Minggu, 08 November 2015

Merasa Jenuh? Yuk, Jalan-jalan di Tempat yang Baru!

November 08, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: popularmechanics.com

Kegiatan atau hobi yang kita jalani sehari-hari, jika dilakukan terus-menerus, lama-lama akan bosan, bukan? Nah, kalau dibiarkan terus, ya jadi tambah stress. Stress yang kita alami menyebabkan kita tidak bisa melakukan apapun, mau ngapain aja sudah malas, bahkan sudah setengah hati menjalaninya. Nah, kalau begitu, kita perlu apa?

Jalan-jalan? Yup, benar! Tapi, kalau udah berkunjung ke tempat yang lama saja masih belum menyegarkan pikiran, tandanya kamu harus berjalan-jalan di tempat yang baru!

Maksudnya apa? Ya tempat yang sama sekali belum kamu kunjungi, bahkan tempat tersebut sudah diimpikan seseorang sejak lama. Misalnya, mengunjungi toko buku terlengkap di luar kota. Atau, mengunjungi mall termewah yang ada. asyik! Kalau punya uang lebih, bisa berpelesir di pantai terindah yang tidak kalah indahnya dengan pantai Bali. Wow!

Tujuannya apa? Ya sudah jelas, cari pengalaman baru. Ketika kita jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, kita harus melewati jalan yang masih asing, yang belum dilewati sebelumnya. Nah, pengalaman tersebut bisa dipakai untuk jalan-jalan lagi ketika kita akan mengunjungi tempat yang sama, maupun ke tempat lain.

Selain itu, dengan jalan-jalan ke tempat yang baru, kita  bisa melepaskan beban dan penat yang terdapat pada diri dan pikiran kita. Dengan demikian, kita akan menghadapi hari baru dengan suasana pikiran yang segar dan lebih ceria. Bahkan, ide-ide baru akan bermunculan di kepala kita, untuk berbuat sesuatu!

Nah, inilah yang dirasakan oleh saya. Setelah saya berkunjung ke tempat yang baru, apa yang terjadi? Gelisah karena beban hidup jadi lepas, bahkan ide-ide baru buat nulis datang lebih banyak, baik yang akan ditulis di blog ini dan di Kompasiana, tapi banyak ide-ide yang belum dieksekusi (nanti saya nyicil-nyicil dulu). Saya makin bersemangat lagi ikutan lomba blog, yang berhadiah voucher 1 juta untuk belanja di Gramedia. Ah, jadi kangen ke Gramedia deh, buat memborong buku banyak buat saya dan mama...


Jadi, kalau punya dana, segera berkunjung ke tempat yang baru. Kalau belum punya dana, kamu bisa main ke rumah di desa lain. Pastinya, suasana di desa lain berbeda dengan desa tempat tinggal kamu, atau bisa bersepeda keliling kampung. Pasti akan merasakan manfaatnya deh!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 07 November 2015

Andaikan Aku Seperti Hasna

November 07, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: @dewiwiddie

Semenjak saya membeli buku Hijabo Comic, lewat Gramedia Online, bulan Juli tahun lalu, saya suka dengan cerita bergambar. Maklum, saya lebih enak kalau membaca dengan gaya visual. Maksudnya, ya lewat gambar gitu. Meskipun berbentuk komik, tapi ceritanya dikemas dengan bahasa yang gampang dipahami oleh para remaja, biar semakin teguh dalam keimanan.

Dalam komik ini, ada lho cerita yang bermacam-macam, yang mengandung hikmah yang mendalam. Disisipi oleh ayat Al-Qur’an dan hadits, menguatkan bahwa komik tersebut bukanlah komik islami sembarangan. Dalam cerita, tentunya ya sesuai yang dikandung pada dua sumber hukum Islam tersebut.

Dari semua tokoh-tokoh dalam Hijabo Comic, ada tokoh yang membuat saya terkesan. Ya, siapa lagi kalau bukan Hasna. Dia adalah seorang muslimah yang taat beragama. Dia melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah walaupun sebenarnya sepele.

Contohnya, mengenakan kaos kaki untuk menutup auratnya, misalnya. Dia tidak mau pacaran, bahkan dia menasihati Aji bahwa pacaran itu mendekati zina. Apalagi, saat malam tiba, Hasna dan teman-temannya rela berjalan kaki ketimbang naik angkot, padahal pada saat itu, angkot sedang sepi.

Oiya, disaat teman-temannya pada idolakan artis Korea, dia malah idolain Rasulullah yang membawa keteladanan. Wah, suatu hal yang seharusnya dicontoh bagi pemuda muslim nih!

Ya, berikut puisi saya untuk Hasna, semoga saya terinspirasi ya!

***

Oh, Hasna,
betapa cantik dirimu, lahir dan batin
menjaga marwah dan harga diri
sebagai muslimah sejati

Oh, Hasna
kau bukan remaja kebanyakan
yang bebas bercengkrama dengan lelaki
kaulah wanita yang baik

Oh, Hasna,
kau remaja taat
menjaga dari maksiat
berlandaskan perisai dienmu
menghadapi dunia yang hina

Oh, Hasna,
andaikan aku sepertimu
pasti aku akan muhasabah diri
tuk menggapai ridho Illahi


*Dituliskan untuk mengikuti Gramedia Blogger Competition bulan November 2015


Rabu, 04 November 2015

Passion adalah Sebuah Rasa Cinta

November 04, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Sumber gambar: mustbethistalltoride.com
Sebenarnya, adalah “tabu” bagi saya jika menuliskan tentang cinta. Pikir orang kebanyakan, cinta itu melibatkan sepasang insan. Benar, tapi cinta itu universal, melibatkan segala sesuatu.

Meskipun pada dasarnya saya suka membaca apa saja, toh pada akhirnya saya menyukai hal-hal tertentu. Media, membaca, menulis, pendidikan, motivasi, inspirasi, dan puisi, dan sedikit hal-hal lainnya. Hanya beberapa diantaranya yang merupakan passion saya.

Memang dulu sedari kecil saya suka pendidikan. Penyebabnya jelas, membaca. Membaca buku warisan dari sekolah kakak saya. Lucunya, kok sejak SD sudah tahu pelajaran bakteri, terutama bakteri Botulinum si perusak makanan kaleng? Padahal, pelajaran bakteri pada bab Monera akan diberikan ketika menginjak kelas 10 SMA (terutama masuk jurusan IPA)?

Ya, saya dulu suka pelajaran IPA, dan memang saya telah menjadi bagian dari alumni anak IPA. Saya jatuh cinta dengan pelajaran Kimia dan Biologi. Bahkan, saya ingin masuk jurusan Biologi biar menjadi peneliti. Tapi, keinginan saya kandas, karena zaman sekarang, dituntut agar bekerja dan menghasilkan uang.

Jadilah saya lari ke dunia kepenulisan. Sebenarnya, keterlibatan saya dalam menulis sudah dimulai sejak usia sekolah. Sejak SMP, saya suka menulis puisi. Berlanjut pada SMA yang bergabung pada kelompok KIR. Tapi, saya menulis bukan sebenar-benarnya menulis, tapi copy paste!

Setelah beberapa bulan belajar menulis di Kompasiana, saya merasa terbayang pada ‘dosa’ saya. Hal ini telah diceritakan pada artikel ini. saya merasa kapok untuk berbuat curang dalam menulis, dan saya lebih memilih menulis dengan pikiran sendiri, berdasarkan pengalaman dan apa yang saya baca. Tidak berani menulis berita dari berbagai sumber online, kecuali jika artikel yang dasar berita itu disertai dengan opini. Jika melakukan reportase langsung, itu lebih baik.

Kembali pada masalah membaca. Saya jika membaca tentang pendidikan, media massa, dan menulis, juga motivasi dan inspirasi, misalnya, saya terkadang mendalaminya dengan sangat mendalam. Apalagi puisi-puisi bagus. Saya merasa mendapatkan pengetahuan dan pencerahan setelah membacanya, itupun setelah membacanya berulang kali, atau dibuat bayangan dalam pikiran saya (maklum gaya belajar visual). Semua itu karena atas dasar passion. Passion itu adalah sebuah rasa cinta.

Sama jika kita memutuskan untuk memilih jurusan kuliah, jika pilihan kuliah yang diambil sesuai passion, ketika menjalaninya, kita akan nyaman. Inilah "kekuatan cinta" pada passion itu sendiri. Jika kita memutuskan sesuatu, kita tidak akan terlepas dari itu.

Oleh karena itu, tekunilah apa yang kita kerjakan sesuai passion itu. Sehingga, dampaknya akan terasa pada diri dan kehidupan kita.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!


Minggu, 01 November 2015

Dominic Brian: Inspiratorku untuk #IndonesiaJuara

November 01, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Lebih dari sebulan lagi, Kompasianival 2015 akan digelar. pastinya, para penulis di Kompasiana akan sibuk dengan agenda masing-masing. Ada juga yang berpartisipasi dalam berbagai lomba. Tentunya, saya ikut ambil bagian, bukan?

Namun, saya akan ikut kampanyekan Kompasianival 2015 lewat foto profil. Saya mengetahuinya lewat pengumuman dari Admin, lalu kemarin ikutan ganti foto profil dengan tata cara yang diajarkan Admin. Dalam memilih foto profil, saya memilih foto saya yang bersanding dengan pemegang Guinness World of Record dalam bidang daya ingat, Dominic Brian, inspirator saya yang bertemu dalam bedah buku Inilah Saatnya untuk Action. Lantas, mengapa saya pilih dan mengagumi sosok Dominic Brian?

Sesuai dengan misi dan tema Kompasianival kali ini yang melahirkan juara-juara dari orang Indonesia, saya merasa untuk mengangkat Brian sebagai inspirator (baik untuk saya dan generasi muda Indonesia) yang membawa nilai-nilai positif untuk terus maju dan menjadi "juara" di berbagai bidang. Saya merasa perlu untuk mengkampanyekan sosok-sosok inspiratif yang telah mengharumkan nama Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tentu saja ya, saya akan menjelaskan alasannya.

Lewat pertemuan dengan Brian dalam bedah buku Inilah Saatnya untuk Action serta membaca buku biografi Brian, saya merasa mendapat nilai-nilai positif yang sangat berguna, ya tentu saja untuk kemajuan generasi muda di negeri ini. Nilai-nilai positifnya adalah:

1. Kedekatan kepada Tuhan

Saya kagum banget, mengapa Brian taat beragama, sedari kecil hingga sampai saat ini. Saat saya membaca buku Inilah Saatnya untuk Action, ditulis bahwa dia setiap hari membaca Alkitab sebanyak 1 pasal! Walaupun beda agama, tapi saya berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhan sesuai keyakinan yang saya anut #tamparanbuatdirisendiri. Bahkan, setiap ikut lomba dan beraktivitas pun dia selalu menyerahkan diri kepadaNya, karena dia memiliki motto yang sangat bagus dalam kehidupannya, In God I Trust (wah, hampir mirip dengan motto di mata uang Amerika ya)

Dengan kedekatan padaNya itulah, saya makin sadar, apapun prestasi yang dia raih, tidak terlepas dari takdir dan campur tangan Yang Maha Pengatur, juga bersyukur atas nikmat kehidupan, karena keajaiban-keajaiban dalam hidup Brian itu karena Tuhan menyayanginya... subhanallaaah....

2. Semangat juang yang tinggi, berani untuk gagal dan pantang menyerah

Menurut saya, Brian telah melakukan yang terbaik dalam meraih prestasi, tentunya dengan semangat juang yang tinggi, msekipun dilakukan dalam situasi yang kurang nyaman, misalnya suara kamera, kondisi fisik, dan sebagainya. Hmmm, salut! Bahkan, dia memang tidak menyerah jika tidak bisa memecahkan rekor dunia kembali, dan tahun depan dia akan mencoba dan terus berusaha. Sepertinya, dia merasakan kegagalan pun sudah terbiasa. kalau gak gagal, malah jadi pusing. Oiya, kalau kegagalan pun bisa mengantarkan pada kesuksesan, termasuk meraih prestasi.

3. Mengasah bakat dan minat

Sejak kecil, dia suka mengingat gambar, kemudian berlanjut pada angka, lalu mengasah bakat dan minat dengan terus latihan. Pada umur 5 tahun, diadakanlah pemecahan rekor MURI yang mengantarkannya meraih prestasi. Nah, tidak hanya itu, juga meraih pemegang rekor dunia Guinness Book of Record, sampai meraih medali perunggu dalam ajang World Memory Championship. Nah, kalau kalian mengasah bakat sesuai minat, bukan tidak mungkin kan akan meraih prestasi yang membanggakan negeri ini?

Ya udah, inilah nilai-nilai yang setidaknya saya sampaikan dalam sosok yang saya kagumi, Dominic Brian.Semoga kita, generasi muda, bisa menjadi generasi yang juara, ya!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 31 Oktober 2015

Media, Inspirasi Menulisku!

Oktober 31, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: ACMA

Gara-gara saya membaca artikel dari salah seorang Kompasianer tentang ide menulis beberapa bulan yang lalu, saya jadi terinspirasi nih, baiklah, saya akan bagi pengalaman dulu, ya!

Ada banyak ide yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang kepenulisan kita, asalkan bahannya cukup kuat untuk dituangkan dalam opini. Nah, karena minat saya akan media, saya akan ambil sumbernya dari media, tentunya dengan pengalaman yang pernah saya alami.

1. Berita Online

Saya suka baca berita online, untuk memperkaya wawasan. terkadang, dalam membaca berita online pun saya dapat ide untuk menulis. Nah, dalam tulisan-tulisan yang diunggah di Kompasiana pun banyak lho yang berawal dari berita terus ditambah dengan opini penulisnya. Artikel pertama saya di tahun 2015 ini, nasib RCTI, misalnya, itu berawal dari berita online, terus berpikir out the box deh!

Nah, dalam mencari ide dalam berita online, jangan terpaku dalam satu tema, seperti yang telah dibahas di postingan sebelumnya. carilah ide dengan tema yang beragam, asalkan masih minat pada hal tersebut. Misalnya ya, kalau gak ada berita tentang KPI, carilah berita tentang TV, televisi, pendidikan, sekolah, kemendikbud, dan anies.

2. Buku

Berkat mengikuti bedah buku bersama Dominic Brian, saya dapat pengetahuan baru lewat intisari bedah buku yang kemudian dituangkan dalam reportase. Selain itu, lewat buku yang saya baca, Inilah Saatnya untuk Action yang saya beli langsung lewat talkshow tersebut, saya jadi terinspirasi! Saya baru ngeh kata "Antimainstream" yang berarti melawan arus atau bisa juga diartikan tidak banyak dilakukan oleh orang kebanyakan.

Menulis yang "Antimainstream", sebuah artikel saya di Kompasiana yang terinspirasi dari buku tersebut. Memadukan pengalaman saya dengan intisari yang terdapat dalam buku tersebut, membuat artikelnya benar-benar aktual. Sungguh! Ya sudah jelas kalau dinilai masuk kolom Headline Kompasiana, hehe. Nah, kalau membaca buku, benar-benar saya dapat manfaatnya! Jadi, jangan pernah menyerah dalam menyelami isi buku dengan membacanya, ya!

3. Televisi

Diantara ratusan artikel yang diunggah di Kompasiana, beberapa di antaranya merupakan ulasan dari beberapa acara televisi yang memberi nilai positif. iyaaa lah! Acara-acara TV memang memberikan inspirasi saya untuk menulis. Bahkan ada satu artikel opini yang idenya berawal dari ketidaksengajaan saya menonton sinetron Elif.

Nah, pada bulan ini, saat ide saya lagi kering, eh dua stasiun TV bermunculan di rumah saya. Stasiun TV apalagi kalau bukan NET TV dan Kompas TV. Dalam masa menikmati stasiun-stasiun TV tersebut, ada acara yang akhirnya saya suka, Kelas Internasional. Tentu saja saya mencari tahu tentang acara tersebut dibantu dengan informasi di internet.

Membaca artikel tentang menjelang peringatan Sumpah Pemuda, terutama tentang Berbahasa Indonesia, saya kok rasanya teringat acara Kelas Internasional, ya? Dua hal itulah yang menginspirasi saya untuk nulis lagi! Akhirnya dengan mengambil kesimpulan positif dari acara tersebut, artikel tersebut yang berjudul Belajar dari Tayangan Kelas Internasional selesai juga! Tak disangka, mengenapi jumlah Headline jadi 60 dan Highlight ke 150! Padahal, artikel ini saya nilai biasa saja, hehe :D. Coba kalau NET TV tidak ada, artikel yang masuk Headline di bulan Oktober, nihil!

Nah, wahai para pemirsa, tonton acara yang bermutu dan mendidik ya, selain menambah pengetahuan, bisa memberi ide-ide segar dan bahan untuk menulis. Sehingga, kita tidak kekurangan ide yang bisa menghambat proses tulis-menulis kita.

Okelah, salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 30 Oktober 2015

Oktober, Bulan Fiksiana

Oktober 30, 2015 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: 7-themes.com

Apa yang dikenang dari bulan Oktober?

Punya blog sendiri, udah. Pindah ke windows 10, udah juga. Hadirnya TV Edukasi, NET TV dan Kompas TV, udah beres. Sekarang, apa lagi ya?

Di akun Kompasiana saya, saya lebih banyak berfiksi ria. Yup, bulan ini adalah Bulan Fiksiana. Kebetulan juga, bulan ini adalah bulan lahirnya komunitas fiksiana di Kompasiana, Fiksiana Community. Komunitas yang mencintai dan menelurkan karya fiksi, baik puisi, cerpen, prosa, cerita mini, novel, dan sebagainya!

Terus terang saja, dari 16 artikel yang ditulis pada bulan Oktober ini di Kompasiana, 10 artikel diantaranya adalah karya fiksi! 5 puisi, 2 cerita, dan 3 surat fiksi. Nah, tiga surat fiksi itu lahir karena saya ikutan surat menyurat yang diadakan Fiksiana Community. Hehe. Gak kayak biasanya! Biasanya sih bulan-bulan sebelumnya kebanyakan isinya opini, mengapa bulan ini didominasi fiksi?

Penyebabnya adalaaaah.....

Keterbatasan ide menulis opini mengantarkan saya untuk berfiksi, dan berfiksi. Sudah pengalaman saya habis, berita yang melahirkan opini gak ada yang cocok. Berita TV ya begitu-gitu saja, pendidikan dan sekolah juga begitu, fokus sama kabut asap. Padahal pada bulan-bulan sebelumnya yang punya pengalaman, juga pas di Kompasiana lama yang jadi puncaknya, berita-berita TV itu sedang beragam-ragamnya sehingga artikel saya jadi beragam dan permasalahannya bisa ditafsirkan. Akibatnya apa? Aktual dan dinilai sebagai Headline!

Jadi mohon maaf ya yang gak begitu suka fiksi dan lebih suka artikel opini, saya Cuma nulis begini, ya semampunya saya. Ditambah lagi semenjak punya blog sendiri, jadi pecah konsentrasinya, menulis apa yang terjadi di sekitar dan artikel yang ditampilkan itu artikel ringan saja.

Selanjutnya, saya berfiksi itu karena saya belajar. Apalagi belajar buat puisi yang jadi passion saya dari dulu. Iya, sejak SMP saya suka nulis puisi.

Nah, dulu saya pernah angkat tangan dari dunia fiksi. Namun, alhamdulillah, dari belajar dari karya puisi orang lain yang bagus-bagus, akhirnya saya bisa dan banyak puisi saya yang dinilai Highlight. Tapi, tidak setiap hari saya nulis puisi. Itupun harus nunggu inspirasi dan merangkai kata menjadi puisi yang cukup bagus.

Oleh karena itu, bagi kalian yang baru menekuni dunia fiksi, jangan menyerah jika karya yang dihasilkan kurang bagus! Berusahalah dan terus belajar dari karya orang lain, ya layaknya menulis non fiksi gitu, percayalah, kalian pasti bisa menghasilkan karya fiksi yang bagus2!

Selain itu, karena saya ikutan surat fiksi, saya mendapatkan hadiah! Yup, semua karya surat fiksi yang dilombakan termasuk karya saya, dibukukan! Ooh, senangnya, punya buku sendiri. Ditunggu ya bukunya, selain buku kumpulan kenangan dari sesepuh Kompasiana, Pak Tjiptadinata Effendi.

Habis itu, saya nulis buku apalagi ya? #nunggupengalamanbanyakdulu

Ya udah, salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Kompas TV Lampung Akhirnya Mengudara Lebih Awal!

Oktober 30, 2015 Nahariyha Dewiwiddie


Waktu itu, saya pernah baca nih, Kompas TV Lampung rencananya akan mengudara 30 Oktober, menurut yang saya baca di tribunnews.com.

Tapi, nyatanya sejak petang pada hari kemarin, saat saya mau menonton acara kesukaan saya, Kelas Internasional di NET TV, Kompas TV Lampung sudah mengudara lebih awal dan berstatus siaran pecobaan. Ya namanya aja siaran untuk pertama kalinya....

Acara yang diputar di Kompas TV Lampung, ya musik... itupun udah basi alias udah lama banget. Tapi, waktu itu saya harus menonton acara Kelas Internasional dulu, habis acaranya bagus banget sih, malah bisa belajar banyak tentang budaya dan bangsa sendiri. Nah, saya sudah bahas di Kompasiana yaa, di sini: Belajar dari Tayangan Kelas Internasional, Mencintai Budaya Sendiri


Habis itu, setelah saya shalat isya' dilanjutkan dengan acara 100 Hari Keliling Indonesia bersama Ramon Tungka. Hari pertamanya, jelas menjelajahi Lampung, terutama di Kabupaten Pringsewu di kawasan Bukit Barisan Selatan. Sayangnya gak bisa nonton sampai habis.... soalnya saya keramas malam, pantas saja ngantuk...

Oiya, sebelum hadirnya Kompas TV Lampung, beberapa TV Nasional lainnya sudah bersiaran daerah, lho! Trans TV Lampung, Indosiar TV Lampung, ANTV Lampung, RCTI Lampung, SCTV Lampung, Metro TV Lampung, dan iNews TV Lampung. Jadwal siarannya sih beda-beda, rata-rata pada waktu dini hari. Ada juga yang siang hari, sore hari, maupun malam hari. Oke juga, sekalian promosiin kekayaan daerah, tapi jangan sampai menggangu siaran nasional, seperlunya saja ya!

Ya udah, semoga saja TV-TV nasional di daerah bisa menyiarkan tentang daerah, biar masyarakat lebih mengenal daerahnya sendiri.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Kamis, 29 Oktober 2015

Akhirnya TV Edukasi Bisa Diakses di Televisi!

Oktober 29, 2015 Nahariyha Dewiwiddie

Akhir-akhir ini, Kemenkominfo minta lembaga penyiaran di daerah, terutama daerah terdampak kabut asap untuk menyiarkan acara edukatif selama jam sekolah. Inilah yang barusan saya baca di media daring, disini.

Nah, akhirnya, TV Edukasi bisa ditonton oleh seluruh masyarakat di daerah yang terkena kabut asap. Tidak hanya itu lhoooo! Di Lampung, tempat tinggal saya saat ini, ya walaupun desa saya tidak terkena kabut asap, masih bisa menikmatinya! Alhamdulillaaah!

Yup, keinginan saya terhadap TV Edukasi hadir di rumah saya, akhirnya dikabulkan! Dan saya sudah menyampaikannya lebih dulu, di Kompasiana! Ya, walaupun nontonnya masih sedikit-sedikit, habis minat nonton TV agak berkurang semenjak saya nge-blog, hehe :D

Ya udah, saya usahakan untuk menonton. Walaupun di-relay pada salah satu TV lokal aja sudah senang banget yaa! Nah, sampai saat ini, setahu saya hanya Radar TV Lampung yang bersedia me-relay nya! Kalau TVRI sih saya gak tahu, jarang nonton TVRI sih, atau jangan-jangan TVRI gak mau me-relay nya lagi? Entahlah. Walaupun demikian, upaya Radar TV untuk menyajikan tayangan mendidik, patut diacungi jempol. Terima kasih Radar TV....

Oiya, saya harap tayangan ini bisa dilangsungkan setiap hari ya, biar anak Indonesia bisa teredukasi. Kalau bisa sih, selamanya! Ya lah, acara-acara TV saat ini banyak yang tidak mendidik. Semoga TV Edukasi bisa konsisten ya, istilah agamanya ya istiqomah, untuk mencerdaskan anak bangsa.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini