Rabu, 27 September 2017

Bedah Buku Perpusda Metro yang Menginspirasiku

September 27, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yaaa... sudah lama saya tidak menghadiri bedah buku!

Terakhir kali, yang paling berkesan, pas ada bazar buku Inilah Saatnya untuk Action bersama Dominic Brian, remaja pemecah rekor dunia bidang mengingat. Dan itupun diadakan di Palembang. Lha sekarang? Ingin meliput penulis lain, tapi mana bisa? Jauuuuuhhh....

Melihat agenda bazar buku yang terpampang di baliho, kesempatan nih untuk datang! Sempat mau mencatat, tapi akhirnya saya urungkan. Malu ah, saya ini warga luar, bukan orang Metro....

Tapi, saya kembali bertemu adik kelas SMP dan SMA yang tak lain adalah anggota FLP di meja regristrasi. Mendaftar. Namun, saya sendiri dan lagi lagi mewakili diri sendiri. Tak ada sahabat yang menemani. Dan, saya hanya bisa terdiam, mendengarkan apa yang dibahas keempat narasumber tersebut.

Nah, melihat warga Metro ingin menulis dan menapak prosesnya menjadi penulis, rasanya saya mbatin: "Alhamdulillah, saya lebih baik dari mereka". Ups, bukan saya berlagak sombong laiknya Iblis mengingkari sujudnya Nabi Adam, tapi saya merasa beruntung, selangkah lebih maju dari mereka.

Buktinya, di blog K saya, dengan mengantongi seratusan headline, centang biru, kurasa pembaca mengenaliku sebagai penulis yang menelurkan karya hebat. Ah, sebenarnya ini diriku belum apa-apanya, belum benar-benar sempurna, masih harus ditingkatkan lagi.

Tapi, kalau dibandingkan dengan ketiga narasumber tersebut, yang sukses menembus media cetak dan menerbitkan buku, aku mah apa atuh, siapa saya ini? Rasanya, saya belum pantas untuk melangkah lebih jauh seperti mereka, apalagi kalau dibandingin dengan penulis best-seller Erica Febriani, duuh saya bukanlah siapa-siapa....

Tapi, menurut salah satu narasumber, cara terbaik untuk menulis adalah bergabung di komunitas. Komunitas? Kurasa tidak pernah, mustahil bagiku yang introvert dan tak punya banyak relasi. Namun, saya beruntung berada dalam platform blog, dikelola oleh perusahaan ternama dan punya nama, yang terkenal dengan harian KOMPAS itu. Karena mengutamakan kualitas dan hal-hal positif, pantas saya harus berkarya, memberi tulisan yang terbaik dong...

Lalu, ada tips lainnya. Penulis memang harus membaca, tentunya. Kemudian, narasumber yang berjilbab mengatakan bahwa menulis tergantung mood. Yup, saya memang setuju. Tapi, kadang-kadang, saya harus mengalahkan rasa malas tersebut karena tergoda akan target. Kalau tidak, saya menyesal jadinya, melewatkan waktu tanpa tulisan terbaikku.

Ya, begitulah kira-kira hasil informasinya. Pokoknya, saya harus bersemangat menulis lagi dan lagi, walau hanya seorang diri. Bukankah yang membuatku lebih bahagia?

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Minggu, 24 September 2017

Bertemu Bazar Buku Gramedia di Perpusda Metro

September 24, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Yeayy.... ada bazar buku Gramedia lagi di Metro!

Ketika saya ke Perpusda lagi, ada barang-barang yang digelar di bawah tenda, terus ditata rapi seperti pada gambar di atas. Rupanya, bazar buku yang diadakan Gramedia baru dibuka kemarin. Ya, wajar kalau pengunjungnya enggak terlalu rame.

Lalu saya berdiskusi sama kasir Gramedia-nya, kalau bazar buku ini sengaja digelar di Perpusda. Menurutku, alasan Gramedia menggelar bazar bukunya adalah: Pertama, toko Gramedianya kecil, area parkirnya enggak terlalu luas, berdempet dengan toko-toko lain, pokoknya lebih kecil dari toko Gramedia Palembang Atmo.

Kedua, karena tempatnya strategis, banyak pengunjungnya, sehingga bisa memudahkan. Lagi pula, saat ini adalah waktu dimana Hari Kunjung Perpustakaan digalakkan, bukan?


Oh ya, bazar buku yang diadakan Gramedia ini, tentu saja menjual ratusan buku yang beraneka ragam. Ada kuliner, fiksi, teknologi, agama, motivasi, dan sebagainya. Ada buku-buku yang ditaruh dalam rak, ada juga yang terhampar di atas meja. Tapi, sebagian di antaranya sudah pernah saya lihat waktu ke gedung Gramedia Metro.


Tapi, bedanya, buku-buku yang dijual di Gramedia Metro pada meja Special Price dengan bazar bukunya, ya di Bazar buku, tentu buku-buku yang ditampilkan akan lebih banyak. Tapi, saya tetap saja bingung, mau milih buku yang mana, apalagi buku-buku kesehatan, psikologi dan agama. Habis, harganya lumayan mahal, ada yang lima belas ribu, ada yang tiga puluh ribuan, ada yang empat puluh ribu lebih, pokoknya kalau beli buku, silakan lihat stiker harga di belakang buku ya!


Namun, setelah pikir-pikir, saya putuskan tidak membeli buku kesehatan. Soalnya ada buku serupa yang lebih bermutu, yang kapan-kapan akan beli di situs daring walaupun harganya lebih mahal. Lalu, saya kepincut sama buku Ustadz Backpacker. Ya gimana tidak, sebagai penyuka traveling, pasti saya ingin baca, karena toh ada nuansa agama. Sayangnya, harganya lumayan mahal, lagi pula ada buku bacaan yang belum tuntas dan uangnya pas kalau dibeli. Ya udah deh, lain kali.


Ya, walaupun jadwal bazarnya buka lebih awal, berdasarkan jadwal, bazar buku akan berlangsung sampai 29 September 2017. Kalau tanya langsung sama petugas bazarnya, saya enggak sempat waktu itu!

Duuh, rasanya saya ingin ikutan acara Hari Kunjung Perpustakaan, biar warna-warni dan semarak saat ke perpustakaan. Tapi, harus dihemat dulu deh, bawa bekal dan harus sarapan dari rumah. InsyaAllah kalau bisa mendukung, saya ke sana lagi!

Ayoooo, kalau belum sempat, yuk ramaikan acaranya!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Sabtu, 23 September 2017

Refleksiku: Pencapaian 100 Headline dan Kue Bulan

September 23, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Seperti perjalanan besar yang memakan waktu cukup panjang, pasti suatu saat akan berhenti, lalu beristirahat sebentar. Begitu pun dengan menulis, aku akan berhenti, dan merefleksi apa yang ku perbuat, dan kucapai selama ini.

Minggu lalu, sewaktu saya ke kota, kembali lagi singgah ke supermarket terbesar dan terkenal di kota itu. Di sana, terpajanglah berbagai macam kue bulan yang sangat penting bagi warga Tionghoa.

Kue bulan? Itu lho, kue yang biasa disajikan pas Festival Musim Gugur. Walaupun kue tersebut bikin saya tertarik, tapi bukan karena ingin ikut-ikutan merayakannya, ya!

Sayangnya, karena harganya lumayan mahal, per buahnya seharga Rp 20.000, ya udah deh, terpaksa ditunda dulu.

Dari situlah, justru muncullah sebuah janji dari hati saya, kalau jumlah artikel yang dinilai headline di blog Kompasiana-ku genap 100, saya akan dibelikan hadiah untuk diri sendiri; Kue Bulan!

Tentu, bagaimana tidak, hadiah tersebut justru memacuku untuk semangat menulis dan menulis lagi; memberi yang terbaik. Alhamdulillah, kini artikel headline-ku di K ini sudah genap seratus ("nyusul" Bang Bo yang lebih dulu meraih jumlah serupa), berkat artikelku tentang rasa malu. Jumlah yang tidak mudah untuk meraihnya, apalagi diriku yang notabenenya anak rumahan!

Lagi pula, blogger K yang meraih jumlah ratusan headline, masih sangat sedikit, 'kan?

Yang paling menggembirakan lagi, artikelku ini akhirnya terpilih untuk ikut masuk ke aliran berita yang ditampilkan Kompas.com waktu itu (bersama dengan artikel lain dari Pak Bamset), bukan di kolom Kompasiana! Duuh... senangnyaaa!


Nah, atas pencapaian itu, hari ini akhirnya janjiku untuk menikmati kue bulan akhirnya terwujud juga. Waktu di meja kasir, kasir yang tak lain adalah teman SMP-ku bertanya "Kamu beli kue Cina ya? Buat apa?"

Terus saya jawab: Enggak, saya memang suka kue, kok.

Oke, lanjut....

Ya, bukan perkara gampang untuk meraih "artikel yang terbaik, dari yang terbaik", yang berhak menduduki bagian paling atas dari platform blog milik KG ini. Di balik itu, tersimpan segala perjuanganku untuk bisa meraihnya. Mulai dari riset, perenungan, dan banyak membaca, tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman. Bahkan, ada juga artikel headline yang didapatkan justru dari luar rumah, dan melibatkan percakapan bersama teman!

Terus, waktu menulis. Pernah saya menulis salah satu artikel yang butuh waktu lebih dari sehari, lalu hasilnya nyaris sempurna dibanding artikel-artikel yang muncul setelahnya. Dari situlah saya dapat pelajaran, kalau ingin menulis sempurna, harus pelan-pelan, jangan nulis cepat kayak kejar tayang!

Lalu, tantangan saya saat menulis itu, melawan rasa malas. Setiap saya belajar materi untuk menulis kadang rasanya malaaaas sekali, dan ujung-ujungnya baca informasi lain. Tapi, kadang informasi tersebut, alhamdulillah-nya bisa kepake juga. Kadang pula, saya sampai lupa cari info lain, yang ternyata sangat penting saat nulis. Itulah yang saya sesalkan.

Tapi, kadang-kadang sebenarnya "rasa malas" itu, sambil baca-baca materinya, karena takutnya saya enggak siap saat menulis, bukan?

Terus, kalau teringat pembaca setia, alias fans tulisanku? Boro-boro ingat, kenal aja enggak. Teman-temanku juga tidak banyak yang tahu saya itu sebenarnya menulis. Ah, biarkan saja. Menceburkan diri ke dunia kepenulisanku yang sunyi memang enak bagiku yang suka menyendiri.

Yang penting, saya ingat motivasi terbesarku untuk terus menulis, seperti yang pernah saya tuliskan di artikel ini.

Mungkin, selain di artikel ini, mungkin saya akan berencana untuk instropeksi diri besar-besaran terkait dengan belajar menulis, lalu perbaikan ke depannya baagaimana....

***

Ternyata, dari kegiatan menulis, saya jadi tersadar, akan pentingnya belajar, lalu menerapkan ilmunya agar tak terbuang sia-sia. Kemudian memacu diri untuk rajin membaca, itu pasti. Dan yang pasti, menyelamatkan diriku dari kegiatan dan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Nah, habis pencapaian 100 headline ini, saya putuskan akan berjalan; mengalir apa adanya saat diriku meneruskan dunia menulis. Mungkin, saya akan menerapkan metode 'pelepasan' saat posting tulisan ala Gobind Vashdev.

Dan, tentu saja saya akan menulis dengan pelan-pelan, siap akan materinya, dan (berusaha) dengan cara yang jujur dan tampil sempurna, serta mempertahankan tema kepenulisan saya, walaupun saya tidak lagi menulis hal-hal yang dianggap makruh dan haram dalam pandangan keyakinanku; pokoknya harus diperketat lagi deh!

Satu lagi, tahun depan, akan disediakan bulan khusus untuk mem-posting artikel hasil perjalananku ke Palembang saat Asian Games, tepatnya pada bulan Agustus. Dan saya memang sedang merencanakan impianku ini, insyaAllah saya akan menyaksikannya di sana! Do'ain ya, pembaca....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Anak rumahan yang kadang rindu plesiran & jalan-jalan

Sabtu, 02 September 2017

Andai UT Membuka Jurusan Psikologi...

September 02, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Sumber gambar: http://alumni-ut.com

Pada hari sebelumnya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Kurban bagi yang merayakannya! Semoga, pada awal bulan ini (kalau ikut penanggalan masehi), kita bisa mewujudkan rela berkorban dalam kehidupan, dan ber-azzam untuk saling berbagi. Aamiiin....

Oke, sudahin dulu ya, pembukanya.

Kali ini, saya menulis tentang keluhanku dan kegalauanku selama ini. Ingin menempuh pendidikan tinggi sesuai jurusan yang disukai, eh malah terkendala izin orang tua. Pasalnya, mereka itu orangnya protektif; nggak rela putrinya kuliah di luar kota dan menginginkan kuliah di lokasi yang dekat saja.

Tapi, sekarang aja, mikirin kuliah dan baca modulnya aja sudah malas, enggak semangat lagi. Bukannya tidak bodoh, sih (karena kemampuanku cukup bagus meskipun kalah dengan yang jenius), tapi hatiku merasa tidak bersenyawa dengan jurusan yang kutekuni sekarang. Modul-modul kuliah yang pernah kupelajari, sedikit sekali yang nyangkut di otak, walaupun sudah berulang-kali mendalaminya.

Apa saya harus menyerah saja dan lebih baik cari pekerjaan? Hei! zaman sekarang ini, mana mau menerimaku yang hanya lulusan SMA?

Ya udah deh.... aku terusin nulis, lalu rajin ikutan lomba blog...

***

Ya, meskipun Ilmu Perpustakaan yang saya ambil memang sesuai dengan kepribadianku, dan ada unsur bidang media, dan saya juga berminat di bidang tersebut, tetap saja masih kalah dengan bidang lainnya.

Jujur, saya memang sudah lama tertarik dan menggemari hal-hal yang bisa memotivasi dan pengembangan diri, yang kesemuanya bermuara pada psikologi. Masalahnya, jurusan psikologi hanya ada di kota-kota besar, dan mustahil saya bisa kuliah di sana.

Jadi, maafkan aku ya, jika memang tak seberuntung orang lain yang begitu "klik" urusan kuliah dan restu ortunya....

Terus, saya pun kemudian berpikir, mungkin enggak, UT membuka jurusan Psikologi?

Jurusan Sosiologi aja bisa, masak Psikologi nggak bisa "menyesuaikan diri" dengan gaya belajar yang mandiri? Tapi, hmmm... kayaknya harus dipikir-pikir ulang, deh. Soalnya, bidang itu memang berhubungan dengan manusia, yang dituntut untuk interaksi, dan praktik-praktik sosial lainnya.

Waktu saya baca di Hipwee, jurusan sosiologi memang banyak yang ngasih tugas di lapangan; bertemu banyak orang. Nah, di jurusan psikologi, ya 11-12 lah. Belum lagi kalau disuruh kerjain statistika jilid 1 dan 2 yang ujung-ujungnya buat alat pengukuran psikologi dan disuruh "mempertahankannya", waaw lebih rumit lagi kalau diadaptasikan ke belajar mandiri!

Entahlah. Apa UT bisa menyesuaikan jurusan psikologi biar bisa pas untuk pembelajaran mahasiswa secara mandiri atau hanyalah sebuah hal yang mustahil, saya tidak tahu. Yang pasti, kebutuhan lulusan psikologi dewasa ini yang lama-kelamaan akan semakin banyak, dan celakanya lagi, tak semua daerah-daerah yang menyediakan Fakultas Psikologi di kampus!

Tarulah, Ilmu Perpustakaan yang memang urgent untuk dibutuhkan di dunia kerja. Tapi, itupun kebanyakan di kantor-kantor perpustakaan sekolah, kampus, maupun perusahaan saja. Lulusan psikologi, tentu lebih luas lagi. Kalau saya perkirakan nih, di daerah, adakah HRD yang berpendidikan psikologi. Masih jarang!

Dan, ketika saya melihat nama-nama tenaga medis yang bertugas di rumah sakit terdekat, yang ada hanyalah para dokter dan perawat. Tak ada satu pun psikolog di sana. Terus, kalau mau konsultasi masalah mental, ya dimana lagi?

Ya, itulah salah satu masukanku pada UT ke depannya--sebagai hadiah terindah untuk kampus terbuka pada hari Senin lusa, semoga pihak UT bisa mempertimbangkannya nanti. Apalagi, UT sudah punya rektor baru, bukan? Pasti akan membuat gebrakan demi gebrakan di era kepemimpinannya.

Hmmm, kalaupun tak terwujud nanti--dan memang jurusan ini yang terbaik bagiku meski saya tak terlalu menyukainya, semoga saya bisa diberikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan studiku, sembari merancang sebuah impian dan karier idaman yang bisa membantu hobi yang merupakan passion-ku, tahun depan....

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 30 Agustus 2017

Pengumuman: Nahariyha Mundur dari Dunia Facebook!

Agustus 30, 2017 Nahariyha Dewiwiddie
Ya, sudah lama aku melakukan hal ini, dan akhirnya aku harus ku putuskan semuanya.

Akhir bulan ini, aku putuskan untuk hengkang dari dunia Facebook. Meninggalkan kenangan-kenangan yang telah kulalui bersamanya selama lebih dari lima tahun. Aku tahu, hal ini tidaklah mudah. Tapi, aku yakin, ini merupakan jalan yang terbaik untukku.

Terus, bagaimana dengan nasib teman-teman dan kerabatmu, apakah mereka akan rindu?

Mungkin ada yang rindu, tapi aku rasa tak akan rugi karena mereka telah melupakanku selepas SMA. Ya sudah, aku lupakan saja mereka!

Mungkin sewaktu SMA aku sudah melalui hari-hari bersama teman-teman, dan mereka mengabadikannya di media sosial Facebook. Tapi, selepas lulus SMA, kebersamaan kami di sekolah akhirnya berpisah.

Sejak saat itu, aku perlahan-lahan aku tak lagi aktif dan setia di Facebook, melainkan "berselingkuh" di dunia blogging. Apa pilihanku ini salah? Tidak, bahkan aku sangat menikmatinya! Malah, menurut teman sebangku pernah mengatakan, aku punya kelebihan di bidang bahasa, dan akhirnya diriku telah membuktikannya.

***
Setelah sekian lama terjun di dunia ngeblog, aku datang lagi ke Facebook. Awalnya, aku hanya ingin tahu apakah artikel-artikelku dari K ini di-share atau tidak. Akan tetapi, perlahan-lahan, diriku melihat apakah status-status facebook menjadi "lebih baik"? Hmmm, masih tidak berubah!

Ohh, aku ingat waktu SMA sering nulis status-status galau di FB. Namun, setelah menulis di blog umum, aku menyadari bahwa diriku mulai diajari menulis yang benar sampai etika bermedos itu bagaimana, sampai diajari literasi media segala. Dan itu benar, platform yang bernaung di perusahaan ternama dan berkualitas itu, mustahil mengajarkan hal-hal yang sembarangan!

Akhirnya, aku "didewasakan" di blog keroyokan ini, atas takdirNya yang menyeretku untuk menulis di sana. Sekaligus, membuatku jatuh cinta dengan bakat minatku saat ini. Bahkan, sampai menemukan, bidang apa yang selama ini menjadi perhatian lebih dariku untuk mempelajarinya lebih dalam, bahkan di bangku kuliah dan pekerjaan sekalipun.

Dan, hal ini tak ditemui di Facebook. Aku pernah menjadi korban peretasan dengan memasukkan foto-foto porno yang sangat kubenci. Belum lagi aku bergabung dengan banyak grup-grup tidak jelas itu, padahal aku tidak pernah klik untuk bergabung di sana. Ditambah, dengan banyak berita-berita hoax yang bertebaran di lini masa, apa aku tidak nyaman, coba?

Makanya, aku putuskan facebook ini untuk mengontak teman-temanku jika aku ingin bersilaturahmi. Tapi, itu pun tak bertahan lama. Terakhir, aku menggunakan akun ini untuk menghubungi seorang teman SD yang memilih mengabdi sebagai biarawati. Dan ya, ini memang pertemuan pamungkasku dengannya, yang dipertemukan lewat media sosial.

Akhirnya, aku rasa, akumulasi rasa sakit hati kepada teman karena tak dianggap sebagai teman sekolah, tidak nyaman karena porno dan hoax, dan status-status galau yang tak berfaedah, itulah yang membuat saya mengambil keputusan puncak; meninggalkan Facebook untuk selamanya!

Ya, memang tengah kurasakan sekarang.

Tapi, harus ku akui, kawan, aku bukan seorang Nahariyha Dewiwiddie yang tukang ngegalau seperti dulu. Namun, aku hanyalah manusia yang berusaha untuk bijak dan mengendalikan internet, di jalan manakah yang seharusnya ditempuh. Pertemuan di dunia maya telah usai, apakah di dunia nyata harus berakhir juga? Ya, mungkin saya terjadi.

Kini, aku harus ikhlas, untuk melupakan mereka yang tak lagi menganggapku bagian dari teman, walaupun statusnya sebagai teman di facebook. Mungkin ke depannya mereka akan kesulitan menghubungiku karena aku tak punya akun, dan ujung-ujungnya harus kirimkan e-mail.

Tak apa, malah sekarang aku lebih bebas karena aku bisa menikmati hidupku sendiri, dan bersahabat dengan orang yang "mengerti" aku, itu sudah cukup bagiku!

Maaf, aku harus meninggalkanmu, Facebook. Selamat tinggal....


Sabtu, 05 Agustus 2017

Akhirnya, Toko Buku Gramedia Hadir di Kota Metro!

Agustus 05, 2017 Nahariyha Dewiwiddie

Selamat datang di Toko Buku Gramedia yang kini hadir di Kota Metro, Lampung. Di sini, akan menjual berbagai macam barang-barang yang akan terbagi dalam tiga lantai. Yuk jelajahi, dan selamat berbelanja, Gramedia akan melayani Anda semua.

*kok pembukanya berlebihan banget ya?*

Setelah kami harus melalui waktu-waktu penantian dengan penuh kesabaran, akhirnya Toko Buku Gramedia resmi hadir di Kota Metro! Alhamdulillah. Harapan kami selaku warganet--yang berulang kali "menulis doa" di blog dan medsos--akhirnya terkabul juga. Yeaaay!

Ya, sudah lama kami mendambakan kehadiran itu. Sebelumnya, kami hanya bisa bermimpi, kapan toko buku terbesar dan terkenal hadir di kota kecil ini. Gramedia.... oh Gramedia, kapankah hadir di Metro, ya?

Pasalnya, jika mau membeli buku-buku berkualitas, ujung-ujungnya harus pergi ke Bandar Lampung yang dari sini memakan waktu perjalanan lebih dari satu jam. Dan, saya pun sudah pernah dua kali mampir di toko buku Gramedia Raden Intan. Ya sekaligus membuktikan ke papa saya bahwa ke Gramedia nggak melulu harus jauh-jauh ke Palembang sana *halah*

Rupanya, impian dan keluhan kami tentang kehadiran Gramedia di Metro, akhirnya "didengar" oleh pihak Gramedia Asri Media, sebagai pemilik toko buku ini. Seperti yang pernah saya ulas, kehadiran toko buku Gramedia di kota terbesar kedua di Lampung ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan buku berkualitas di Kota Metro. Dan, waktu pembukaan toko buku ini aja (15 Juli), sudah ramai pengunjung! Sayang, waktu itu saya nggak bisa ke sana, kondisiku belum pulih total!

Kami harap, Gramedia di Metro tak hanya sekadar singgah--seperti yang terjadi pada 2013, tapi bisa awet untuk selamanya. Aamiin...

***

Hari ini, setelah saya menghabiskan waktu membaca di Perpusda, saya langsung berjalan kaki melintasi jalan Ahmad Yani, kota Metro. Dalam batin, diriku berkata: "Semoga Gramedia buka ya!", dan akhirnya Gramedia benar-benar buka. Namun, saya tidak langsung mampir ke sana, karena harus makan siang terlebih dahulu di salah satu restoran. Habis itu, saya langsung mampir ke Gramedia.

Waktu pertama kalinya saya masuk ke tokonya, sambutan pegawai Gramedia yang ramah itu langsung menyapa saya dari dekat. Di lantai pertama, terjual tas dan alat-alat tulis, berserta dengan boneka-boneka dan peralatan edukatif lainnya.



Oh ya, di lantai pertama ini, meja kasir juga ada lho! Jadi, kalau udah puas belanja buku dan alat-alat lainnya, mau nggak mau ya harus turun ke lantai pertama buat bayar, kalau tidak ingin dianggap pencuri. Hehe :D

Oke, lanjut ke lantai kedua. Di lantai ini, terjual buku-buku tes CPNS dan buku tes-tes lainnya, buku fiksi yang memikat hati, kamus dan cerita-cerita anak.



Dan, sampailah di lantai terakhir, yang menjual buku-buku agama, kesehatan dan pengembangan diri (waah, bagian favoritku nih!). Ditambah, ada yang menjual kitab sucinya lho! Ya, walaupun masih ada yang jual buku yang agak lama, secara umum, ya lebih lengkap ketimbang toko-toko buku sejenis di kota Metro ini.



Padahal, di Gramed Palembang Atmo, lantai dua dan tiganya terbalik susunan jenis bukunya, tapi, ya nggak papa lah!

FYI nih, di lantai dua dan tiga, terjual buku-buku lama dengan special price antara Rp 10.000 sampai 30.000. Mungkin, ini tujuannya, supaya banyak warga Metro dan sekitarnya yang tertarik datang ke Gramedia, dan tak perlu khawatir dengan harga buku yang ada. Salut deh!


Dan, dari kunjungan ini, saya bisa membawa pulang tiga buku dari rak special price ini, walaupun sebenarnya saya ingin membeli buku rekomendasi saudara jauhku. Tapi, karena hanya alasan harga, ya belinya harus mikir ulang. Masa bodo', yang penting bisa bermanfaat, titik!

Oke, biar kalian lebih penasaran lagi dan tertarik untuk ke Gramedia Metro, silakan kunjungi tokonya di Jalan Ahmad Yani, 15A Metro Timur, di seberang Bank Eka *kok saya yang promosi?*

Tapi, kalau urusan lokasinya, ya hadapannya nggak persis-persis amat, 'kan yaa!

Selamat Mengeksplorasi, pembaca! Success for you, Gramed!

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Rabu, 05 Juli 2017

Apa Kabar, Kondisi Jalan-jalan di Lampung Tengah?


Tak salah, saya memilih (calon) bupati Mustafa ketika Pilkada Serentak akhir 2015 lalu. Soalnya, sebelum pemilihan dilakukan, sempat ada kabar, sayup-sayup, atau entahlah apa namanya, yang menyarankan tidak memilih calon bupati tertentu. Sudah, saya milih yang lain saja.

Nah, alasan saya memilih Pak Mustafa karena beliau adalah wakil bupati yang mendampingi bupati sebelumnya, Pak Pairin, jadinya beliau sudah punya pengalaman. Oh ya, Pak Pairin sekarang sudah jadi walikota Metro, lho. Asal tahu aja, Metro dulunya adalah bagian dari Lampung Tengah, sebelum memisahkan diri pada tahun 1999, menjadi kotamadya sendiri.

Dan, kebijakan yang dibuat Pak Mustafa akhirnya ada yang terbukti, meskipun hanya dirasakan sebagian. Ya, namanya aja tindakan dari sebuah program pemerintahannya, perlu waktu. Ditambah lagi, luas Lampung Tengah, menjadi wilayah terluas no.3 di Lampung, (masih kalah sama Lampung Timur yang dulunya masih jadi bagian dari kabupaten ini). Pantesan, ya, mau ke kecamatan lain, kadang perlu waktu 1 jam lebih....

Ya sudahlah, mengurus kabupaten yang luasnyaaa minta ampun, memang sulit. Apalagi ditambah dengan berbagai permasalahan, salah satu yang paling banyak, tentu saja jalan-jalan yang rusak! Karena itulah, rencana Pak Bupati Mustafa untuk membangun jalan kampung beraspal, tentu diacungi jempol, tentunya dana yang digunakan, diserahkan kepada pihak desa masing-masing.

Alasannya, menurut Jejamo.com ya apalagi kalau bukan kemudahan, sehingga mobilitas dan roda perekonomian di Lampung Tengah, tidak terganggu.

Kalau udah ada kebijakan seperti itu, saya setuju. Yeay! Saya bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, berkunjung ke rumah teman-teman dan tempat lainnya tanpa terganggu dengan jalan yang kasar dan berbatu. Soalnya, selama ini, pengaspalan jalan kampung hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, itupun dihubungkan dengan desa lain sebagai jalur alternatif.

Dan, akhirnya, kerja nyata dari Pak Mustafa, diperlihatkan hasilnya.

Dalam tahap pertama, jalan-jalan dekat sekolah mendapat prioritas untuk diaspal terlebih dahulu. Termasuk melewati kediaman saya dan keluarga. Bentuknya, melingkar seperti huruf U. Satu lagi, jalan lurus di dekat masjid TK, TPA, dan sekolah dasar negeri, sampai batas dusun lain.

Ya, gitu aja pengaspalan di sini. Di jalan-jalan bagian lain, semoga aja bisa menyusul....

Memang pengaspalan jalan kampung di desaku terlambat, jika dibandingkan dengan dua desa tetangga yang sebagian jalannya sudah diaspal. Tapi, bukankah itu lebih baik, ketimbang tidak sama sekali?

Sekarang beralih ke jalan raya. Masih teringat di pikiran saya, zaman SMP, dimana jalan desa Totokaton menuju Nunggalrejo, Kecamatan Punggur kayak kubangan air, jadi harus ekstra berhati-hati. Setelah diperbaiki, memang jalan dilalui dengan lancar. Kalau sekarang, bagaimana? Fyuh, kembali seperti dulu: rusak menyerupai kubangan!

Karena itulah, permasalahan jalan raya harusnya tak bisa dipandang remeh. Pemerintah Lamteng hendaknya harus memperhatikan permasalahan ini, termasuk bahan baku yang diperlukan untuk perbaikan jalan. Pastikan, bahan perbaikan jalan yang digunakan adalah bahan yang berkualitas, supaya jalan raya lebih baik dan awet ke depannya.

Ya semoga saja semua kecamatan bisa diperlakukan dengan adil, biar hasilnya bisa merata, dan tak ada adegan salah satu kecamatan yang merasa dianaktirikan gara-gara kurang diperhatikan, sehingga pilih pisah dengan kabupaten yang menaunginya.

Salam hangat dan sampai jumpa lagi!

Jumat, 09 Juni 2017

Menulis Artikel tentang Introvert, Jangan Takut!


Sumber: entrepreneur.com
Menulis artikel-artikel tentang introversi memang tak menjamin bisa jadi viral dalam waktu singkat. Iya lah, siapa yang mau baca artikel itu? Kebanyakan dari manusia di muka bumi ini memang ekstrovert, jadi mereka pasti merasa nyaman dengan sifat mereka, dan bahagia jika banyak orang yang selalu di sisinya, mengiringi setiap detik-detik kehidupan.

Namun, karena saya sendiri adalah seorang introvert, maka saya merasa perlu untuk menulis berbagai artikel tentang introversi, dalam berbagai sisi kehidupan. Hal-hal yang biasanya identik dengan ekstrovert, saya memberikan penjelasan agar yang introvert bisa dimengerti. Misalnya saja kopdar, vlog, dan aktivitas yang butuh tampil di muka umum dan pertemuan dengan banyak orang.

Oh ya, kalau mereka lihat artikel-artikel saya, pasti mereka menilai saya hanya berteori aja. Bo'ong ah kalo kayak gitu. Mana mungkin saya menulis kalau saya tidak merasakan pengalaman dan pembelajaran terlebih dahulu? Seandainya kalau artikel saya ditulis berpatokan dari referensi secara text book, pasti "rasa" dari tulisan saya nggak kayak biasanya. Kaku, dan terasa beda.

Cuma, saya kalau menulis, tak semua pengalaman dari pembelajaran saya tuliskan secara langsung, melainkan ditarik kesimpulan apa yang telah kualami, iyaa 'kan?

Nah, seperti yang sudah kujelaskan di beberapa artikel, karena pengalaman itulah, isi dari tulisan tak bisa dibilang "asal-asalan" dan meragukan. Terlebih, kalau sudah dipadukan dengan referensi ilmiah dari berbagai sumber, jadi isi tulisan tersebut akan semakin kuat dan berkualitas.

Oke, kembali lagi. Memang saya, akhir-akhir ini kok jadi getol menulis artikel soal introversi?

Ya, karena semua ini berawal dari kesalahpahaman.

Kesalahpahaman karena si introvert adalah pribadi yang tertutup, padahal itu kurang tepat sebenarnya. Sebenarnya, ini lebih kepada cara memperoleh energi mental dari lingkungan. Bisa sih bertahan di dalam dunia luar, namun bersifat terbatas. Setelah energinya terkuras, baru balik ke rumah untuk beristirahat, mengisi ulang energinya, bukan?

Ada anggapan-anggapan yang menyebutkan, si innies cenderung pemalu, pendiam. dan tidak pandai bersosialisasi. Memang benar, tapi tak semua orang cenderung seperti itu. Masih ada orang introvert yang mudah berteman dengan banyak orang, dan bisa percaya diri. Ya, semua ini, kembali lagi dengan kondisi pribadi masing-masing.

Tapi, secara umum, orang introvert kurang menyukai kegiatan yang butuh interaksi dengan banyak orang. Apalagi kalau disorot.... duuh, betapa tersiksanya! Makanya, saya menulis artikel-artikel yang biasa dilakukan oleh masyarakat, dan mengikuti perkembangan di era kekinian. Tapi, tentu dengan sisi lain dari seorang introvert.

Dan janganlah takut kalau menulis tentang hal itu, ya! Karena, saya yakin, masih ada orang senasib denganku yang butuh info itu, dalam berbagai sisi kehidupan. Sehingga, informasi tersebut bisa bermanfaat, dan kaum introvert bisa lebih bahagia serta tidak minder dengan temperamennya, bukan?

Dah, jangan khawatir lagi. Kaum introvert 'kan punya kelebihan nih, maka berkaryalah dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan bidang yang disukai, ok?

I'm introvert, and I'm proud of it!

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini