Selasa, 12 Juni 2018

(Kutunggu Perjuangan Kalian, Menjadi Saksi di Kota Palembang!) Dukung Bersama Asian Games 2018



Halo atlet-altet Indonesia yang kubanggakan!

Apa kabar hari ini? Mudah-mudahan, kalian baik-baik saja, bukan?

Oh ya, bentar lagi kita semua akan menyambut hari raya Idul Fitri, ‘kan? Yeaaay, aku juga begitu. Lebih gembira lagi, tahun ini aku akan mudik ke pulau Jawa; ke kampung halaman papa dan rumah kerabat dari mama. Tapi....

Kurasa, kalian tak bisa melakukan hal yang sama denganku. Bahkan, kalian harus mengorbankan diri untuk tidak berkumpul dengan keluarga. Eitts, bukan karena tidak mau atau egois. Namun, ini semua kalian dilakukan demi NAMA BANGSA!

Aku tahu, tepat pada hari Lebaran, kalian harus bertandang ke luar negeri untuk mengikuti lomba atletik. Bahkan, sebagian dari kalian pada waktu tertentu harus rela mengikuti latihan-latihan dan perlombaan baik, baik di negeri sendiri maupun sebagai tamu di negeri orang. Ya begitulah kehidupan kalian sebagai atlet yang harus dihadapi. Namun, di balik itu, yakinlah suatu saat akan dibayar dengan hasil terbaik yaitu medali emas. Percayalah, kalian pasti bisa!

***

Hmmm, kalau soal perjuangan kalian dalam meraih gelar juara, aku jadi teringat pada masa kecilku. Entah kenapa, aku malah (lumayan) suka dengan dunia olahraga. Dunia yang tak semua rakyat negeri ini menaruh hati padanya, malah berpaling pada politik yang lebih menawan.

Kurasa, aku terbawa arus dari papa yang suka dunia bola dan juga pernah jadi atlet catur dan mewakili pekan olahraga se-provinsi. Tapi, aku melihat dunia olahraga ini, lebih dari itu. Ia adalah sejenis sihir yang ampuh dalam menumbuhkan rasa nasionalisme di hatiku, selain keberagaman yang mengalir dalam diri dan kujumpai di sekitarku.

Ah, kalau kalian tahu, aku yang baru lulus SD sepuluh tahun yang lalu, sudah terkena demam “Thomas and Uber Cup 2008” yang kala itu dihelat di Jakarta. Aku jadi tergirang dengan menyaksikan perjuangan pendahulu kalian di televisi, lalu membawaku ikut bermain bulutangkis dengan teman-teman sepermainan di halaman semen dalam lingkungan pabrik dimana dulu keluargaku pernah tinggal di sana. Seru deh pokoknya!

Nah, ceritaku tentang hal ini tak cukup sampai di sini. Setiap ada Indonesia Open, aku hampir tak ketinggalan menontonnya, apalagi kalau bukan permainan apik dari Taufik Hidayat, wooow.... Dan, tak hanya itu, pada final Olimpiade tahun 2016 lalu aku bahkan rela begadang sampai melewati pukul 12 tengah malam, demi melihat penampilan terbaik Owi/Butet yang mampu melibas lawan sampai bisa merebut medali yang bisa mempertautkan tradisi emas yang  sempat terputus pada empat tahun sebelumnya.

Oh ya, apakah aku hanya menyaksikan perjuangan kalian pada cabang olahraga bulutangkis? Tidak! Aku juga menyaksikan timnas bertanding pada dunia sepakbola.

Hah, sepakbola? Enggak salah nih, padahal kamu ‘kan perempuan, masa’ olahraga laki-laki kamu suka?

Lagi, dan lagi, rasa nasionalisme yang ditawarkan olahraga mampu meruntuhkan tembok pemisah yang dibangun oleh faktor apa pun, termasuk gender. Ya, tidak salah lagi. Demi kebesaran nama bangsa dan negara kita tercinta. Pastinya, rasa kebangsaan akan tanah air tempat saya lahir dan dibesarkan ini, semakin terbuncah kala para supporter bulutangkis meneriakkan yel-yel “IN-DO-NE-SIA”, serta para pecinta timnas yang menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku” untuk membangkitkan semangat juang para atlet-atlet yang berjuang demi nama negeri ini. Dahsyaaaat!

Lalu, setelah itu kabar perjuangan kalian akan tersebar di mana-mana. Aku pun tak mau ketinggalan. Aku merasa dibuntuti oleh berita tentang All England, Indonesia Open, Thomas & Uber Cup, Piala Sudirman, Kejuaraan Dunia, Timnas Indonesia, Asian Games dan Olimpiade, yang kesemuanya ini mendorongku untuk “mencuri” berita-berita itu. Upps, bukan mencuri  kabar secara ilegal ya, hahaha. Tapi, aku ingin tahu secepatnya, hasil yang kalian dapatkan, apakah kalian menang membanggakan, atau justru terima kekalahan dengan kelapangan batin.

***

Duhai para atlet-atletku yang sedang berjuang merebut mimpi,

Sekarang, waktu demi waktu telah berlalu. Tak terasa tahun 2018 ini telah tiba dan melewati hampir separuhnya. Namun, tahun ini ada yang istimewa, deh. Ya, bagaimana tidak wahai para atletku, kami akan menggelar pesta untuk menjamu atlet-atlet terbaik se-Asia, termasuk kalian di rumah sendiri. Ya apalagi, kalau bukan Asian Games 2018!

Tapi, apakah kami membayangkan jamuan itu seperti makan-makan di suatu tempat? Bukan itu! Melainkan, kami akan menyuguhkan kalian dan para tamu dalam bentuk pertandingan. Ya, pertandingan olahraga! Di sinilah mereka akan unjuk kebolehan dan kemampuan terbaik, siapa yang berhak, dan layak diberikan hadiah tertinggi berupa medali emas!

Kalian pun sama, wahai atlet-atlet Indonesiaku. Tapi, persaingan yang makin ketat janganlah sampai optimisme kalian terbang melayang. Aku yakin, dengan perjuangan yang lebih jujur dan sportif, latihan yang lebih keras, dan “meminjam” kekuatan Tuhan lewat lantunan doa, kalian pasti bisa, pasti bisa! Sehingga, target 10 besar perolehan medali dari seluruh Asia, tak hanya sebatas gambaran di ruang ingatan kalian.

***

Wahai atlet-atlet yang disayangi Ibu Pertiwi,

Asian Games 2018 kian mendekat dan mendekat. Kalian sudah mempersiapkan amunisi untuk berjuang membela nama bangsa. Ya, di “medan perang” olahraga sesungguhnya, di mana dua kota tuan rumah pilihan telah disiapkan untuk menjadi saksinya, Jakarta dan Palembang.

Hmmm, menyebut nama kota terakhir ini membuatku terbawa perasaan, duhai atlet-atletku. Ya, bagaimana tidak, soalnya Palembang adalah kota kelahiranku yang telah memberikan banyak kenangan dan suasana khasnya tak akan bisa tergantikan dalam hatiku. Pokoknya, menyaksikan Asian Games 2018 di kampung halaman sendiri adalah salah satu impianku yang harus diwujudkan!

Makanya, aku bertekad untuk datang dan #dukungbersama masyarakat lain yang datang dan berada di kota Pempek untuk menyaksikan perjuangan kalian untuk mengharumkan negeri kita, pada pertandingan olahraga terbesar se-Benua Asia ini. Walaupun di bumi Sriwijaya ini, adalah kota tuan rumah pendukung dan kurang lebih ada 13 cabang olahraga yang digelar.

Kalian tahu, mengapa aku tetap bertekad untuk wajib hadir sekaligus mudik di tanah kelahiranku saat games times, yang akan dibuka pada 18 Agustus nanti?

Semua ini, karena cinta.

Rasa-rasanya, perhelatan Asian Games di kota Palembang telah berhasil merayuku untuk kembali pulang. Kembali karena cinta. Cinta pada kampung halaman yang terikat dalam hatiku, dan juga pada kalian yang butuh suntikan semangat dari kami yang hadir di venue pertandingan, agar kalian—seperti yang kuharapkan—bisa mendulang medali emas lebih banyak lagi, wahai atlet-atlet kebanggaanku.

Oke, demi rasa cinta pada kota kelahiran dan negeri sendiri, kutunggu perjuangan kalian saat waktu pertandingan tiba, menjadi saksi Asian Games di kota Palembang!

Muaaachh! 

Salam cinta,
Nahariyha Dewiwiddie

Rabu, 27 September 2017

Bedah Buku Perpusda Metro yang Menginspirasiku

September 27, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yaaa... sudah lama saya tidak menghadiri bedah buku!

Terakhir kali, yang paling berkesan, pas ada bazar buku Inilah Saatnya untuk Action bersama Dominic Brian, remaja pemecah rekor dunia bidang mengingat. Dan itupun diadakan di Palembang. Lha sekarang? Ingin meliput penulis lain, tapi mana bisa? Jauuuuuhhh....

Melihat agenda bazar buku yang terpampang di baliho, kesempatan nih untuk datang! Sempat mau mencatat, tapi akhirnya saya urungkan. Malu ah, saya ini warga luar, bukan orang Metro....

Tapi, saya kembali bertemu adik kelas SMP dan SMA yang tak lain adalah anggota FLP di meja regristrasi. Mendaftar. Namun, saya sendiri dan lagi lagi mewakili diri sendiri. Tak ada sahabat yang menemani. Dan, saya hanya bisa terdiam, mendengarkan apa yang dibahas keempat narasumber tersebut.

Nah, melihat warga Metro ingin menulis dan menapak prosesnya menjadi penulis, rasanya saya mbatin: "Alhamdulillah, saya lebih baik dari mereka". Ups, bukan saya berlagak sombong laiknya Iblis mengingkari sujudnya Nabi Adam, tapi saya merasa beruntung, selangkah lebih maju dari mereka.

Buktinya, di blog K saya, dengan mengantongi seratusan headline, centang biru, kurasa pembaca mengenaliku sebagai penulis yang menelurkan karya hebat. Ah, sebenarnya ini diriku belum apa-apanya, belum benar-benar sempurna, masih harus ditingkatkan lagi.

Tapi, kalau dibandingkan dengan ketiga narasumber tersebut, yang sukses menembus media cetak dan menerbitkan buku, aku mah apa atuh, siapa saya ini? Rasanya, saya belum pantas untuk melangkah lebih jauh seperti mereka, apalagi kalau dibandingin dengan penulis best-seller Erica Febriani, duuh saya bukanlah siapa-siapa....

Tapi, menurut salah satu narasumber, cara terbaik untuk menulis adalah bergabung di komunitas. Komunitas? Kurasa tidak pernah, mustahil bagiku yang introvert dan tak punya banyak relasi. Namun, saya beruntung berada dalam platform blog, dikelola oleh perusahaan ternama dan punya nama, yang terkenal dengan harian KOMPAS itu. Karena mengutamakan kualitas dan hal-hal positif, pantas saya harus berkarya, memberi tulisan yang terbaik dong...

Lalu, ada tips lainnya. Penulis memang harus membaca, tentunya. Kemudian, narasumber yang berjilbab mengatakan bahwa menulis tergantung mood. Yup, saya memang setuju. Tapi, kadang-kadang, saya harus mengalahkan rasa malas tersebut karena tergoda akan target. Kalau tidak, saya menyesal jadinya, melewatkan waktu tanpa tulisan terbaikku.

Ya, begitulah kira-kira hasil informasinya. Pokoknya, saya harus bersemangat menulis lagi dan lagi, walau hanya seorang diri. Bukankah yang membuatku lebih bahagia?

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 24 September 2017

Bertemu Bazar Buku Gramedia di Perpusda Metro

September 24, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yeayy.... ada bazar buku Gramedia lagi di Metro!

Ketika saya ke Perpusda lagi, ada barang-barang yang digelar di bawah tenda, terus ditata rapi seperti pada gambar di atas. Rupanya, bazar buku yang diadakan Gramedia baru dibuka kemarin. Ya, wajar kalau pengunjungnya enggak terlalu rame.

Lalu saya berdiskusi sama kasir Gramedia-nya, kalau bazar buku ini sengaja digelar di Perpusda. Menurutku, alasan Gramedia menggelar bazar bukunya adalah: Pertama, toko Gramedianya kecil, area parkirnya enggak terlalu luas, berdempet dengan toko-toko lain, pokoknya lebih kecil dari toko Gramedia Palembang Atmo.

Kedua, karena tempatnya strategis, banyak pengunjungnya, sehingga bisa memudahkan. Lagi pula, saat ini adalah waktu dimana Hari Kunjung Perpustakaan digalakkan, bukan?


Oh ya, bazar buku yang diadakan Gramedia ini, tentu saja menjual ratusan buku yang beraneka ragam. Ada kuliner, fiksi, teknologi, agama, motivasi, dan sebagainya. Ada buku-buku yang ditaruh dalam rak, ada juga yang terhampar di atas meja. Tapi, sebagian di antaranya sudah pernah saya lihat waktu ke gedung Gramedia Metro.


Tapi, bedanya, buku-buku yang dijual di Gramedia Metro pada meja Special Price dengan bazar bukunya, ya di Bazar buku, tentu buku-buku yang ditampilkan akan lebih banyak. Tapi, saya tetap saja bingung, mau milih buku yang mana, apalagi buku-buku kesehatan, psikologi dan agama. Habis, harganya lumayan mahal, ada yang lima belas ribu, ada yang tiga puluh ribuan, ada yang empat puluh ribu lebih, pokoknya kalau beli buku, silakan lihat stiker harga di belakang buku ya!


Namun, setelah pikir-pikir, saya putuskan tidak membeli buku kesehatan. Soalnya ada buku serupa yang lebih bermutu, yang kapan-kapan akan beli di situs daring walaupun harganya lebih mahal. Lalu, saya kepincut sama buku Ustadz Backpacker. Ya gimana tidak, sebagai penyuka traveling, pasti saya ingin baca, karena toh ada nuansa agama. Sayangnya, harganya lumayan mahal, lagi pula ada buku bacaan yang belum tuntas dan uangnya pas kalau dibeli. Ya udah deh, lain kali.


Ya, walaupun jadwal bazarnya buka lebih awal, berdasarkan jadwal, bazar buku akan berlangsung sampai 29 September 2017. Kalau tanya langsung sama petugas bazarnya, saya enggak sempat waktu itu!

Duuh, rasanya saya ingin ikutan acara Hari Kunjung Perpustakaan, biar warna-warni dan semarak saat ke perpustakaan. Tapi, harus dihemat dulu deh, bawa bekal dan harus sarapan dari rumah. InsyaAllah kalau bisa mendukung, saya ke sana lagi!

Ayoooo, kalau belum sempat, yuk ramaikan acaranya!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 23 September 2017

Refleksiku: Pencapaian 100 Headline dan Kue Bulan

September 23, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Seperti perjalanan besar yang memakan waktu cukup panjang, pasti suatu saat akan berhenti, lalu beristirahat sebentar. Begitu pun dengan menulis, aku akan berhenti, dan merefleksi apa yang ku perbuat, dan kucapai selama ini.

Minggu lalu, sewaktu saya ke kota, kembali lagi singgah ke supermarket terbesar dan terkenal di kota itu. Di sana, terpajanglah berbagai macam kue bulan yang sangat penting bagi warga Tionghoa.

Kue bulan? Itu lho, kue yang biasa disajikan pas Festival Musim Gugur. Walaupun kue tersebut bikin saya tertarik, tapi bukan karena ingin ikut-ikutan merayakannya, ya!

Sayangnya, karena harganya lumayan mahal, per buahnya seharga Rp 20.000, ya udah deh, terpaksa ditunda dulu.

Dari situlah, justru muncullah sebuah janji dari hati saya, kalau jumlah artikel yang dinilai headline di blog Kompasiana-ku genap 100, saya akan dibelikan hadiah untuk diri sendiri; Kue Bulan!

Tentu, bagaimana tidak, hadiah tersebut justru memacuku untuk semangat menulis dan menulis lagi; memberi yang terbaik. Alhamdulillah, kini artikel headline-ku di K ini sudah genap seratus ("nyusul" Bang Bo yang lebih dulu meraih jumlah serupa), berkat artikelku tentang rasa malu. Jumlah yang tidak mudah untuk meraihnya, apalagi diriku yang notabenenya anak rumahan!

Lagi pula, blogger K yang meraih jumlah ratusan headline, masih sangat sedikit, 'kan?

Yang paling menggembirakan lagi, artikelku ini akhirnya terpilih untuk ikut masuk ke aliran berita yang ditampilkan Kompas.com waktu itu (bersama dengan artikel lain dari Pak Bamset), bukan di kolom Kompasiana! Duuh... senangnyaaa!


Nah, atas pencapaian itu, hari ini akhirnya janjiku untuk menikmati kue bulan akhirnya terwujud juga. Waktu di meja kasir, kasir yang tak lain adalah teman SMP-ku bertanya "Kamu beli kue Cina ya? Buat apa?"

Terus saya jawab: Enggak, saya memang suka kue, kok.

Oke, lanjut....

Ya, bukan perkara gampang untuk meraih "artikel yang terbaik, dari yang terbaik", yang berhak menduduki bagian paling atas dari platform blog milik KG ini. Di balik itu, tersimpan segala perjuanganku untuk bisa meraihnya. Mulai dari riset, perenungan, dan banyak membaca, tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman. Bahkan, ada juga artikel headline yang didapatkan justru dari luar rumah, dan melibatkan percakapan bersama teman!

Terus, waktu menulis. Pernah saya menulis salah satu artikel yang butuh waktu lebih dari sehari, lalu hasilnya nyaris sempurna dibanding artikel-artikel yang muncul setelahnya. Dari situlah saya dapat pelajaran, kalau ingin menulis sempurna, harus pelan-pelan, jangan nulis cepat kayak kejar tayang!

Lalu, tantangan saya saat menulis itu, melawan rasa malas. Setiap saya belajar materi untuk menulis kadang rasanya malaaaas sekali, dan ujung-ujungnya baca informasi lain. Tapi, kadang informasi tersebut, alhamdulillah-nya bisa kepake juga. Kadang pula, saya sampai lupa cari info lain, yang ternyata sangat penting saat nulis. Itulah yang saya sesalkan.

Tapi, kadang-kadang sebenarnya "rasa malas" itu, sambil baca-baca materinya, karena takutnya saya enggak siap saat menulis, bukan?

Terus, kalau teringat pembaca setia, alias fans tulisanku? Boro-boro ingat, kenal aja enggak. Teman-temanku juga tidak banyak yang tahu saya itu sebenarnya menulis. Ah, biarkan saja. Menceburkan diri ke dunia kepenulisanku yang sunyi memang enak bagiku yang suka menyendiri.

Yang penting, saya ingat motivasi terbesarku untuk terus menulis, seperti yang pernah saya tuliskan di artikel ini.

Mungkin, selain di artikel ini, mungkin saya akan berencana untuk instropeksi diri besar-besaran terkait dengan belajar menulis, lalu perbaikan ke depannya baagaimana....

***

Ternyata, dari kegiatan menulis, saya jadi tersadar, akan pentingnya belajar, lalu menerapkan ilmunya agar tak terbuang sia-sia. Kemudian memacu diri untuk rajin membaca, itu pasti. Dan yang pasti, menyelamatkan diriku dari kegiatan dan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Nah, habis pencapaian 100 headline ini, saya putuskan akan berjalan; mengalir apa adanya saat diriku meneruskan dunia menulis. Mungkin, saya akan menerapkan metode 'pelepasan' saat posting tulisan ala Gobind Vashdev.

Dan, tentu saja saya akan menulis dengan pelan-pelan, siap akan materinya, dan (berusaha) dengan cara yang jujur dan tampil sempurna, serta mempertahankan tema kepenulisan saya, walaupun saya tidak lagi menulis hal-hal yang dianggap makruh dan haram dalam pandangan keyakinanku; pokoknya harus diperketat lagi deh!

Satu lagi, tahun depan, akan disediakan bulan khusus untuk mem-posting artikel hasil perjalananku ke Palembang saat Asian Games, tepatnya pada bulan Agustus. Dan saya memang sedang merencanakan impianku ini, insyaAllah saya akan menyaksikannya di sana! Do'ain ya, pembaca....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Anak rumahan yang kadang rindu plesiran & jalan-jalan

Sabtu, 02 September 2017

Andai UT Membuka Jurusan Psikologi...

September 02, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: http://alumni-ut.com

Pada hari sebelumnya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Kurban bagi yang merayakannya! Semoga, pada awal bulan ini (kalau ikut penanggalan masehi), kita bisa mewujudkan rela berkorban dalam kehidupan, dan ber-azzam untuk saling berbagi. Aamiiin....

Oke, sudahin dulu ya, pembukanya.

Kali ini, saya menulis tentang keluhanku dan kegalauanku selama ini. Ingin menempuh pendidikan tinggi sesuai jurusan yang disukai, eh malah terkendala izin orang tua. Pasalnya, mereka itu orangnya protektif; nggak rela putrinya kuliah di luar kota dan menginginkan kuliah di lokasi yang dekat saja.

Tapi, sekarang aja, mikirin kuliah dan baca modulnya aja sudah malas, enggak semangat lagi. Bukannya tidak bodoh, sih (karena kemampuanku cukup bagus meskipun kalah dengan yang jenius), tapi hatiku merasa tidak bersenyawa dengan jurusan yang kutekuni sekarang. Modul-modul kuliah yang pernah kupelajari, sedikit sekali yang nyangkut di otak, walaupun sudah berulang-kali mendalaminya.

Apa saya harus menyerah saja dan lebih baik cari pekerjaan? Hei! zaman sekarang ini, mana mau menerimaku yang hanya lulusan SMA?

Ya udah deh.... aku terusin nulis, lalu rajin ikutan lomba blog...

***

Ya, meskipun Ilmu Perpustakaan yang saya ambil memang sesuai dengan kepribadianku, dan ada unsur bidang media, dan saya juga berminat di bidang tersebut, tetap saja masih kalah dengan bidang lainnya.

Jujur, saya memang sudah lama tertarik dan menggemari hal-hal yang bisa memotivasi dan pengembangan diri, yang kesemuanya bermuara pada psikologi. Masalahnya, jurusan psikologi hanya ada di kota-kota besar, dan mustahil saya bisa kuliah di sana.

Jadi, maafkan aku ya, jika memang tak seberuntung orang lain yang begitu "klik" urusan kuliah dan restu ortunya....

Terus, saya pun kemudian berpikir, mungkin enggak, UT membuka jurusan Psikologi?

Jurusan Sosiologi aja bisa, masak Psikologi nggak bisa "menyesuaikan diri" dengan gaya belajar yang mandiri? Tapi, hmmm... kayaknya harus dipikir-pikir ulang, deh. Soalnya, bidang itu memang berhubungan dengan manusia, yang dituntut untuk interaksi, dan praktik-praktik sosial lainnya.

Waktu saya baca di Hipwee, jurusan sosiologi memang banyak yang ngasih tugas di lapangan; bertemu banyak orang. Nah, di jurusan psikologi, ya 11-12 lah. Belum lagi kalau disuruh kerjain statistika jilid 1 dan 2 yang ujung-ujungnya buat alat pengukuran psikologi dan disuruh "mempertahankannya", waaw lebih rumit lagi kalau diadaptasikan ke belajar mandiri!

Entahlah. Apa UT bisa menyesuaikan jurusan psikologi biar bisa pas untuk pembelajaran mahasiswa secara mandiri atau hanyalah sebuah hal yang mustahil, saya tidak tahu. Yang pasti, kebutuhan lulusan psikologi dewasa ini yang lama-kelamaan akan semakin banyak, dan celakanya lagi, tak semua daerah-daerah yang menyediakan Fakultas Psikologi di kampus!

Tarulah, Ilmu Perpustakaan yang memang urgent untuk dibutuhkan di dunia kerja. Tapi, itupun kebanyakan di kantor-kantor perpustakaan sekolah, kampus, maupun perusahaan saja. Lulusan psikologi, tentu lebih luas lagi. Kalau saya perkirakan nih, di daerah, adakah HRD yang berpendidikan psikologi. Masih jarang!

Dan, ketika saya melihat nama-nama tenaga medis yang bertugas di rumah sakit terdekat, yang ada hanyalah para dokter dan perawat. Tak ada satu pun psikolog di sana. Terus, kalau mau konsultasi masalah mental, ya dimana lagi?

Ya, itulah salah satu masukanku pada UT ke depannya--sebagai hadiah terindah untuk kampus terbuka pada hari Senin lusa, semoga pihak UT bisa mempertimbangkannya nanti. Apalagi, UT sudah punya rektor baru, bukan? Pasti akan membuat gebrakan demi gebrakan di era kepemimpinannya.

Hmmm, kalaupun tak terwujud nanti--dan memang jurusan ini yang terbaik bagiku meski saya tak terlalu menyukainya, semoga saya bisa diberikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan studiku, sembari merancang sebuah impian dan karier idaman yang bisa membantu hobi yang merupakan passion-ku, tahun depan....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 30 Agustus 2017

Pengumuman: Nahariyha Mundur dari Dunia Facebook!

Agustus 30, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Ya, sudah lama aku melakukan hal ini, dan akhirnya aku harus ku putuskan semuanya.

Akhir bulan ini, aku putuskan untuk hengkang dari dunia Facebook. Meninggalkan kenangan-kenangan yang telah kulalui bersamanya selama lebih dari lima tahun. Aku tahu, hal ini tidaklah mudah. Tapi, aku yakin, ini merupakan jalan yang terbaik untukku.

Terus, bagaimana dengan nasib teman-teman dan kerabatmu, apakah mereka akan rindu?

Mungkin ada yang rindu, tapi aku rasa tak akan rugi karena mereka telah melupakanku selepas SMA. Ya sudah, aku lupakan saja mereka!

Mungkin sewaktu SMA aku sudah melalui hari-hari bersama teman-teman, dan mereka mengabadikannya di media sosial Facebook. Tapi, selepas lulus SMA, kebersamaan kami di sekolah akhirnya berpisah.

Sejak saat itu, aku perlahan-lahan aku tak lagi aktif dan setia di Facebook, melainkan "berselingkuh" di dunia blogging. Apa pilihanku ini salah? Tidak, bahkan aku sangat menikmatinya! Malah, menurut teman sebangku pernah mengatakan, aku punya kelebihan di bidang bahasa, dan akhirnya diriku telah membuktikannya.

***
Setelah sekian lama terjun di dunia ngeblog, aku datang lagi ke Facebook. Awalnya, aku hanya ingin tahu apakah artikel-artikelku dari K ini di-share atau tidak. Akan tetapi, perlahan-lahan, diriku melihat apakah status-status facebook menjadi "lebih baik"? Hmmm, masih tidak berubah!

Ohh, aku ingat waktu SMA sering nulis status-status galau di FB. Namun, setelah menulis di blog umum, aku menyadari bahwa diriku mulai diajari menulis yang benar sampai etika bermedos itu bagaimana, sampai diajari literasi media segala. Dan itu benar, platform yang bernaung di perusahaan ternama dan berkualitas itu, mustahil mengajarkan hal-hal yang sembarangan!

Akhirnya, aku "didewasakan" di blog keroyokan ini, atas takdirNya yang menyeretku untuk menulis di sana. Sekaligus, membuatku jatuh cinta dengan bakat minatku saat ini. Bahkan, sampai menemukan, bidang apa yang selama ini menjadi perhatian lebih dariku untuk mempelajarinya lebih dalam, bahkan di bangku kuliah dan pekerjaan sekalipun.

Dan, hal ini tak ditemui di Facebook. Aku pernah menjadi korban peretasan dengan memasukkan foto-foto porno yang sangat kubenci. Belum lagi aku bergabung dengan banyak grup-grup tidak jelas itu, padahal aku tidak pernah klik untuk bergabung di sana. Ditambah, dengan banyak berita-berita hoax yang bertebaran di lini masa, apa aku tidak nyaman, coba?

Makanya, aku putuskan facebook ini untuk mengontak teman-temanku jika aku ingin bersilaturahmi. Tapi, itu pun tak bertahan lama. Terakhir, aku menggunakan akun ini untuk menghubungi seorang teman SD yang memilih mengabdi sebagai biarawati. Dan ya, ini memang pertemuan pamungkasku dengannya, yang dipertemukan lewat media sosial.

Akhirnya, aku rasa, akumulasi rasa sakit hati kepada teman karena tak dianggap sebagai teman sekolah, tidak nyaman karena porno dan hoax, dan status-status galau yang tak berfaedah, itulah yang membuat saya mengambil keputusan puncak; meninggalkan Facebook untuk selamanya!

Ya, memang tengah kurasakan sekarang.

Tapi, harus ku akui, kawan, aku bukan seorang Nahariyha Dewiwiddie yang tukang ngegalau seperti dulu. Namun, aku hanyalah manusia yang berusaha untuk bijak dan mengendalikan internet, di jalan manakah yang seharusnya ditempuh. Pertemuan di dunia maya telah usai, apakah di dunia nyata harus berakhir juga? Ya, mungkin saya terjadi.

Kini, aku harus ikhlas, untuk melupakan mereka yang tak lagi menganggapku bagian dari teman, walaupun statusnya sebagai teman di facebook. Mungkin ke depannya mereka akan kesulitan menghubungiku karena aku tak punya akun, dan ujung-ujungnya harus kirimkan e-mail.

Tak apa, malah sekarang aku lebih bebas karena aku bisa menikmati hidupku sendiri, dan bersahabat dengan orang yang "mengerti" aku, itu sudah cukup bagiku!

Maaf, aku harus meninggalkanmu, Facebook. Selamat tinggal....


Sabtu, 05 Agustus 2017

Akhirnya, Toko Buku Gramedia Hadir di Kota Metro!

Agustus 05, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Selamat datang di Toko Buku Gramedia yang kini hadir di Kota Metro, Lampung. Di sini, akan menjual berbagai macam barang-barang yang akan terbagi dalam tiga lantai. Yuk jelajahi, dan selamat berbelanja, Gramedia akan melayani Anda semua.

*kok pembukanya berlebihan banget ya?*

Setelah kami harus melalui waktu-waktu penantian dengan penuh kesabaran, akhirnya Toko Buku Gramedia resmi hadir di Kota Metro! Alhamdulillah. Harapan kami selaku warganet--yang berulang kali "menulis doa" di blog dan medsos--akhirnya terkabul juga. Yeaaay!

Ya, sudah lama kami mendambakan kehadiran itu. Sebelumnya, kami hanya bisa bermimpi, kapan toko buku terbesar dan terkenal hadir di kota kecil ini. Gramedia.... oh Gramedia, kapankah hadir di Metro, ya?

Pasalnya, jika mau membeli buku-buku berkualitas, ujung-ujungnya harus pergi ke Bandar Lampung yang dari sini memakan waktu perjalanan lebih dari satu jam. Dan, saya pun sudah pernah dua kali mampir di toko buku Gramedia Raden Intan. Ya sekaligus membuktikan ke papa saya bahwa ke Gramedia nggak melulu harus jauh-jauh ke Palembang sana *halah*

Rupanya, impian dan keluhan kami tentang kehadiran Gramedia di Metro, akhirnya "didengar" oleh pihak Gramedia Asri Media, sebagai pemilik toko buku ini. Seperti yang pernah saya ulas, kehadiran toko buku Gramedia di kota terbesar kedua di Lampung ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan buku berkualitas di Kota Metro. Dan, waktu pembukaan toko buku ini aja (15 Juli), sudah ramai pengunjung! Sayang, waktu itu saya nggak bisa ke sana, kondisiku belum pulih total!

Kami harap, Gramedia di Metro tak hanya sekadar singgah--seperti yang terjadi pada 2013, tapi bisa awet untuk selamanya. Aamiin...

***

Hari ini, setelah saya menghabiskan waktu membaca di Perpusda, saya langsung berjalan kaki melintasi jalan Ahmad Yani, kota Metro. Dalam batin, diriku berkata: "Semoga Gramedia buka ya!", dan akhirnya Gramedia benar-benar buka. Namun, saya tidak langsung mampir ke sana, karena harus makan siang terlebih dahulu di salah satu restoran. Habis itu, saya langsung mampir ke Gramedia.

Waktu pertama kalinya saya masuk ke tokonya, sambutan pegawai Gramedia yang ramah itu langsung menyapa saya dari dekat. Di lantai pertama, terjual tas dan alat-alat tulis, berserta dengan boneka-boneka dan peralatan edukatif lainnya.



Oh ya, di lantai pertama ini, meja kasir juga ada lho! Jadi, kalau udah puas belanja buku dan alat-alat lainnya, mau nggak mau ya harus turun ke lantai pertama buat bayar, kalau tidak ingin dianggap pencuri. Hehe :D

Oke, lanjut ke lantai kedua. Di lantai ini, terjual buku-buku tes CPNS dan buku tes-tes lainnya, buku fiksi yang memikat hati, kamus dan cerita-cerita anak.



Dan, sampailah di lantai terakhir, yang menjual buku-buku agama, kesehatan dan pengembangan diri (waah, bagian favoritku nih!). Ditambah, ada yang menjual kitab sucinya lho! Ya, walaupun masih ada yang jual buku yang agak lama, secara umum, ya lebih lengkap ketimbang toko-toko buku sejenis di kota Metro ini.



Padahal, di Gramed Palembang Atmo, lantai dua dan tiganya terbalik susunan jenis bukunya, tapi, ya nggak papa lah!

FYI nih, di lantai dua dan tiga, terjual buku-buku lama dengan special price antara Rp 10.000 sampai 30.000. Mungkin, ini tujuannya, supaya banyak warga Metro dan sekitarnya yang tertarik datang ke Gramedia, dan tak perlu khawatir dengan harga buku yang ada. Salut deh!


Dan, dari kunjungan ini, saya bisa membawa pulang tiga buku dari rak special price ini, walaupun sebenarnya saya ingin membeli buku rekomendasi saudara jauhku. Tapi, karena hanya alasan harga, ya belinya harus mikir ulang. Masa bodo', yang penting bisa bermanfaat, titik!

Oke, biar kalian lebih penasaran lagi dan tertarik untuk ke Gramedia Metro, silakan kunjungi tokonya di Jalan Ahmad Yani, 15A Metro Timur, di seberang Bank Eka *kok saya yang promosi?*

Tapi, kalau urusan lokasinya, ya hadapannya nggak persis-persis amat, 'kan yaa!

Selamat Mengeksplorasi, pembaca! Success for you, Gramed!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 05 Juli 2017

Apa Kabar, Kondisi Jalan-jalan di Lampung Tengah?


Tak salah, saya memilih (calon) bupati Mustafa ketika Pilkada Serentak akhir 2015 lalu. Soalnya, sebelum pemilihan dilakukan, sempat ada kabar, sayup-sayup, atau entahlah apa namanya, yang menyarankan tidak memilih calon bupati tertentu. Sudah, saya milih yang lain saja.

Nah, alasan saya memilih Pak Mustafa karena beliau adalah wakil bupati yang mendampingi bupati sebelumnya, Pak Pairin, jadinya beliau sudah punya pengalaman. Oh ya, Pak Pairin sekarang sudah jadi walikota Metro, lho. Asal tahu aja, Metro dulunya adalah bagian dari Lampung Tengah, sebelum memisahkan diri pada tahun 1999, menjadi kotamadya sendiri.

Dan, kebijakan yang dibuat Pak Mustafa akhirnya ada yang terbukti, meskipun hanya dirasakan sebagian. Ya, namanya aja tindakan dari sebuah program pemerintahannya, perlu waktu. Ditambah lagi, luas Lampung Tengah, menjadi wilayah terluas no.3 di Lampung, (masih kalah sama Lampung Timur yang dulunya masih jadi bagian dari kabupaten ini). Pantesan, ya, mau ke kecamatan lain, kadang perlu waktu 1 jam lebih....

Ya sudahlah, mengurus kabupaten yang luasnyaaa minta ampun, memang sulit. Apalagi ditambah dengan berbagai permasalahan, salah satu yang paling banyak, tentu saja jalan-jalan yang rusak! Karena itulah, rencana Pak Bupati Mustafa untuk membangun jalan kampung beraspal, tentu diacungi jempol, tentunya dana yang digunakan, diserahkan kepada pihak desa masing-masing.

Alasannya, menurut Jejamo.com ya apalagi kalau bukan kemudahan, sehingga mobilitas dan roda perekonomian di Lampung Tengah, tidak terganggu.

Kalau udah ada kebijakan seperti itu, saya setuju. Yeay! Saya bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, berkunjung ke rumah teman-teman dan tempat lainnya tanpa terganggu dengan jalan yang kasar dan berbatu. Soalnya, selama ini, pengaspalan jalan kampung hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, itupun dihubungkan dengan desa lain sebagai jalur alternatif.

Dan, akhirnya, kerja nyata dari Pak Mustafa, diperlihatkan hasilnya.

Dalam tahap pertama, jalan-jalan dekat sekolah mendapat prioritas untuk diaspal terlebih dahulu. Termasuk melewati kediaman saya dan keluarga. Bentuknya, melingkar seperti huruf U. Satu lagi, jalan lurus di dekat masjid TK, TPA, dan sekolah dasar negeri, sampai batas dusun lain.

Ya, gitu aja pengaspalan di sini. Di jalan-jalan bagian lain, semoga aja bisa menyusul....

Memang pengaspalan jalan kampung di desaku terlambat, jika dibandingkan dengan dua desa tetangga yang sebagian jalannya sudah diaspal. Tapi, bukankah itu lebih baik, ketimbang tidak sama sekali?

Sekarang beralih ke jalan raya. Masih teringat di pikiran saya, zaman SMP, dimana jalan desa Totokaton menuju Nunggalrejo, Kecamatan Punggur kayak kubangan air, jadi harus ekstra berhati-hati. Setelah diperbaiki, memang jalan dilalui dengan lancar. Kalau sekarang, bagaimana? Fyuh, kembali seperti dulu: rusak menyerupai kubangan!

Karena itulah, permasalahan jalan raya harusnya tak bisa dipandang remeh. Pemerintah Lamteng hendaknya harus memperhatikan permasalahan ini, termasuk bahan baku yang diperlukan untuk perbaikan jalan. Pastikan, bahan perbaikan jalan yang digunakan adalah bahan yang berkualitas, supaya jalan raya lebih baik dan awet ke depannya.

Ya semoga saja semua kecamatan bisa diperlakukan dengan adil, biar hasilnya bisa merata, dan tak ada adegan salah satu kecamatan yang merasa dianaktirikan gara-gara kurang diperhatikan, sehingga pilih pisah dengan kabupaten yang menaunginya.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini