Bazar Buku Murah di Perpusda Metro

Sebenarnya,saat bazar buku yang diadakan di Perpusda Metro tersebut dibuka tanggal 8 Mei, saya malah terlalu fokus ke KFC untuk me-review menu terbaru untuk keperluan lomba blog. Jadi, ke Perpusda akhirnya terlupakan. Nyesel deh jadinya. Padahal jarak KFC ke Perpusda deket lho, nggak nyampe 100 meter, saya sudah sampai di sana!

Bersuyukurlah situs berita Jejamo.com memberitakan tentang event tersebut. Ya, sudah lama sekali bazar buku murah tak hadir di kota Metro. Di awal-awal tahun 2016 kalau nggak salah, sempat diadakan, namun setelah itu tak ada lagi para pedagang yang mau menjual buku-buku dengan harga murah. Apalagi ditambah ada kabar kalau Gramedia tidak mengadakan bazar bukunya di Bandar Lampung, melainkan di Pringsewu yang jauh dari rumahku. Yahhh...

Ya, saya baru tahu dari kemarin. Setelah tahu kabar tersebut, langsung saya bergegas ke Metro lagi! Di tengah perjalanan, saya sempat kepikiran, apakah bazar buku masih buka atau sudah tutup? Pasalnya, tak seperti bazar yang dulu-dulu, di bazar kali ini tak ada poster pemberitahuan yang dipasang di pohon-pohon atau tiang-tiang di pusat kota!

Dan, sesampainya di terminal kota, saya berjalan kaki menuju Perpusda. Ternyata, bazar bukunya masih buka! Saya lihat, ada beberapa pelajar yang sibuk memilh buku-bukunya. Ada juga mahasiswa, juga masyarakat umum yang mencarikan bahan bacaan untuk kehidupan mereka.

Di bazar buku kali ini, ada ratusan buku-buku yang beragam sesuai bidangnya. Mulai dari novel, keislaman, kesehatan, kamus, biografi, parenting, juga komik. Ada juga satu buku yang saya lihat, ditulis dalam bahasa Inggris (waah, buku bagus bagi yang suka tantangan baca buku asing, haha :D) Sayangnya, buku anak-anak malah ludes lebih dulu. Dan kata penjualnya, ya dari awal sudah diserbu, dan belum akan didatangkan kembali.


Ya, walaupun buku-buku lama, toh tak mengurangi antusias mereka untuk berburu buku murah. Karena, yang namanya buku pasti mengandung sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya, saya malah kesulitan mencari buku-buku berfaedah sesuai minatku, terlebih lagi buku-buku sebagai referensi dan inspirasi menulisku. Dan pada akhirnya saya membeli dua buku yang semoga aja akan berguna dihidupku kedepannya, aamiiin...

Oh ya, sama seperti bazar buku di Perpusda sebelumnya, kesemua buku-buku tersebut, dikelompokkan terus digantung harga bukunya pakai tali, dari atas tenda, seperti yang terlihat di foto-foto ini:

Tapi, ada yang berbeda dari segi penyelenggaraannnya. Jika penyelenggaraan bazar buku di Perpusda Metro adalah agency, kali ini penjual buku yang bernama Azril inilah yang akan menggelar bazar buku murahnya. Dan demi misinya untuk meningkatkan minat baca, beliau sampai berkeliling, berkunjung ke kota-kota di provinsi lain, lho!

Azril, sang penjual bazar buku di Perpusda
Saya tanya ke beliau, sampai kapan bazar buku ini dibuka? Beliau jawab bahwa bazar buku akan dibuka sampai sebulan ke depan. Jadi, jangan khawatir jika takut bazar buku akan tutup, ya!

Nah, jika kalian punya waktu luang, apalagi di hari libur seperti sekarang ini, ayo, ajak keluarga, sahabat, atau pasangan ke bazar buku di Perpusda! Diharapkan, semoga buku-buku murah yang dipamerkan akan mengantar negara kita menjadi lebih maju. Salam literasi!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi! ^_^

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini