Minggu, 01 November 2015

Dominic Brian: Inspiratorku untuk #IndonesiaJuara

November 01, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Lebih dari sebulan lagi, Kompasianival 2015 akan digelar. pastinya, para penulis di Kompasiana akan sibuk dengan agenda masing-masing. Ada juga yang berpartisipasi dalam berbagai lomba. Tentunya, saya ikut ambil bagian, bukan?

Namun, saya akan ikut kampanyekan Kompasianival 2015 lewat foto profil. Saya mengetahuinya lewat pengumuman dari Admin, lalu kemarin ikutan ganti foto profil dengan tata cara yang diajarkan Admin. Dalam memilih foto profil, saya memilih foto saya yang bersanding dengan pemegang Guinness World of Record dalam bidang daya ingat, Dominic Brian, inspirator saya yang bertemu dalam bedah buku Inilah Saatnya untuk Action. Lantas, mengapa saya pilih dan mengagumi sosok Dominic Brian?

Sesuai dengan misi dan tema Kompasianival kali ini yang melahirkan juara-juara dari orang Indonesia, saya merasa untuk mengangkat Brian sebagai inspirator (baik untuk saya dan generasi muda Indonesia) yang membawa nilai-nilai positif untuk terus maju dan menjadi "juara" di berbagai bidang. Saya merasa perlu untuk mengkampanyekan sosok-sosok inspiratif yang telah mengharumkan nama Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tentu saja ya, saya akan menjelaskan alasannya.

Lewat pertemuan dengan Brian dalam bedah buku Inilah Saatnya untuk Action serta membaca buku biografi Brian, saya merasa mendapat nilai-nilai positif yang sangat berguna, ya tentu saja untuk kemajuan generasi muda di negeri ini. Nilai-nilai positifnya adalah:

1. Kedekatan kepada Tuhan

Saya kagum banget, mengapa Brian taat beragama, sedari kecil hingga sampai saat ini. Saat saya membaca buku Inilah Saatnya untuk Action, ditulis bahwa dia setiap hari membaca Alkitab sebanyak 1 pasal! Walaupun beda agama, tapi saya berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhan sesuai keyakinan yang saya anut #tamparanbuatdirisendiri. Bahkan, setiap ikut lomba dan beraktivitas pun dia selalu menyerahkan diri kepadaNya, karena dia memiliki motto yang sangat bagus dalam kehidupannya, In God I Trust (wah, hampir mirip dengan motto di mata uang Amerika ya)

Dengan kedekatan padaNya itulah, saya makin sadar, apapun prestasi yang dia raih, tidak terlepas dari takdir dan campur tangan Yang Maha Pengatur, juga bersyukur atas nikmat kehidupan, karena keajaiban-keajaiban dalam hidup Brian itu karena Tuhan menyayanginya... subhanallaaah....

2. Semangat juang yang tinggi, berani untuk gagal dan pantang menyerah

Menurut saya, Brian telah melakukan yang terbaik dalam meraih prestasi, tentunya dengan semangat juang yang tinggi, msekipun dilakukan dalam situasi yang kurang nyaman, misalnya suara kamera, kondisi fisik, dan sebagainya. Hmmm, salut! Bahkan, dia memang tidak menyerah jika tidak bisa memecahkan rekor dunia kembali, dan tahun depan dia akan mencoba dan terus berusaha. Sepertinya, dia merasakan kegagalan pun sudah terbiasa. kalau gak gagal, malah jadi pusing. Oiya, kalau kegagalan pun bisa mengantarkan pada kesuksesan, termasuk meraih prestasi.

3. Mengasah bakat dan minat

Sejak kecil, dia suka mengingat gambar, kemudian berlanjut pada angka, lalu mengasah bakat dan minat dengan terus latihan. Pada umur 5 tahun, diadakanlah pemecahan rekor MURI yang mengantarkannya meraih prestasi. Nah, tidak hanya itu, juga meraih pemegang rekor dunia Guinness Book of Record, sampai meraih medali perunggu dalam ajang World Memory Championship. Nah, kalau kalian mengasah bakat sesuai minat, bukan tidak mungkin kan akan meraih prestasi yang membanggakan negeri ini?

Ya udah, inilah nilai-nilai yang setidaknya saya sampaikan dalam sosok yang saya kagumi, Dominic Brian.Semoga kita, generasi muda, bisa menjadi generasi yang juara, ya!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 31 Oktober 2015

Media, Inspirasi Menulisku!

Oktober 31, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: ACMA

Gara-gara saya membaca artikel dari salah seorang Kompasianer tentang ide menulis beberapa bulan yang lalu, saya jadi terinspirasi nih, baiklah, saya akan bagi pengalaman dulu, ya!

Ada banyak ide yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang kepenulisan kita, asalkan bahannya cukup kuat untuk dituangkan dalam opini. Nah, karena minat saya akan media, saya akan ambil sumbernya dari media, tentunya dengan pengalaman yang pernah saya alami.

1. Berita Online

Saya suka baca berita online, untuk memperkaya wawasan. terkadang, dalam membaca berita online pun saya dapat ide untuk menulis. Nah, dalam tulisan-tulisan yang diunggah di Kompasiana pun banyak lho yang berawal dari berita terus ditambah dengan opini penulisnya. Artikel pertama saya di tahun 2015 ini, nasib RCTI, misalnya, itu berawal dari berita online, terus berpikir out the box deh!

Nah, dalam mencari ide dalam berita online, jangan terpaku dalam satu tema, seperti yang telah dibahas di postingan sebelumnya. carilah ide dengan tema yang beragam, asalkan masih minat pada hal tersebut. Misalnya ya, kalau gak ada berita tentang KPI, carilah berita tentang TV, televisi, pendidikan, sekolah, kemendikbud, dan anies.

2. Buku

Berkat mengikuti bedah buku bersama Dominic Brian, saya dapat pengetahuan baru lewat intisari bedah buku yang kemudian dituangkan dalam reportase. Selain itu, lewat buku yang saya baca, Inilah Saatnya untuk Action yang saya beli langsung lewat talkshow tersebut, saya jadi terinspirasi! Saya baru ngeh kata "Antimainstream" yang berarti melawan arus atau bisa juga diartikan tidak banyak dilakukan oleh orang kebanyakan.

Menulis yang "Antimainstream", sebuah artikel saya di Kompasiana yang terinspirasi dari buku tersebut. Memadukan pengalaman saya dengan intisari yang terdapat dalam buku tersebut, membuat artikelnya benar-benar aktual. Sungguh! Ya sudah jelas kalau dinilai masuk kolom Headline Kompasiana, hehe. Nah, kalau membaca buku, benar-benar saya dapat manfaatnya! Jadi, jangan pernah menyerah dalam menyelami isi buku dengan membacanya, ya!

3. Televisi

Diantara ratusan artikel yang diunggah di Kompasiana, beberapa di antaranya merupakan ulasan dari beberapa acara televisi yang memberi nilai positif. iyaaa lah! Acara-acara TV memang memberikan inspirasi saya untuk menulis. Bahkan ada satu artikel opini yang idenya berawal dari ketidaksengajaan saya menonton sinetron Elif.

Nah, pada bulan ini, saat ide saya lagi kering, eh dua stasiun TV bermunculan di rumah saya. Stasiun TV apalagi kalau bukan NET TV dan Kompas TV. Dalam masa menikmati stasiun-stasiun TV tersebut, ada acara yang akhirnya saya suka, Kelas Internasional. Tentu saja saya mencari tahu tentang acara tersebut dibantu dengan informasi di internet.

Membaca artikel tentang menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terutama tentang Berbahasa Indonesia, saya kok rasanya teringat acara Kelas Internasional, ya? Dua hal itulah yang menginspirasi saya untuk nulis lagi! Akhirnya dengan mengambil kesimpulan positif dari acara tersebut, artikel tersebut yang berjudul Belajar dari Tayangan Kelas Internasional selesai juga! Tak disangka, mengenapi jumlah Headline jadi 60 dan Highlight ke 150! Padahal, artikel ini saya nilai biasa saja, hehe :D. Coba kalau NET TV tidak ada, artikel yang masuk Headline di bulan Oktober, nihil!

Nah, wahai para pemirsa, tonton acara yang bermutu dan mendidik ya, selain menambah pengetahuan, bisa memberi ide-ide segar dan bahan untuk menulis. Sehingga, kita tidak kekurangan ide yang bisa menghambat proses tulis-menulis kita.

Okelah, salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 30 Oktober 2015

Oktober, Bulan Fiksiana

Oktober 30, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: 7-themes.com

Apa yang dikenang dari bulan Oktober?

Punya blog sendiri, udah. Pindah ke windows 10, udah juga. Hadirnya TV Edukasi, NET TV dan Kompas TV, udah beres. Sekarang, apa lagi ya?

Di akun Kompasiana saya, saya lebih banyak berfiksi ria. Yup, bulan ini adalah Bulan Fiksiana. Kebetulan juga, bulan ini adalah bulan lahirnya komunitas fiksiana di Kompasiana, Fiksiana Community. Komunitas yang mencintai dan menelurkan karya fiksi, baik puisi, cerpen, prosa, cerita mini, novel, dan sebagainya!

Terus terang saja, dari 16 artikel yang ditulis pada bulan Oktober ini di Kompasiana, 10 artikel diantaranya adalah karya fiksi! 5 puisi, 2 cerita, dan 3 surat fiksi. Nah, tiga surat fiksi itu lahir karena saya ikutan surat menyurat yang diadakan Fiksiana Community. Hehe. Gak kayak biasanya! Biasanya sih bulan-bulan sebelumnya kebanyakan isinya opini, mengapa bulan ini didominasi fiksi?

Penyebabnya adalaaaah.....

Keterbatasan ide menulis opini mengantarkan saya untuk berfiksi, dan berfiksi. Sudah pengalaman saya habis, berita yang melahirkan opini gak ada yang cocok. Berita TV ya begitu-gitu saja, pendidikan dan sekolah juga begitu, fokus sama kabut asap. Padahal pada bulan-bulan sebelumnya yang punya pengalaman, juga pas di Kompasiana lama yang jadi puncaknya, berita-berita TV itu sedang beragam-ragamnya sehingga artikel saya jadi beragam dan permasalahannya bisa ditafsirkan. Akibatnya apa? Aktual dan dinilai sebagai Headline!

Jadi mohon maaf ya yang gak begitu suka fiksi dan lebih suka artikel opini, saya Cuma nulis begini, ya semampunya saya. Ditambah lagi semenjak punya blog sendiri, jadi pecah konsentrasinya, menulis apa yang terjadi di sekitar dan artikel yang ditampilkan itu artikel ringan saja.

Selanjutnya, saya berfiksi itu karena saya belajar. Apalagi belajar buat puisi yang jadi passion saya dari dulu. Iya, sejak SMP saya suka nulis puisi.

Nah, dulu saya pernah angkat tangan dari dunia fiksi. Namun, alhamdulillah, dari belajar dari karya puisi orang lain yang bagus-bagus, akhirnya saya bisa dan banyak puisi saya yang dinilai Highlight. Tapi, tidak setiap hari saya nulis puisi. Itupun harus nunggu inspirasi dan merangkai kata menjadi puisi yang cukup bagus.

Oleh karena itu, bagi kalian yang baru menekuni dunia fiksi, jangan menyerah jika karya yang dihasilkan kurang bagus! Berusahalah dan terus belajar dari karya orang lain, ya layaknya menulis non fiksi gitu, percayalah, kalian pasti bisa menghasilkan karya fiksi yang bagus2!

Selain itu, karena saya ikutan surat fiksi, saya mendapatkan hadiah! Yup, semua karya surat fiksi yang dilombakan termasuk karya saya, dibukukan! Ooh, senangnya, punya buku sendiri. Ditunggu ya bukunya, selain buku kumpulan kenangan dari sesepuh Kompasiana, Pak Tjiptadinata Effendi.

Habis itu, saya nulis buku apalagi ya? #nunggupengalamanbanyakdulu

Ya udah, salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Kompas TV Lampung Akhirnya Mengudara Lebih Awal!

Oktober 30, 2015 Nahariyha Dewiwiddie


Waktu itu, saya pernah baca nih, Kompas TV Lampung rencananya akan mengudara 30 Oktober, menurut yang saya baca di tribunnews.com.

Tapi, nyatanya sejak petang pada hari kemarin, saat saya mau menonton acara kesukaan saya, Kelas Internasional di NET TV, Kompas TV Lampung sudah mengudara lebih awal dan berstatus siaran pecobaan. Ya namanya aja siaran untuk pertama kalinya....

Acara yang diputar di Kompas TV Lampung, ya musik... itupun udah basi alias udah lama banget. Tapi, waktu itu saya harus menonton acara Kelas Internasional dulu, habis acaranya bagus banget sih, malah bisa belajar banyak tentang budaya dan bangsa sendiri. Nah, saya sudah bahas di Kompasiana yaa, di sini: Belajar dari Tayangan Kelas Internasional, Mencintai Budaya Sendiri


Habis itu, setelah saya shalat isya' dilanjutkan dengan acara 100 Hari Keliling Indonesia bersama Ramon Tungka. Hari pertamanya, jelas menjelajahi Lampung, terutama di Kabupaten Pringsewu di kawasan Bukit Barisan Selatan. Sayangnya gak bisa nonton sampai habis.... soalnya saya keramas malam, pantas saja ngantuk...

Oiya, sebelum hadirnya Kompas TV Lampung, beberapa TV Nasional lainnya sudah bersiaran daerah, lho! Trans TV Lampung, Indosiar TV Lampung, ANTV Lampung, RCTI Lampung, SCTV Lampung, Metro TV Lampung, dan iNews TV Lampung. Jadwal siarannya sih beda-beda, rata-rata pada waktu dini hari. Ada juga yang siang hari, sore hari, maupun malam hari. Oke juga, sekalian promosiin kekayaan daerah, tapi jangan sampai menggangu siaran nasional, seperlunya saja ya!

Ya udah, semoga saja TV-TV nasional di daerah bisa menyiarkan tentang daerah, biar masyarakat lebih mengenal daerahnya sendiri.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Kamis, 29 Oktober 2015

Akhirnya TV Edukasi Bisa Diakses di Televisi!

Oktober 29, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Akhir-akhir ini, Kemenkominfo minta lembaga penyiaran di daerah, terutama daerah terdampak kabut asap untuk menyiarkan acara edukatif selama jam sekolah. Inilah yang barusan saya baca di media daring, disini.

Nah, akhirnya, TV Edukasi bisa ditonton oleh seluruh masyarakat di daerah yang terkena kabut asap. Tidak hanya itu lhoooo! Di Lampung, tempat tinggal saya saat ini, ya walaupun desa saya tidak terkena kabut asap, masih bisa menikmatinya! Alhamdulillaaah!

Yup, keinginan saya terhadap TV Edukasi hadir di rumah saya, akhirnya dikabulkan! Dan saya sudah menyampaikannya lebih dulu, di Kompasiana! Ya, walaupun nontonnya masih sedikit-sedikit, habis minat nonton TV agak berkurang semenjak saya nge-blog, hehe :D

Ya udah, saya usahakan untuk menonton. Walaupun di-relay pada salah satu TV lokal aja sudah senang banget yaa! Nah, sampai saat ini, setahu saya hanya Radar TV Lampung yang bersedia me-relay nya! Kalau TVRI sih saya gak tahu, jarang nonton TVRI sih, atau jangan-jangan TVRI gak mau me-relay nya lagi? Entahlah. Walaupun demikian, upaya Radar TV untuk menyajikan tayangan mendidik, patut diacungi jempol. Terima kasih Radar TV....

Oiya, saya harap tayangan ini bisa dilangsungkan setiap hari ya, biar anak Indonesia bisa teredukasi. Kalau bisa sih, selamanya! Ya lah, acara-acara TV saat ini banyak yang tidak mendidik. Semoga TV Edukasi bisa konsisten ya, istilah agamanya ya istiqomah, untuk mencerdaskan anak bangsa.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Memilih Calon Pemimpin dan Anggota Dewan Sama dengan Memilih Jurusan Kuliah (Panduan untuk Pemilih Pemula)

Oktober 29, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: merdeka.com

Pilkada serentak semakin dekat nih! Sudah siapkah kalian untuk memilih pemimpin daerah (juga presiden) dan anggota dewan? Nah, simak tipsnya, ya!

Wahai pemilih pemula, masih ingatkah waktu kalian lulus SMA, kalian harus menentukan jurusan yang akan kalian pilih untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, dari masalah jurusan, mata kuliah yang dipelajari, prospek kerjanya, sisi positif dan negatif yang berhubungan dengan bakat, minat dan kepribadian yang kemudian disesuaikan dengan bakat, minat dan kepribadian. begitu halnya dengan pemilihan calon presiden Indonesia, yang tentunya memilih dari segi gaya pemimpin, visi misinya, menghargai perbedaan, sifat pemimpin itu sendiri, serta berbagai sisi kelemahan dan kelebihan dari seorang pemimpin, yang disesuaikan dengan hati nurani dan keinginan rakyat. Oleh karena itu, dari pengalaman memilih jurusan kuliah, bisa digunakan untuk memilih calon pemimpin yang tepat untuk bangsa Indonesia. Seperti jika salah memilih jurusan kuliah bisa berdampak buruk dalam prestasi, dan bisa di-DO (drop out), begitupun dengan pemimpin. Visi misi dan karakter pemimpin akan menentukan perjalanan Indonesia selama 5 tahun mendatang. Jika tepat, maka bangsa Indonesia akan baik. Jika tidak, akan menimbulkan kerugian bagi bangsa itu sendiri.

terus, bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui seperti apa karakter pemimpin dan anggota dewan, baik pusat maupun daerah dengan visi misi yang tepat?

Teruslah ikuti berita tentang dunia politik, pilpres, pemilu maupun pilkada di media massa, baik media cetak maupun eletronik, lalu kalian kumpulkan informasinya tentang janji capres cawapres, dan pemimpin daerah serta anggotanya, niscaya akan menemukan pemimpin seperti apa yang diinginkan rakyat. Masih bingung karena keduanya sama-sama janjikan perubahan? Ambil sisi positif yang mendukung kebinekaan dan kebebasan agama, dan yang pasti bersih, dengan artian tidak ternodai dengan dosa masa lalu dan kasus hukum lainnya.

Ada beberapa kriteria yang menunjukkan layak atau tidaknya seseorang dipilih dalam pilpres maupun pilkada nanti.

1. Beriman, bertaqwa dan pastinya seagama dengan kaum mayoritas.
Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, maka yang akan dipilih nanti harus seagama dengan warga mayoritas, dan pastinya beriman. Pemimpin dan anggota dewan yang beriman mencerminkan rakyatnya yang beriman, tentunya. Apapun agamanya, pastikan perilakunya berkarakter baik, ya!

2. Jujur, Amanah, Sederhana, Merakyat, Adil, Cerdas dan Tegas
Kalau pemimpin dan anggota dewannya amanah dan jujur, pasti tidak akan menyalahkan kekuasaan. Kalau pemimpinnya tidak sederhana, pasti dia tidak akan memerkaya diri seperti korupsi, Kalau pemimpinnya tidak merakyat, ya rakyat tidak bisa merasakan komunikasi langsung dengan pemimpinnya, jadi tidak ada masukkan. Masa' aspirasinya cuma di sampaikan DPR maupun DPRD? Kan tidak cukup. Kalau pemimpinnya tidak adil, cerdas dan tegas, apa jadinya? Muncul kesenjangan dan persoalan sosial, dan kekacauan di segala bidang terjadi di mana-mana. Kalian tidak mau hal ini terjadi, kan?

3. Mempunyai visi-misi yang jelas-jelas menjanjikan perubahan yang tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan UU yang sudah ada, serta menjamin kebebasan beragama, mengutamakan kaum mayoritas tanpa mengesampingkan kaum minoritas, serta menjunjung tinggi toleransi.

Nah itulah visi-misi yang paling dicari. Jika tidak, akan mengekang semangat kebebasan beragama dan perubahan akan terhambat, dan bisa jadi sama dengan pemerintahan sekarang maupun pemerintahan masa lalu. Kalian mau mengalami seperti zaman yang dahulu lagi? Ogah deh!

4. Tidak mempunyai 'dosa' hukum di masa lalu
Kalau memiliki pemimpin dan anggota dewan yang seperti itu, pasti tidak akan dipilih. Kalaupun dipilih, akan menjadi pertentangan antara pro dan kontra capres tersebut, dan kelemahan mereka akan diungkit-ungkit dan mencederai demokrasi. Kalian gak mau kan seperti itu?

Itulah kriteria yang menentukan terpilih atau tidaknya calon pemimpin dan anggota dewan, baik pusat dalam pemilu dan pilkada. Boleh menambahkan? Silakan post di komentar. Apapun yang dipilih nanti akan menentukan kemana bangsa Indonesia dan daerah menuju ke arah manapun sesuai dengan misinya, apapun pilihannya diserahkan ke pilihan rakyat masing-masing. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk memilih yang lebih baik. Selamat memilih!

Ditulis asli oleh Nahariyha Dewiwiddie. Di-posting ulang dari Kompasiana dengan perubahan seperlunya

Selasa, 27 Oktober 2015

SPAN-PTKIN, SNMPTN versi Kemenag

Oktober 27, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Sumber gambar: http://www.penerimaancalonmahasiswabaru.com
Beberapa bulan lagi, semester 2 akan dimulai pada tahun 2016, dan yang pasti, adik-adik sudah punya rencana belum, untuk melanjutkan kuliah? Kalau belum segera rencanakan! Nah, saya akan membahas salah satu seleksi penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia.

Sejak SPAN-PTAIN (kini SPAN-PTKIN) dibuka pertama kali tahun 2014 ini, banyak teman-teman yang beramai-ramai untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa baru melalui jalur undangan yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama ini, tak terkecuali dengan sekolahku (sekarang almamaterku). Kebanyakan mereka mendaftar SPAN-PTAIN dikarenakan mereka mencadangkan pilihan kampus mereka jika gagal dalam SNMPTN. Namun ada juga yang menjadikan pendaftaran lewat jalur ini sebagai prioritas utama. Bagi yang lebih berminat di ilmu umum, IAIN Raden Intan telah menyediakan jurusan secara lebih lengkap. Sedangkan yang menginginkan kuliah murah dan dekat dari rumah serta berminat pada keislaman, di STAIN Metro-lah tempat yang lebih tepat.

Setelah SNMPTN dan SPAN-PTAIN menyampaikan pengumuman, yang diterima di SNMPTN hanya 2 orang, sedangkan yang diterima di SPAN-PTAIN jauh lebih banyak, lebih dari 25 orang diterima di IAIN Raden Intan Bandar Lampung dan STAIN Metro. Mereka kebanyakan akan mengambil jurusan mereka jika diterima, kecuali karena punya jurusan lain yang lebih cocok, masalah finansial hingga lokasi kuliah. Bagi teman-teman yang mengambil kuliah di STAIN Metro sudah merupakan hal yang tak asing lagi. karena sepanjang alumnus sekolahku setiap tahun selalu mengambil kuliah di STAIN Metro yang sudah terkenal karena lebih murah biayanya dan dekat dari rumah. Namun, bagi teman-teman yang lebih memilih IAIN Raden Intan sebagai tempat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, ini menjadi 'perintis' dari lulusan sekolahku, karena selama ini belum ada yang tertarik kuliah di tempat ini, mungkin karena terbuai dengan populernya STAIN Metro? Entahlah.

Yang pasti ini adalah pilihan teman-teman, apalagi SPAN-PTAIN telah membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi teman-teman yang kuliah di PTAIN (STAIN, IAIN, UIN) melalui jalur undangan secara online yang diselenggarakan oleh Kemenag. Sebelum tahun 2014, seleksi PTAIN (SPMB-PTAIN) dibagi menjadi dua, yaitu jalur akademis dan jalur tulis. Melihat perkembangan dari Kemendikbud pada tahun 2013, yang memisahkan menjadi SNMPTN untuk jalur undangan dan SBMPTN untuk jalur tulis, maka Kemenag juga memisahkan jalur penerimaan untuk calon mahasiswa PTAIN tersebut menjadi SPAN-PTAIN untuk jalur undangan dan UM-PTAIN untuk jalur tulis. Hal ini sangat menguntungkan mahasiswa agar memudahkan untuk pendaftaran dan melanjutkan studi.

Nah, sudah jelas, bukan? Kalau begitu, salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Ditulis asli oleh Nahariyha Dewiwiddie. Diposting ulang dari Kompasiana dengan pengeditan seperlunya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Pindah kanal TV di Lampung

Oktober 25, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Ilustrasi: LinkedIn

Wah, setelah saya baca-baca di Wikipedia tentang Kompas TV di Jakarta dan sekitarnya pindah kanal, saya jadi teringat ya, beberapa tahun yang lalu, pernah ada stasiun-stasiun TV di Lampung “bentrok" dan akhirnya pindah kanal, dari kanal 42 sampai 50 UHF.

Kecuali Siger TV yang dari awal tetap 46 UHF, waktu itu Tegar TV,  LTV (sekarang iNews TV Lampung) dan Radar Lampung TV, saling pindah kanal. Bahkan Krakatau TV (sekarang RTV) dan Radar TV Lampung pernah berbagi kanal di 44 UHF.

Akibatnya gimana? Krakatau TV yang rerata berisikan acara B Channel pada waktu itu harus berbagi waktu dengan acara-acara Radar Lampung TV, artinya siaran Krakatau TV dan Radar TV punya jadwal siaran masing-masing. Selang beberapa waktu kemudian, Radar TV pindah ke kanal 48 UHF, sedangkan Krakatau TV tetap di 44 UHF.

Oh ya, sebelumnya kanal 48 UHF digunakan Tegar TV dan kanal LTV berada di 42 UHF. Karena kanal 50 UHF kosong dan kanal 52 UHF sudah lebih dulu ditempati TV One, jadinya LTV pindah kanal ke 50 UHF dan Tegar TV menempati kanal 42 UHF.

Nah, setelah itu, akhirnya dua stasiun TV baru bermunculan, seperti yang telah dijelaskan pada dua pos sebelumnya. NET TV ditempatkan di kanal 51 UHF, diantara iNews TV dan TV One, padahal angka kanal TV di Lampung kan genap-genap! Kalau Kompas TV, hadir di kanal 62 UHF! Jauh ‘kan, soalnya selisih kanal antara TV One dan Kompas TV Cuma 10 UHF. Waduh!

Sedangkan untuk kanal 22 sampai 40, gak usah dibahas! Lho? Saya gak begitu paham soal itu, bahkan beberapa channel yang ada sudah ditempatkan di kanal TV Lampung jauh sebelum saya lahir di dunia ini.

Ya udah, itu aja. Salam hangat dan sampai jumpa lagi!


UPDATE: Pertengahan Februari 2016, TV One di Lampung resmi pindah kanal ke 55 UHF. semoga bisa dimaklumi :)

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini