Jumat, 09 Juni 2017

Menulis Artikel tentang Introvert, Jangan Takut!


Sumber: entrepreneur.com
Menulis artikel-artikel tentang introversi memang tak menjamin bisa jadi viral dalam waktu singkat. Iya lah, siapa yang mau baca artikel itu? Kebanyakan dari manusia di muka bumi ini memang ekstrovert, jadi mereka pasti merasa nyaman dengan sifat mereka, dan bahagia jika banyak orang yang selalu di sisinya, mengiringi setiap detik-detik kehidupan.

Namun, karena saya sendiri adalah seorang introvert, maka saya merasa perlu untuk menulis berbagai artikel tentang introversi, dalam berbagai sisi kehidupan. Hal-hal yang biasanya identik dengan ekstrovert, saya memberikan penjelasan agar yang introvert bisa dimengerti. Misalnya saja kopdar, vlog, dan aktivitas yang butuh tampil di muka umum dan pertemuan dengan banyak orang.

Oh ya, kalau mereka lihat artikel-artikel saya, pasti mereka menilai saya hanya berteori aja. Bo'ong ah kalo kayak gitu. Mana mungkin saya menulis kalau saya tidak merasakan pengalaman dan pembelajaran terlebih dahulu? Seandainya kalau artikel saya ditulis berpatokan dari referensi secara text book, pasti "rasa" dari tulisan saya nggak kayak biasanya. Kaku, dan terasa beda.

Cuma, saya kalau menulis, tak semua pengalaman dari pembelajaran saya tuliskan secara langsung, melainkan ditarik kesimpulan apa yang telah kualami, iyaa 'kan?

Nah, seperti yang sudah kujelaskan di beberapa artikel, karena pengalaman itulah, isi dari tulisan tak bisa dibilang "asal-asalan" dan meragukan. Terlebih, kalau sudah dipadukan dengan referensi ilmiah dari berbagai sumber, jadi isi tulisan tersebut akan semakin kuat dan berkualitas.

Oke, kembali lagi. Memang saya, akhir-akhir ini kok jadi getol menulis artikel soal introversi?

Ya, karena semua ini berawal dari kesalahpahaman.

Kesalahpahaman karena si introvert adalah pribadi yang tertutup, padahal itu kurang tepat sebenarnya. Sebenarnya, ini lebih kepada cara memperoleh energi mental dari lingkungan. Bisa sih bertahan di dalam dunia luar, namun bersifat terbatas. Setelah energinya terkuras, baru balik ke rumah untuk beristirahat, mengisi ulang energinya, bukan?

Ada anggapan-anggapan yang menyebutkan, si innies cenderung pemalu, pendiam. dan tidak pandai bersosialisasi. Memang benar, tapi tak semua orang cenderung seperti itu. Masih ada orang introvert yang mudah berteman dengan banyak orang, dan bisa percaya diri. Ya, semua ini, kembali lagi dengan kondisi pribadi masing-masing.

Tapi, secara umum, orang introvert kurang menyukai kegiatan yang butuh interaksi dengan banyak orang. Apalagi kalau disorot.... duuh, betapa tersiksanya! Makanya, saya menulis artikel-artikel yang biasa dilakukan oleh masyarakat, dan mengikuti perkembangan di era kekinian. Tapi, tentu dengan sisi lain dari seorang introvert.

Dan janganlah takut kalau menulis tentang hal itu, ya! Karena, saya yakin, masih ada orang senasib denganku yang butuh info itu, dalam berbagai sisi kehidupan. Sehingga, informasi tersebut bisa bermanfaat, dan kaum introvert bisa lebih bahagia serta tidak minder dengan temperamennya, bukan?

Dah, jangan khawatir lagi. Kaum introvert 'kan punya kelebihan nih, maka berkaryalah dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan bidang yang disukai, ok?

I'm introvert, and I'm proud of it!

Minggu, 04 Juni 2017

Resensi Buku School of Skills: Menjadi Penulis Konten yang "Ahsanu Amala"

Sewaktu saya berada di Palembang, tepatnya di toko buku Gramedia World, mama saya merekomendasikan untuk membeli buku yang pas untuk hobiku. Judulnya, "School of Skills: Menulis untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat".

Dan, ketika saya membaca buku--yang notabenenya adalah buku motivasi untuk berdakwah--diriku merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga, yang tentunya berguna saat mengarungi dunia kepenulisan di masa depan.

Salah satunya, kita diperintahkan, dalam limit waktu yang terbatas ini, untuk menulis yang ahsanu amala, bukan aktsaru amala, karena sesuatu yang berkualitas, tentu tulisannya akan "berdaya ledak tinggi!" (hal.57). Apalagi kita dituntut untuk mengisi waktunya dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
"Jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, niscaya engkau akan disibukkan dengan keburukan"

Nah, dalam menulis, tentunya tulisan yang kita hasilkan harus berilmiah, juga dipertanggungjawabkan secara ilahiyah. Pilihlah yang terbaik, dan pastikan, materi tulisan kita tidak melanggar syariat.
"Kita harus sangat berhati-hati jika tulisan kita menjadi inspirasi keburukan orang lain. Karena bisa menjadi dosa jariyah yang tak pernah berhenti. Ngeri. Astaghfirullah."

Lalu pesan dari Imam Syafi'i rahimahullah yang harus diingat ketika menuntut ilmu, baik agama maupun dunia, yang berjumlah enam perkara.
"Kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali enam perkara, yaitu kecerdasan, gemar belajar, bersungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru, dan perlu waktu lama" (hal.30)

Selanjutnya, saya tahu, pelajaran yang diambil dari kisah Sayyidah Nafisah (hal 21-22). Beliau adalah seorang wanita shalihah yang pandai memanfaatkan waktunya untuk meningkatkan keimanan, dan hal itulah yang mendorongnya untuk berdakwah di jalan Allah. Berkat kesungguhan dalam kebaikan, beliau diwafatkan dalam keadaan berpuasa, di bulan suci Ramadan pula! Subhanallaaah...

Kemudian, tentang membaca yang dibahas dalam bab "Paradigma Membaca". Sayangnya, banyak orang yang punya banyak koleksi buku, namun tak menghasilkan apa-apa selain uang. Jadi, kalau kita ingin kegiatan membaca kita berbuah karya, lihatlah Imam Syafi'i yang menjadikan buku sebagai pemantik ide menulisnya. Beliau masuk perpustakaan dan ketika keluar dari perpustakaan, beliau telah membuat karya baru, bukan copas skripsi!

Lalu, setelah itu, barulah kita mengolah ide menjadi sebuah tulisan. Di buku ini, Pak Shol menjelaskannya melalui filosofi "Menulis Selezat Memasak". Lima langkah tersebut antara lain:
1). Memiliki gagasan yang bersih, segar dan cemerlang
2). Mencari sumber yang bersih, halal dan segar
3). Mengolahnya dengan resep khas dan cerdas
4). Mencicipi dengan hati yang jernih dan lidah yang fasih
5). Menyajikannya dengan indah dan mulia.

Tentunya, kita menulis tentunya dijadikan sebagai tarbiyah diri sendiri, memaknai setiap peristiwa sebagai muhasabah diri.

Dan, masih banyak hal-hal lain yang tentunya, tak bisa kujelaskan semuanya.

Penasaran? Yuk, miliki bukunya, dan rasakan efek motivasi yang akan membakar semangat menulismu!

KETERANGAN BUKU:

Judul Buku: School of Skills
Penulis: Solikhin Abu Izzuddin
Penerbit: Pustaka Ikadi
Tahun Terbit: 2015
Jumlah halaman: 218 halaman


Minggu, 28 Mei 2017

Mencintai Nulis Boleh, tapi Membenci Riset, Jangan!

Sumber: writing.com
Enaknya, kalau orang sedang menulis itu, menuliskan apa yang telah dirasakan dan punya pengalaman sebelumnya, terus memberi solusi atas pengalaman tersebut. Kalau lebih beruntung, bisa berkunjung ke tempat wisata, restoran, terus menuliskan hasil reportasenya. Gampang 'kan 

Tapi, tulisan yang punya keutamaan--alias tulisan-tulisan yang berkualitas, adalah karya yang dihasilkan setelah melewati tahapan-tahapan yang bernama riset. Artinya, kita dituntut untuk membaca artikel-artikel yang terhampar di berbagai sumber, yang berkaitan dengan itu. Berarti, nggak bakalan cukup kalau kita sekadar melahap bacaan, lalu ditulis ala kadarnya, bukan?

Ya, seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini. Tiada hari tanpa riset. Kalau cuma mengandalkan pengalaman, apa mungkin tulisan-tulisan saya akan lebih bermutu? Belum tentu! Bahkan, harus dilakukan oleh seorang penulis maupun blogger, meskipun yang diriset adalah hal-hal yang "dibenci". Misalnya saja, tentang Vlog, padahal saya jarang menonton video di laptop pribadiku, malah saya nonton Vlog di televisi. Biasa, menghemat kuota paket saya, hehe :D

Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan, tentu saja biar isi tulisan kita nggak "ngasal" (ah, kayak waktu mengerjakan ulangan di sekolah), dan kita tidak dianggap sebagai pribadi sok tahu, merasa pendapat kita yang paling benar. Selain itu, agar tulisan yang akan dipublikasikan nanti, bisa dipercaya oleh para pembacanya.

Makanya, kalau ingin jadi penulis yang baik, janganlah terlalu sombong dan membanggakan diri, apalagi sampai menolak untuk menerima saran dan kritikan dari pembacanya, meskipun dalam hal-hal kecil seperti materi dan penulisan yang kurang tepat. Bukankah lewat kesalahan dan kekurangan dalam menulis, kita justru ditempa menjadi penulis yang karya-karyanya "berkembang"?

Duuh, rasanya, demi mencapai kesempurnaan, saya harus lebih siap untuk menyiapkan materi, dan berhati-hati dalam menulis nih....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 14 Mei 2017

Mengedit Foto, Cara Terbaik Mempermanis Ilustrasi Tulisan

Selain menulis, salah satu aktivitas sering saya lakoni adalah mengedit foto. Yup, memang dari zaman SMA saya sudah menyukai kegiatan yang satu ini. Kalau dari awal-awal yang diedit adalah foto diriku sendiri dan teman-teman di sekolah, serta kartun hewan dan animasi muslimah, sekarang malah merembet ke hal-hal lain, dari buku-buku bahkan kegiatan reportase seperti makan-makan di KFC! :D

Soalnya, walaupun saya tidak berarti membenci menyisipkan foto apa adanya, namun kalau ngedit foto, hasil gambarnya akan lebih menarik dan nggak ngebosenin. Selain itu, tentu saja biar nggak memperlihatkan hal-hal yang melanggar aturan dan syari'at. Ya, seperti yang saya alami ketika menghadapi masalah menentukan ilustrasi foto untuk lomba blog, yang pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan collage biar ilustrasinya menarik dan bisa dipertegas lagi!

Salah satu ilustrasi tulisan untuk lomba blog

Nah, mengapa saya suka mengedit foto? Karena saya suka gambar, dan tentunya saya lebih menginginkan gambar jadi lebih berkesan untuk melengkapi sebuah tulisan. Kurasa, ada benarnya deh, jika dihubungkan dengan potensi kecerdasan, kecerdasanku di bidang visual-spasial lumayan, tapi nggak menonjol. Coba aja kalau punya kecerdasan visual lebih, selangkah lagi saya bisa berkarya di bidang desain visual dan grafis!

Oh ya, dalam mengedit foto, jika menggunakan apilkasi komputer, saya biasanya pakai Photoscape, kadang pakai  aplikasi bawaan dari Windows, Paint. Mengapa saya tak pakai Photoshop? Karena menurutku penggunaannya ribet, dan aplikasinya juga lumayan rumit!

Kalau di web, saya pernah pakai Muzy.com untuk mengedit kartun muslimah dan gambar berisikan ayat-ayat Qur'an, tapi semenjak jadi aplikasi di Android, saya malas menggunakannya. Kalau ngedit di hapeku, pasti berat kalau nginstal, hehe :D

Selain di Muzy.com, saya juga ngedit foto di photofacefun.com, pizap.com, dan masih banyak lagi aplikasi web yang saya lupa alamatnya apa. Dari sekian banyak foto-foto yang saya edit, salah satunya dibingkai dan disimpan di dalam kamarku, dan kebanyakan diantaranya tersimpan di hardisk lamaku, belum sempat dipindah ke laptop baruku. Jadi, dengan banyak foto-foto tersebut, 'kan jadi banyak varian untuk mempercantik isi tulisan!

Oleh karena itu, kalau belum terbiasa, yuk, edit foto-foto kalian, sesuka hatimu. Manfaatkan fasilitas edit foto yang telah tersedia. Tentu saja, foto yang bisa memberi manfaat untuk melengkapi artikel sekalian untuk memunculkan gagasan tulisanmu lewat gambar jepretan kamera tersebut, bukan sekadar foto-foto selfie lebay dan pamer diri kalian yang berlebihan, yang mungkin saja akan membawa bahaya bagi kehidupanmu kelak!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 12 Mei 2017

Mengapa Blogku Ada Dua dan Ditulis Terpisah?

 
Oke, saya tegaskan lagi, mengapa saya punya dua blog, bukan satu biar mudah diurusi? Atau jika ada pertanyaan yang ditujukan kepadaku, seperti ini:

"Kamu menulis di Kompasiana terus, kapan nulis di blog kamu sendiri?"

"Aduuuh, sepi bacanya, sebaiknya jangan buat blog sendiri!"

Hmmm, iya juga sih, tapi bagiku tentu ada alasan tertentu. Seperti yang saya tulis di awal-awal punya blog pribadi, saya memutuskan untuk membuat blog sendiri karena saya tinggal di daerah pedalaman yang tidak dikenal, hehe :D Kabupaten tempat tinggalku saja termasuk land lock, tak terhubung dengan laut, apalagi kota kecil dekat rumahku!

Memang, di mana-mana selalu ada ide tulisan yang terlintas di kepalaku. Inspirasinya, siapa yang tahu? Siapapun dan obyek apapun bisa dijadikan bahan tulisan. Tapi karena alasan tema dan kualitas tulisan, makanya artikel-artikel saya, harus ditentukan, mana yang layak diunggah di Kompasiana atau di blog pribadiku. Terlebih lagi saya sudah memegang verifikasi biru, jadi saya tidak sembarangan lagi untuk menulis di platform blog sosial tersebut!

Oke, saya fokus ke tema. Memiliki dua hal yang berbeda antara passion dan bidang yang saya tekuni, belum lagi hal-hal lainnya yang dijelaskan untuk kalangan khusus, membuatku harus menulis artikel di dua blog yang tentunya terpisah. Mengapa demikian?

Sebab, blog pribadiku, yang beralamat dewiwiddie.blogspot.com ini lebih menyajikan hal-hal kedaerahan, keislaman, dan tentunya di dunia kepustakaan. Misalnya, bedah buku bersama penulis lokal, bazar buku murah, resensi buku (utamakan yang jarang ditulis) dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk akun blog kompasiana.com/dewiwiddie , awalnya dua tahun lalu saya belajar menulis di blog tersebut. Namun, saya slogan blognya berganti jadi Beyond Blogging, saya memutuskan untuk menulis yang "lebih serius" dan sangat berhati-hati. Makanya, saya berfokus pada passion saya, yaitu media dan psikologi. Kadang saya menulis puisi dan artikel tentang kehidupan sekolah.

Terus, jika saya ikutan lomba? Ya saya biasanya ikutan lomba jika ada tema yang bisa saya tulis. Kadang harus tayang di akun Kompasiana saya, kadang di blog pribadi. Bulan Maret lalu, saya mendapatkan undangan dari salah satu situs belanja online via e-mail. Dan, salah satu kententuannya, ya harus mem-posting tulisannya lewat blog pribadi. Alhamdulillah, untung saya lebih dulu punya!

Salah satu tulisan lomba yang ditayangkan di blog pribadi.


Ya, terlepas dari apapun itu, idealnya saya tetap untuk belajar menulis,  tak peduli di manapun blog yang saya punya. Belajar merangkaikan kata-kata untuk disampaikan kepada pembaca. Bukankah semakin berlatih akan semakin lancar untuk menulis. Jadi bukan soal punya atau tidak bakat menulis--karena bakat adalah anugerah tersendiri--namun bagaiamana untuk mengabadikan yang terbaik lewat karya (bagiku yang penting nggak melanggar syariat), dan ber-azzam untuk tetap berbagi ^_^

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

 

Kamis, 11 Mei 2017

Mengintip Bazar Buku Murah di Perpusda Metro

Sebenarnya,saat bazar buku yang diadakan di Perpusda Metro tersebut dibuka tanggal 8 Mei, saya malah terlalu fokus ke KFC untuk me-review menu terbaru untuk keperluan lomba blog. Jadi, ke Perpusda akhirnya terlupakan. Nyesel deh jadinya. Padahal jarak KFC ke Perpusda deket lho, nggak nyampe 100 meter, saya sudah sampai di sana!

Bersuyukurlah situs berita Jejamo.com memberitakan tentang event tersebut. Ya, sudah lama sekali bazar buku murah tak hadir di kota Metro. Di awal-awal tahun 2016 kalau nggak salah, sempat diadakan, namun setelah itu tak ada lagi para pedagang yang mau menjual buku-buku dengan harga murah. Apalagi ditambah ada kabar kalau Gramedia tidak mengadakan bazar bukunya di Bandar Lampung, melainkan di Pringsewu yang jauh dari rumahku. Yahhh...

Ya, saya baru tahu dari kemarin. Setelah tahu kabar tersebut, langsung saya bergegas ke Metro lagi! Di tengah perjalanan, saya sempat kepikiran, apakah bazar buku masih buka atau sudah tutup? Pasalnya, tak seperti bazar yang dulu-dulu, di bazar kali ini tak ada poster pemberitahuan yang dipasang di pohon-pohon atau tiang-tiang di pusat kota!

Dan, sesampainya di terminal kota, saya berjalan kaki menuju Perpusda. Ternyata, bazar bukunya masih buka! Saya lihat, ada beberapa pelajar yang sibuk memilh buku-bukunya. Ada juga mahasiswa, juga masyarakat umum yang mencarikan bahan bacaan untuk kehidupan mereka.

Di bazar buku kali ini, ada ratusan buku-buku yang beragam sesuai bidangnya. Mulai dari novel, keislaman, kesehatan, kamus, biografi, parenting, juga komik. Ada juga satu buku yang saya lihat, ditulis dalam bahasa Inggris (waah, buku bagus bagi yang suka tantangan baca buku asing, haha :D) Sayangnya, buku anak-anak malah ludes lebih dulu. Dan kata penjualnya, ya dari awal sudah diserbu, dan belum akan didatangkan kembali.


Ya, walaupun buku-buku lama, toh tak mengurangi antusias mereka untuk berburu buku murah. Karena, yang namanya buku pasti mengandung sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya, saya malah kesulitan mencari buku-buku berfaedah sesuai minatku, terlebih lagi buku-buku sebagai referensi dan inspirasi menulisku. Dan pada akhirnya saya membeli dua buku yang semoga aja akan berguna dihidupku kedepannya, aamiiin...

Oh ya, sama seperti bazar buku di Perpusda sebelumnya, kesemua buku-buku tersebut, dikelompokkan terus digantung harga bukunya pakai tali, dari atas tenda, seperti yang terlihat di foto-foto ini:

Tapi, ada yang berbeda dari segi penyelenggaraannnya. Jika penyelenggaraan bazar buku di Perpusda Metro adalah agency, kali ini penjual buku yang bernama Azril inilah yang akan menggelar bazar buku murahnya. Dan demi misinya untuk meningkatkan minat baca, beliau sampai berkeliling, berkunjung ke kota-kota di provinsi lain, lho!

Azril, sang penjual bazar buku di Perpusda
Saya tanya ke beliau, sampai kapan bazar buku ini dibuka? Beliau jawab bahwa bazar buku akan dibuka sampai sebulan ke depan. Jadi, jangan khawatir jika takut bazar buku akan tutup, ya!

Nah, jika kalian punya waktu luang, apalagi di hari libur seperti sekarang ini, ayo, ajak keluarga, sahabat, atau pasangan ke bazar buku di Perpusda! Diharapkan, semoga buku-buku murah yang dipamerkan akan mengantar negara kita menjadi lebih maju. Salam literasi!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi! ^_^

Kamis, 23 Maret 2017

Desi, “Malaikat Penolong” yang Menjelma Menjadi Sahabatku

Maret 23, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Aku dan sahabatku, Desi, saat hari Kartini tahun 2013/ dok @delizaliana dengan editan dari penulis

Hari-hari saat aku bersamamu sahabat
Telah lama waktu yang kita lewati bersama
Ku sadari, masa itu, masa-masa terindah
Dalam sukaku dalam dukaku, engkau selalu ada

(Sahabat – Ali Sastra)

Mendengar lagu nasyid di atas, membawaku pada kenangan bersama sahabat yang kusayangi. Tidak hanya di dalam memori benakku, aku juga berkali-kali memandang foto pernikahan sahabatku yang telah terbingkai, terpajang di dalam kamarku. Saking rindunya pada sahabatku, sampai terbawa ke alam mimpi, bertemu di sebuah angkot!

Duuh, sungguh, aku rindu berat padaku, wahai sahabatku....

Oh ya, sosok sahabat yang kurindukan, yang paling dikagumi seumur hidupku adalah dia yang selalu menemaniku di setiap langkahku, dalam suka dan dukaku. Dia jugalah yang berhasil membangkitkanku untuk terus bertahan menjalani kehidupan awal sekolah yang menurutku, kisah yang sangat menyakitkan, dan meloloskanku masuk jurusan yang telah kuimpikan sejak lama.

Desi, begitulah nama sahabatku. Dia adalah seorang wanita, dari desa di pinggiran kecamatan tempat kediamanku berada. Desa tersebut, yang dimana tempat sahabatku ini berasal, juga dilewati sebuah dam, dimana sungai-sungai besar mengalir dan menyalurkan irigasi, ke sawah-sawah para petani.

Aku telah mengenal sahabatku justru dimana kami ditakdirkan untuk menjadi teman sekelas, X.4. Sebenarnya, kami bertemu pertama kalinya saat kami sama-sama bersekolah di sebuah SMP Negeri, namun hanya sebatas obrolan saja. Di kelas sepuluh di sebuah SMA Negeri itulah, aku mulai mengenalnya lebih dalam, dan menjadi teman baginya. Dari sebuah sekolah jugalah, cerita persahabatan kami bermula.

TEMAN YANG BERHASIL MEMBANGKITKAN KEHIDUPAN AWAL SEKOLAHKU

Ingatkah saat ku terpuruk di sini,
Kaulah yang selalu di sisiku
Terima kasih telah menjadi bagian yang berarti 'tuk persahabatan kiiitaaa....

Potongan lirik nasyid di atas, mengingatkanku dengan suatu peristiwa di hidupku. Saat itu, bulan November tahun 2011, saat itulah diriku memiliki akun Facebook untuk pertama kalinya. Aku mulai menambah teman-teman yang pernah kutemui semasa sekolah, juga eksis lewat status-status yang ku tulis. Namun, apa daya, di bulan yang sama, aku justru ditimpa takdir yang buruk. Saat itu aku dipaksa duduk belakang, terlebih lagi sendirian. Aku pun langsung menangis, lalu menumpakan perasaanku di Facebook. Akibatnya bisa ditebak, aku dimusuhi hampir semua teman sekelas!

Tapi, tidak demikian dengan sahabatku, Desi. Dia memang dikirimkan Tuhan untuk menjadi “malaikat penolong” untukku. Seingatku, dia mengirimkan pesan singkat di handphone-ku, untuk menyemangati diriku yang sedang terpuruk.  Setelah masalahku berlalu, akhirnya diriku duduk, sebangku dengannya!

Tidak hanya itu, berkat keberadaannya, aku bisa bertahan dari kehidupan kelas sepuluh yang bagiku, bagaikan di dalam neraka. Bagaimana tidak, di kelas itu, ada sekelompok siswi yang membuatku takut, karena mereka mengejek diriku dan menyakitiku, bahkan tidak suka akan keberadaanku. Akhirnya, saat kenaikan kelas, aku bisa terbebas dari ujian hidup yang tidak menyenangkan itu, dan aku bisa masuk ke kelas yang kuidamkan, jurusan IPA!

RAGAKU DI IPA 3, TAPI HATIKU DI IPA 1

Di tahun kedua dimana aku bersekolah, aku mendapati Desi tidak bersamaku lagi dalam satu kelas. Memang, dia telah berkumpul dengan teman-teman barunya, di XI IPA 1. Sedangkan, diriku, dan teman-teman lainnya, merintis sebuah komunitas baru, XI IPA 3, dimana kami adalah generasi perdananya.

Akan tetapi, walaupun diriku telah dikelilingi oleh teman-teman sekelasku, tetap saja, kebaikan sahabatku tidak akan tergantikan dalam hidupku. Bersyukur, aku dipertemukan dengan mereka yang baik, walaupun mereka sebenarnya tidak begitu akrab denganku.

Karena itulah, sewaktu aku aktif di organiasi KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), aku mengajak Desi dan seorang teman lainnya di IPA 1, membentuk sebuah kelompok tersendiri. Di balik keakraban kami bertiga, kami sebenarnya memiliki ambisi tersendiri: mengumpulkan piagam, sebagai tiket untuk melanjutkan kuliah!

Maka, kami pun memutar otak untuk mewujudkan impian kami, di antaranya, mengikuti lomba inovasi teknologi dan karya ilmiah di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan sampai lomba yang diselenggarakan oleh LIPI pun kami meniatkan diri untuk ikut serta. Beruntung, kekurangan diriku dalam presentasi, ditutupi oleh kedua sahabatku yang memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik. Bahkan, keterampilan berpikir yang sering aku lakukan, mencari ide untuk karya ilmiah kami, tidak disangka bisa bermanfaat bagiku di masa depan; berguna saat aku menulis kreatif di platform blog!

Tidak hanya saat berada dalam organisasi KIR, di kehidupan sekolah pun kami bertiga berteman akrab. Bahkan, kami sering mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, di rumah kerabat Desi. Ya, hatiku memang dekat dengan IPA 1 ketimbang kelasku sendiri. Sampai kenaikan kelas pun, ketika aku keluar kelas dan mengambil suatu dokumen, diriku sedang bersama dengan kedua temanku di kelas tersebut, bukan teman-teman sekelasku.

KELAS TINGKAT AKHIR, BERKUMPUL JADI SATU KELUARGA

Bersama teman-teman kelas XII IPA 1/ dok. Dupasat dengan editan dari penulis

Ketika kami naik ke kelas XII dan bertemu dengan hari pertama sekolah, kami diacak dan menempati kelas yang telah disediakan. Alhamdulillah, aku dipertemukan lagi dengan Desi di kelas XII IPA 1! Terlebih lagi, aku diterima oleh teman-teman sekelasku yang baik hati, diperlakukan layaknya anggota, menjadi satu keluarga besar!

Pada saat itu pula, kami berdua bersama teman di kelas sebelah, melanjutkan proyek lama yang sedang kami rintis sewaktu kelas XI; mengikuti lomba karya ilmiah. Sayangnya, kami hanya mendapatkan sedikit piagam penghargaan, dan karya kami belum lolos ke babak selanjutnya. Bandingkan, ketika diriku bersama tiga teman lain, dimana kami meraih juara 1 lomba karya ilmiah se-Kabupaten berlambang tugu Pepadun dan Kopiah Emas itu!

Tahun 2014, karena kami lebih fokus ke UN dan persiapan untuk melanjutkan kuliah, akhirnya kegiatan penelitian kami harus berakhir. Walaupun demikian, hubungan pertemanan kami tidak memudar begitu saja. Sebaliknya, aku dan Desi bisa berbahagia bersama teman-teman lainnya dalam satu kelas, tentunya dengan beragam cerita yang tidak bisa dijelaskan satu per satu.

MENGAPA DIRIKU BEGITU MENYAYANGI SAHABATKU?

Sebagai seorang introvert, menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain tidaklah mudah, karena si innie sulit untuk berbaur dengan orang lain secara akrab. Ketika dia berhasil menemukan teman yang cocok, dia akan bersikap setia kepada temannya, seumur hidup!

Begitu pun ketika aku berhasil menemukan sahabat sejatiku, Desi. Melihat sikap sahabatku yang satu ini, sudah pasti membuat hatiku luluh, dan menjadi teman akrab untuk selamanya. Mengapa diriku begitu menyayanginya?

1. Selalu Tersenyum, Kalem, dan Ramah
Ketika bertemu dengan orang lain, dia selalu menyebarkan senyuman pada semua orang. Tidak hanya itu, dia juga bersiap kalem dan ramah. Pantas, dia mempunyai banyak teman, bahkan sahabat. Pastinya, dia selalu bahagia karena banyak teman yang menyertainya, dan tidak akan kesepian.

2. Rela Berkorban
Sahabatku yang satu ini bukanlah tipe yang egois. Sebaliknya, dia rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Ya, seperti yang aku lihat, ketika Desi membatalkan niatnya untuk kuliah dan lebih memilih bekerja di Tanoh Menggalo itu. Dia berpikir ke depannya, tentang nasib ketiga adiknya yang masih bersekolah, sehingga di masa depan mereka tidak bernasib seperti dirinya. Nah, keputusan yang diambilnya itulah yang sempat membuatku menangis. Tapi, aku yakin, Tuhan telah memberi jalan yang terbaik untuknya.

3. Bersedia Menyemangati Ketika Sedang Terpuruk, dan Saling Berbagi
Desi memang sahabat yang aku banggakan. Bagaimana tidak, jarang teman yang mengerti keadaanku, suka maupun duka. Di saat aku terjatuh dan sedih, dia selalu menyemangatiku, seperti yang telah saya jelaskan dalam kisah awal sekolahku di atas. Bahkan, ketika aku curhat tentang sesuatu, dia selalu memberi solusi. Termasuk, ketika aku mengeluh tentang ketiadaan inspirasi untuk menulis di blog setelah melihat inovasi barunya, dia selalu menasihatiku: "Sudahlah sobat... pelan-pelan... jangan sedih..."

Tapi, bukan berarti aku selalu memanfaatkan dia, kok. Kami punya kepentingannya sendiri-sendiri. Bahkan, ketika Desi harus mempelajari keterampilan komputer untuk pekerjaannya yang sekarang, dia pernah meminta bantuanku, yang akhirnya aku memberi solusi. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan, bukan?

4. Selalu Memaafkan Jika Temannya Melakukan Kesalahan
Jika seseorang melakukan kesalahan, sahabat yang baik tidaklah memutuskan persahabatan itu, bahkan selalu membukakan pintu maaf untuknya. Ya, seperti itulah Desi. Kadang, walaupun aku berkata sembarangan ketika berbicara hal-hal tertentu, dia tidaklah marah. Justru dia memaafkanku ketika aku melakukan kesalahan saat berbicara. Duuuh, betapa indahnya sikap yang seperti itu!

5. Mengajak pada Keimanan dan Kebaikan
Satu hal yang membuatku semakin mengagumi Desi adalah dia memang sahabat yang mengajakku dalam kebaikan dan keimanan pada Allah. Buktinya, saat teman-teman sekelas kami memilih pulang, Desi justru mengajakku masuk ke masjid sekolah, mengikuti ekskul ROHIS.

Dan tidak hanya itu, dia juga mengirimkan pesan singkat padaku yang berisi jadwal kajian di Asrama Haji, Pesantren, yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan. Apalagi kalau dia sekarang menjalankan ibadah sunnah, termasuk puasa Senin-Kamis. Subhanallaaah, aku tambah senang sekali bersahabat dengannya, persahabatan dalam iman. Kapan ya, aku bisa seperti dia, sehingga diriku menjadi muslimah seutuhnya ?

Semoga kita kelak dipertemukan dalam surgaNya ya sayaaaang.... :)

BUKU, HADIAH YANG PANTAS UNTUK SAHABATKU TERSAYANG

Akhir tahun 2016 lalu, aku mendapatkan kabar gembira. Ya, apalagi kalau bukan sahabatku tercinta, Desi akan menikah pada awal tahun ini! Sungguh, diriku terbawa perasaan, dan aku menyiapkan kado istimewa untuknya, yaitu buku-buku panduan pernikahan dan menyusui, yang telah aku berikan saat resepsi pernikahan. Semoga pernikahanmu selalu abadi ya, Des!

Bersama mempelai perempuan, Desi/ dok.pribadi Desi, dengan editan dari penulis

Memang, aku lihat, saat bersekolah, sahabatku suka membaca buku. Buku yang dibacanya, hanyalah novel yang harganya puluhan ribu, penerbit lokal pula. Sayangnya, dia memang tidak banyak memiliki banyak buku, maklum saja buku harganya mahal. Apalagi sejak dia bekerja di luar kota, malah tidak ada toko buku yang tersedia di sana!

Karena itulah, aku berpikir agar aku bisa mendapatkan dana untuk bisa memenuhi kebutuhanku dan berbagi, termasuk memberi hadiah buku yang bermanfaat bagi kehidupannya. Caranya, ya ikutan kompetisi blog yang sedang kujalani ini. Semoga, apa yang kulakukan ini bisa membuat kehidupan sahabatku menjadi berarti, merasakan manfaat dari membaca sebagaimana yang telah aku buktikan ketika berakrab-akraban dengan buku. Dan dengan bekal ilmu itulah, aku harap rumah tangganya menjadi langgeng dan bahagia, dan tidak bernasib buruk, seperti pernikahan pasangan lain yang harus berakhir hanya karena kurangnya pengetahuan!

***

Suatu hari, aku sesekali merenungi kenanganku bersama sahabatku. Bayangkan, jika Desi tidak sekelas denganku waktu kelas sepuluh, diriku tidak akan bisa bertahan di SMA yang memiliki gedung sekolah yang cukup melingkar panjang itu. Aku tidak bisa berlatih berpikir kreatif sewaktu masih aktif di KIR, dan ujung-ujungnya, aku gagal di dunia blogging; gagal melahirkan tulisan-tulisan yang berkualitas.

Ya, sebagai penutup dan tanda terima dariku, saya kutip reff terakhir dari lirik lagu Ali Sastra, Sahabat, dengan sedikit perubahan lirik olehku (aku mohon maaf dan izinnya ya, Kang Ali...)

Sahabatku tercinta....
terimalah kadoku,
hadirmu selalu memberi bahagiaaaa....
Semoga abadi persahabatan kitaaaa....
Semoga abadi persahabatan kitaaaa....
(*)

*Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog "cerita hepi elevenia".

Senin, 20 Maret 2017

The Family of Dupasat (XII IPA 1)

Maret 20, 2017 Nahariyha Dewiwiddie


Teman-teman Dupasat di SMAN 1 PUNGGUR Lamteng/dok. Dupasat dengan edit seperlunya

XII IPA 1, yang juga disebut Dupasat, memang bukan kelas unggulan, kumpulan siswa-siswi yang cerdas di atas rata-rata. Tapi, soal kekompakannya, jangan ditanya! Bagiku, di kelas itulah saya diterima dan diperlakukan layaknya anggota keluarga dengan baik, bukan sekadar karena ada sahabat setiaku yang baik hati. Faktor itulah yang membuatku sangat bahagia.

Teman-temanku memang sangat baik, meskipun ada hal-hal yang membuat mereka kurang akrab denganku. Mungkin saya orangnya serius ya. Di kelas ini pulalah, saya diajarkan untuk saling berbagi, contohnya saat istirahat tiba dan kami membawa bekal ke sekolah, mereka dengan senang hati menukar menu makanan dan saling mencicipi. Gara-gara hal itu, saya tahu rasanya makan kacang koro, sayur pakis, dan berbagai macam makanan yang tidak saya sebutkan satu per satu.

Saat kami berada di dalam kelas, nonton bareng film maupun dokumenter rasanya seruuuu banget! Begitupun ketika kami merasakan lelah, sehingga tiduran di ruang kosong di belakang bangku kelas. Kebersamaan kami, para alumni IPA 1 tak berhenti hanya di dalam kelas, di luar kelas pun kami tetap kompak, tak terpisahkan satu anggota pun.

Saya teringat, saat kelas kami keluar sebagai juara lomba kebersihan kelas. (Wakil) ketua kelas menawarkan beberapa pilihan yang akhirnya, kami berpesta, makan-makan di rumah wali kelas! Lagi, saya pun merasa dilibatkan di dalamnya, kebagian tempat untuk bonceng motor, karena jarak sekolah ke rumah wali kelas yang cukup jauh. 

Dan tahukah kalian, wali kelasku itu seorang guru Matematika, mata pelajaran yang sering menjadi momok bagi kami. Di samping itu, beliau juga seorang guru agama Kristen di sekolahku, ya meskipun di kelas kami yang berjumlah 29 siswa itu, hampir semuanya muslim, dan hanya satu siswi yang beragama Katolik. Oiiii, betapa indahnya kebersamaan itu!

Selain bersilaturahmi ke rumah wali kelas, kami juga berkelana ke beberapa rumah guru lainnya. Bahkan, sebelum kami masuk ke rumah guru Fisika, kami sempat mencicip jambu biji yang memang tumbuh dari pohon, di depan rumah. Memang, walaupun kami kadang bandel, toh kami tidak melupakan guru-guru yang mengajarkan kami ilmu yang bermanfaat.

Ya, tidak hanya teman-teman yang merasakan hawa kebersamaan itu. Saya sendiri merasa terbayang dengan kata-kata teman sekelas yang menjadi penyemangat dalam setiap langkahku, karena saya menyadari kalimat mereka yang dibisikkan padaku benar adanya. Bagaimana tidak, saat duduk bersama teman sebangku, dia pernah mengatakan padaku, bahwa diriku punya kelebihan di bidang bahasa. Begitu pula ketika saya baca dokumen Cerita di Akhir Sekolah yang menggambarkan diriku sebagai pribadi yang unik, baik, dan berwawasan luas.

Dua kalimat itulah yang mengantarku cukup sukses di dunia kepenulisan—dunia blogging lebih tepatnya—meskipun saya merasa belum apa-apanya dibanding blogger yang cukup piawai menulis dengan sangat mendalam, apalagi yang sering menang lomba blog! Pemikirannya yang cukup unik, berwawasan (karena saya rajin baca), serta kemampuan menyusun beragam diksi itulah yang membuat tulisan saya cukup diterima baik oleh para pembaca, ya walaupun diriku merasa belum puas atas hasil tulisanku itu. 

Hmmm, benar juga ya, kata-kata adalah sebuah doa! 

Setelah lebih dari 2 tahun berpisah, saya masih berpikir, bagaimana kabar teman-temanku sekarang ini. Ya, mereka telah berpencar ke mana-mana. Dan yang kuliah di universitas, kebanyakan dari mereka memilih menjadi guru. Ada juga yang kuliah perbankan, ekonomi Islam, dan jurusan pertanian. Banyak dari mereka yang bekerja di luar kota, bahkan ada yang sampai di Pulau Jawa. Dan, saya sendiri adalah satu-satunya alumni Dupasat yang suka ngeblog—menulis di dua blog (Kompasiana dan blog pribadi), di samping merangkap jadi mahasiswi Perpustakaan.

Oke, sekian dulu ceritaku bersama mereka, The Family of Dupasat. Lain kali, kalau lagi kangen-kangenan, jangan lupa, buka album kenangan!

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini